tirto.id - Teks khutbah Jumat 24 Juli 2026 bulan Safar membahas tema "Bukan Bulan Sial” sekaligus bisa menjadi acuan bagi para khatib salat jumat. Simak teks khutbah di artikel ini.
Salat jumat merupakan salah satu ibadah yang wajib ditunaikan kaum muslim laki-laki. Sementara itu, kaum muslim perempuan tidak diwajibkan atau hanya disunahkan.
Pelaksanaan salat jumat yakni, sesuai namanya, pada hari jumat. Tepatnya yakni waktu tengah hari atau pada waktu zuhur.
Dalam salat jumat, salah satu rukun yang harus dipenuhi adalah khutbah. Orang yang melakukan khutbah disebut khatib.
Saat menyampaikan khutbah, khatib dapat mengacu pada teks khutbah. Ini akan lebih memudahkannya agar penyampaian khutbah dapat runut dan dipahami jemaah.
Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 Bulan Safar: Bukan Bulan Sial
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Selama bulan Safar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah sehingga bisa menghidupkan bulan ini.
Namun, di kalangan masyarakat banyak yang meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau bulan bencana. Anggapan ini jelas tidak benar.
Hal ini akan turut disampaikan dalam teks khutbah jumat 24 Juli 2026. Berikut ini teks khutbah jumat dengan tema “Bulan Safar: Bukan Bulan Sial”
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ.أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ.
أَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ أَوَّلاً بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt. melalui ucapan “alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin”. Mari senantiasa kita ucapkan sebagai bentuk terima kasih kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita semua. Khususnya, nikmat iman dan sehat sehingga kita bisa terus konsisten dalam menunaikan ibadah dan kewajiban kita.
Semoga ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah Swt. Semoga kelak kita digolongkan sebagai hamba-hamba-Nya yang taat dan dikumpulkan ke dalam surga-Nya yang penuh nikmat. Aamiin.
Selawat serta salam mari kita haturkan kepada junjungan kita semua, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang telah mengajarkan kita kebenaran dan kebaikan melalui kebijaksanaan dan teladan-teladan baik.
Semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan semua umatnya. Semoga kelak kita mendapatkan syafaatnya di hari akhir. Aamiin.
Tak lupa, mari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benar takwa. Semoga Allah selalu menunjukkan jalan terbaik bagi kita menuju kebaikan melalui takwa.
Jemaah salat jumat yang dirahmati Allah,
Hari ini kita masih berada di bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharram. Di tengah masyarakat, masih terdapat keyakinan bahwa bulan ini adalah bulan sial, penuh musibah, dan membuat kita harus senantiasa waspada.
Tak ayal, sebagian orang mengaitkan bulan Safar dengan datangnya bala, penyakit, serta kesusahan. Bahkan, tak sedikit yang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, atau memulai usaha baru di bulan ini sebab takut terkena sial.
Namun, keyakinan semacam itulah yang harus senantiasa kita hindari. Sebab pada dasarnya, semua waktu adalah ciptaan Allah dan Allah tidak menciptakan sesuatu yang buruk secara mutlak.
Rasulullah saw. bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari judzam sebagaimana engkau menghindari singa.” (HR. Al-Bukhari)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Bulan Safar tidak berarti bulan sial atau bulan musibah. Safar bisa menjadi berkah bagi yang taat, juga sial bagi yang maksiat. Sebab kesialan bukan berasal dari nama bulan atau waktu-waktu tertentu, melainkan dari perbuatan manusia itu sendiri.
Allah Swt. berfirman:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ ٣٠
wa mâ ashâbakum mim mushîbatin fa bimâ kasabat aidîkum wa ya‘fû ‘ang katsîr
Artinya: “Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa segala keburukan dan musibah adalah akibat dari dosa dan kelalaiannya sendiri. Itu bukan karena hari atau bulan tertentu.
Maka, siapa saja yang taat kepada Allah, bulan apa pun akan menjadi berkah baginya. Sebaliknya, bagi orang yang durhaka dan terus bermaksiat, maka bulan apa pun bisa menjadi kesialan.
Jemaah salat jumat yang dimuliakan Allah,
Islam adalah agama yang memerdekakan akal dari belenggu mitos dan khurafat. Mari kita senantiasa menghindari kepercayaan-kepercayaan yang cenderung pada tahayul tersebut.
Dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu anhhuma, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.
Artinya: “Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, menganggap sial, maka ia telah berbuat syirik. Para Sahabat bertanya, lalu apakah tebusannya? Beliau saw. menjawab, hendaknya ia mengucapkan, ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu, dan tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)
Kita diajarkan untuk menyandarkan segala sesuatu kepada takdir Allah, bukan pada tahayul. Segala perbuatan kitalah yang membawa kita pada kesialan atau keberuntungan.
Dengan percaya pada takdir Allah, kita bisa senantiasa memaksimalkan usaha kita. Setelahnya, kita dapat menambahnya dengan doa. Keberhasilan atau kegagalan kemudian bukan disebabkan oleh bulan atau waktu-waktu tertentu, melainkan dari usaha kita atau memang karena jalan takdir.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنَا وَاِيَّاكُمْ بِالْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Pembaca bisa mengakses artikel mengenai khutbah jumat melalui tautan berikut ini:
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id




































