Menuju konten utama

Krakatau Steel Masih Punya Utang Restrukturisasi Rp28 Triliun

Saat ini status KRAS di perbankan adalah Kol 2 atau Kolektibilitas 2 di mana perseroan masuk dalam perhatian khusus atau tengah diawasi lembaga keuangan.

Krakatau Steel Masih Punya Utang Restrukturisasi Rp28 Triliun
Pekerja memotong lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis (7/2/2019). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) masih menanggung sisa utang restrukturisasi senilai 1,7 miliar dolar AS atau setara Rp28,34 triliun (kurs Rp16.673 per dolar AS).

Direktur Utama Krakatau Steel, Muhamad Akbar mengatakan, utang tersebut berasal dari perjanjian restrukturisasi yang pertama kali dilakukan pada tahun 2019.

“PT KS masih memiliki beban utang 1,7 miliar dolar AS, di antaranya pokok utang kurang lebih 1,4 miliar dolar AS, dan bunga kurang lebih 338 juta dolar AS,” katanya dalam dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi VI DPR RI, dikutip dari YouTube DPR RI. Rabu (1/10/2025).

Dengan tunggakan pembayaran pokok utang dan bunga yang masih tinggi tersebut, sambungnya, membuat perseroan tidak memiliki akses modal kerja ke perbankan.

Saat ini status KRAS di perbankan adalah Kol 2 atau Kolektibilitas 2 di mana perseroan masuk dalam perhatian khusus di BI Checking atau tengah diawasi lembaga keuangan.

“Sehingga Krakatau Steel tidak punya akses modal kerja ke perbankan. Dengan kata lain status Kol-nya masih Kol 2,” tambahnya.

Menurut Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Krakatau Steel, Daniel Fitzgerald Liman, dari total utang KRAS sebesar Rp28,34 triliun tersebut, sebanyak Rp12 triliun bersumber dari Bank Pemerintah, dan sisanya sekitar Rp16 triliun dari bank swasta.

“Jadi di bank pemerintah Rp12 triliun, sisanya di swasta. Tapi secara progress di beberpaa bulan terakhir sudah cukup lancar, jadi kita sudah mencapai suatu kesepakatan yang mungkin akan kita selesaikan dalam waktu singkat,” ujarnya.

Oleh karena itu, perseroan tengah mengupayakan suntikan modal kerja sebesar 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,34 triliun (kurs Rp16.691/dolar AS) dari Danantara.

Daniel menjelaskan bahwa permodalan tersebut dibutuhkan agar perseroran dapat mencapai profitabilitas yang berkelanjutan di masa mendatang.

“Harapan kami dana modal kerja ini bisa segera cair sebelum Desember 2025 sehingga pada tahun depan kita bisa meningkatkan produktivitas pabrik,” ucapnya.

Keterbatasan permodalan yang dialami Krakatau Steel juga tercermin dalam kinerja 2024, dengan pembukuan rugi bersih sebesar 148 juta dolar AS. Namun, menurut Daniel, sepanjang 2025 perseroan telah melakukan negosiasi dengan sejumlah bank pemerintah dan swasta sehingga diperoleh kesepakatan haircut yang diharapkan dapat difinalisasi tahun ini.

“Estimasi kami pada akhir tahun (2025), apabila (restrukturisasi utang) itu semua dilakukan, bisa ada pendapatan lain-lain dari sisi keuangan sehingga menghasilkan laba sekitar 392 juta dolar AS,” jelasnya.

Meski demikian, jelas Daniel, pertumbuhan pendapatan inti perseroan di tahun ini diperkirakan masih terbatas, sekitar 1 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan 2,2 miliar dolar AS pada 2022.

Dengan adanya pendanaan dari Danantara di tahun depan, perseroan membidik kenaikan produksi 120 ribu ton baja per bulan atau setara 1,3 juta ton per tahun.

Degan jalur pertumbuhan tersebut, proyeksi manajemen menunjukkan laba bersih bisa stabil di kisaran Rp1,50-1,6 triliun per tahun mulai 2026, dengan margin EBITDA naik dari hanya 0,7 persen pada 2025 menjadi 6,3 persen di 2026 dan mencapai 7,6 persen pada 2028.

“Memang signifikannya di 2026 ini kita sudah mencapai 6,3 persen (EBITDA), ini setelah ada modal kerja dari Danantara,” tegas Daniel.

Sementara itu, dalam kesimpulan rapat tersebut, Komisi VI DPR RI menyatakan mendukung pelaksanaan dan percepatan restrukturisasi utang PT Krakatau Steel dan penyediaan modal kerja oleh Danantara.

"Untuk penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan bahan baku bagi pengoperasian fasilitas produksi secara efisien dan keberlanjutan usaha PT Krakatau Steel," demikian petikan kesimpulan rapat tersebut.

Baca juga artikel terkait KRAKATAU STEEL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra