tirto.id - Gagalnya tim paduan suara gereja dari Kepulauan Riau (Kepri) berangkat ke Manokwari, Papua Barat viral di internet. Tim ini menyita perhatian publik karena mengungkapkan kekecewaan dengan bernyanyi di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, tempat mereka tertahan. Bagaimana kronologinya?
Sebelumnya, publik dibuat simpati dengan sebuah video yang menampilkan tim Paduan Suara Wanita (PSW) asal Provinsi Kepri bernyanyi. Dalam video itu, tim yang beranggotakan 27 peserta itu tampak sedang melantunkan nyanyi-nyanyian yang merdu.
Simpati publik muncul setelah mengetahui bahwa orang-orang dalam video itu adalah kontingen ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV yang diselenggarakan di Manokwari, Papua Barat. Mereka seharusnya bernyanyi dalam ajang tersebut. Namun jerih payah mereka gagal terlaksana akibat tertahan di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (24/6/2026).
Tak mau persiapan dan latihan mereka sia-sia, sebanyak 27 anggota tim paduan suara kemudian menampilkan nyanyian mereka di kawasan bandara. Video “penampilan” mereka lalu viral di media sosial.
Penyebab mereka gagal berlaga itu kemudian jadi perhatian warganet. Sempat muncul dugaan adanya penggunaan dana APBD yang tidak sesuai peruntukannya. Namun, setelah diusut, penyebab mereka gagal bertanding dalam ajang paduan suara bertaraf nasional itu dikarenakan kelalaian agen travel.
Kronologi Paduan Suara Gereja Kepri Gagal ke Pesparawi
Berdasarkan kronologinya, kontingan paduan suara gereja asal Kepri gagal ikut Pesparawi di Manokwari disebabkan kelalaian agen travel perjalanan. Biro perjalanan itu diduga telah lalai dalam menyiapkan tiket pesawat para kontingen.
Menurut Kepala Dinas (Kadis) Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kepri, Hendri Kurniadi, tim paduan suara itu semula telah ditunjuk sebagai kontingen Pesparawi untuk Provinsi Kepri. Pemerintah daerah kemudian memberikan bantuan berupa dana perjalanan dan akomodasi untuk tim tersebut.
Hendri menyebut Pemprov Kepri telah menyerahkan dana senilai Rp1,4 miliar kepada panitia Pesparawi melalui Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra). Pihak panitia, kata Hendri, kemudian menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mengalokasikan dana tersebut.
Pihak panitia pun benar mengalokasikan dana hibah Pemprov Kepri untuk keperluan perjalanan tim paduan suara dari provinsi itu. Mereka disebut melakukannya melalui agen travel perjalanan yang ditunjuk secara resmi.
Pihak panitia disebut mengalokasikan dana senilai Rp1 miliar kepada agen travel untuk mengurus tiket perjalanan tim paduan suara. Hendri menyebut hal ini ada dalam laporan yang diterima Pemprov Kepri.
Pihak panitia pun disebut Hendri sudah berulang kali memastikan kesiapan tiket pesawat bagi kontingen. Pihak agen travel, di sisi lain, juga selalu menyatakan bahwa tiket pesawat telah diamankan dan tersedia.
Setelah itu, pada 18 Juni 2026, tim paduan suara dari Kepri pun berangkat. Dari Batam, mereka disebut bertolak ke Jakarta.
Kemudian, pada 24 Juni 2026, tim hendak berangkat ke Manokwari melalui Bandara Soekarno-Hatta. Namun, ketika hendak melakukan check-in untuk penerbangan menuju Manokwari, mereka tertahan.
Rupanya, para kontingen tidak terdaftar dalam manifes penerbangan rute Jakarta-Manokwari pada hari itu. Padahal tim berangkat sesuai arahan dari pihak agen travel.
Hal itu kemudian membuat tim tak bisa berangkat ke Manokwari. Nasib mereka pun terluntang-lantung di bandara.
Hingga akhirnya, para kontingen sepakat untuk meluapkan kekecewaan mereka dengan tampil di kawasan bandara. Dalam momen itu, para kontingen menampilkan hasil kerja keras latihan mereka.
Setelah diusut, penyebab kegagalan tim perempuan Kepri berangkat adalah kelalaian pihak agen travel. Pihak biro perjalanan tidak menyiapkan tiket penerbangan menuju Manokwari untuk para kontingen.
Peserta PSW Kepri sebanyak 27 orang gagal menuju Papua Barat. Sebaliknya, tim Paduan Suara Pria (PSP) Kepri sebanyak 21 orang berhasil tiba di lokasi untuk mengikuti perlombaan Pesperawi Nasional 2026.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































