tirto.id - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) tengah mengupayakan suntikan modal kerja sebesar 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,34 triliun (kurs Rp16.691/dolar AS) dari Danantara.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Krakatau Steel, Daniel Fitzgerald Liman, menjelaskan bahwa permodalan tersebut dibutuhkan agar perseroran dapat mencapai profitabilitas yang berkelanjutan di masa mendatang.
Pasalnya, saat ini kondisi keuangan Krakatau Steel masih tertekan beban utang restrukturisasi 2019. Secara total, perseroan masih menanggung total kewajiban 1,7 miliar dolar AS, terdiri dari pokok 1,4 miliar dolar AS dan bunga serta denda 338 juta dolar AS.
Imbasnya, Krakatau Steel tidak mempunyai akses modal kerja ke perbankan dengan kata lain. “Harapan kami dana modal kerja ini bisa segera cair sebelum Desember 2025 sehingga pada tahun depan kita bisa meningkatkan produktivitas pabrik,” ujar Daniel dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (30/9/2025).
Keterbatasan permodalan yang dialami Krakatau Steel juga tercermin dalam kinerja 2024, dengan pembukuan rugi bersih sebesar 148 juta dolar AS. Namun, menurut Daniel, sepanjang 2025 perseroan telah melakukan negosiasi dengan sejumlah bank pemerintah dan swasta sehingga diperoleh kesepakatan haircut yang diharapkan dapat difinalisasi tahun ini.
“Estimasi kami pada akhir tahun (2025), apabila (restrukturisasi utang) itu semua dilakukan, bisa ada pendapatan lain-lain dari sisi keuangan sehingga menghasilkan laba sekitar 392 juta dolar AS,” jelasnya.
Meski demikian, jelas Daniel, pertumbuhan pendapatan inti perseroan di tahun ini diperkirakan masih terbatas, sekitar 1 miliar dolar AS. Angka tersebut jauh menurun dibandingkan 2,2 miliar dolar AS pada 2022.
Pasalnya, Krakatau Steel masih belum memiliki modal kerja segar untuk menggenjot produksi. Dengan adanya pendanaan dari Danantara di tahun depan, perseroan membidik kenaikan produksi 120 ribu ton baja per bulan atau setara 1,3 juta ton per tahun.
Degan jalur pertumbuhan tersebut, proyeksi manajemen menunjukkan laba bersih bisa stabil di kisaran Rp1,50-1,6 triliun per tahun mulai 2026, dengan margin EBITDA naik dari hanya 0,7 persen pada 2025 menjadi 6,3 persen di 2026 dan mencapai 7,6 persen pada 2028.
“Memang signifikannya di 2026 ini kita sudah mencapai 6,3 persen (EBITDA), ini setelah ada modal kerja dari Danantara,” tegas Daniel.
Adapun dalam kesimpulan rapat tersebut, Komisi VI DPR RI menyatakan mendukung pelaksanaan dan percepatan restrukturisasi utang PT Krakatau Steel dan penyediaan modal kerja oleh Danantara. "Untuk penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan bahan baku bagi pengoperasian fasilitas produksi secara efisien dan keberlanjutan usaha PT Krakatau Steel," demikian petikan kesimpulan rapat tersebut.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































