tirto.id - Penjaga gawang asal Palestina, Saleem Al-Ashqar dilaporkan meninggal dunia di Jalur Gaza akibat operasi militer Israel. Kabar duka tersebut disampaikan oleh Asosiasi Sepak Bola Palestina (Palestinian Football Association/PFA).
Dalam pernyataan resminya, PFA menyebut bahwa Al-Ashqar meninggal setelah terkena tembakan dari pasukan Israel yang mereka sebut sebagai pasukan pendudukan.
PFA juga mengaitkan kematian tersebut dengan situasi konflik berkepanjangan yang sejak Oktober 2023 telah menelan banyak korban dari kalangan olahraga Palestina, termasuk lebih dari seribu atlet.
Dikutip dari unggahan akun Instagram @trtworld pada 2 Juli 2026, diketahui jika Al-Ashqar baru menikah sekitar lima bulan sebelum kematiannya, dan istrinya dilaporkan tengah mengandung anak pertama mereka.
Reaksi solidaritas juga datang dari luar Palestina, termasuk dari klub sepak bola Chile, Deportivo Palestino, yang menyampaikan pernyataan resmi melalui media sosial.
Dalam pernyataannya, klub tersebut menyebut sangat berduka atas kematian penjaga gawang berusia 32 tahun itu dan menegaskan bahwa ia tewas akibat tindakan militer Israel.
“Club Deportivo Palestino sangat menyesalkan meninggalnya Saleem Al-Ashqar, seorang kiper Palestina berusia 32 tahun yang membela warna Khadamat Khan Younis dan yang kehilangan nyawanya di tangan tentara Israel. Hati kami hancur karena peristiwa seperti ini terus terjadi. Kami menuntut keadilan dan perdamaian untuk #SemuaOrang,” bunyi pernyataan tersebut di akun X @CDPalestinoSADP pada 2 Juli 2026.
Al-Ashqar diketahui pernah bermain untuk klub sepak bola Khadamat di Khan Younis.
Kronologi Tewasnya Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar
Dalam kronologi yang disampaikan oleh kerabatnya, Saadallah Abu Mousa yang diunggah IG @aljazeeraenglish 1 Juli 2026, disebutkan Saleem menjadi korban saat ia sedang menjalani aktivitas sehari-hari di luar rumah.
Menurut Abu Mousa, Saleem saat itu baru saja pulang dari tempat kerjanya dan sempat berhenti di sebuah toko untuk mengambil tabung gas yang telah diisi ulang sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke rumahnya.
Situasi berubah ketika kendaraan lapis baja militer Israel dilaporkan bergerak dari arah timur laut wilayah Kota Hamad dan kemudian terjadi penembakan di sekitar area tersebut.
Menurut kesaksian tersebut, tembakan dilepaskan di tengah kondisi warga sipil yang tidak bersenjata, dan salah satu peluru mengenai Saleem di bagian dada hingga menyebabkan ia meninggal dunia di tempat kejadian.
Keluarga menggambarkan Saleem sebagai sosok muda yang sangat dihormati di lingkungan tempat tinggalnya, dikenal sebagai pribadi yang baik dan disukai oleh masyarakat sekitar.
"Setiap hari, kita kehilangan antara lima dan tujuh warga sipil tak bersenjata yang tidak bersalah di rumah mereka." tutup Saadallah Abu Mousa.
Selain menyampaikan kabar duka atas kepergian Saleem, pihak Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) juga melaporkan bahwa dampak konflik terhadap dunia olahraga di wilayah tersebut sangat signifikan.
PFA menyebutkan bahwa ratusan fasilitas olahraga telah mengalami kerusakan, dengan jumlah mencapai sekitar 265 fasilitas, di mana 184 di antaranya dilaporkan hancur total.
Kerusakan tersebut mencakup stadion, lapangan latihan, serta infrastruktur olahraga lainnya yang sebelumnya digunakan oleh atlet dan komunitas olahraga lokal.
Berdasarkan pantauan TirtoID, hingga berita ini diturunkan belum ada pernyataan sikap resmi dari FIFA sebagai federasi asosiasi sepak bola internasional.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































