STOP PRESS! BMKG Cabut Peringatan Dini Tsunami Pukul 02.30 WIB

Kultum Quraish Shihab

Kewajiban untuk Melakukan Tabayyun

Reporter: M. Quraish Shihab
18 Juni, 2017 dibaca normal 3 menit
Kewajiban untuk Melakukan Tabayyun
Header Kultum Bersama Pak Quraish Al-Kabir
tirto.id - Istilah check and recheck cukup populer. Check and recheck dibutuhkan untuk mengonfirmasi kebenaran sebuah berita. Tentu saja itu sangat penting, apalagi di era informasi membanjiri kehidupan dari aneka sumber — koran, TV, media sosial berupa Twitter, Whatsapp, SMS, dsb. — yang umumnya punya tingkat kebenaran yang masih perlu diuji.

Agama pun memerintahkan untuk melakukan check and recheck dan dalam Islam itu dinamai tabayyun. QS. Al-Hujurat ayat 6 berpesan: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal."

Paling tidak ada dua hal yang perlu digarisbawahi oleh pesan ayat di atas. Pertama, pembawa berita dan kedua isi berita.

Orang yang menyampaikan kabar yang perlu di-tabayyun jika orang tersebut adalah jenis seorang fasiq, yakni yang aktivitasnya diwarnai pelanggaran agama; ia yang melakukan dosa besar atau sering kali melakukan dosa-dosa kecil dan pelanggaran budaya positif masyarakat. Sedang yang kedua menyangkut isi berita, khususnya berita yang penting. Ini karena kalau semua berita yang penting dan tidak penting harus diselidiki kebenarannya, maka akan tersita banyak sekali waktu untuk itu dan hasil yang ditemukan pun tidak banyak manfaaatnya. Bukankah beritanya tidak penting?

Dari sini, Islam menekankan perlunya menyeleksi informasi. Penyeleksian harus dilakukan oleh penyebarnya maupun penerimanya. Itu agar tidak terjadi dampak buruk bagi siapa pun.

Bahkan yang bukan fasiq pun, jika membawa berita penting, tetap saja perlu dilakukan tabayyun terhadapnya karena bisa jadi pembawa beritanya tidak memiliki daya ingat yang baik atau pemahaman yang jitu atau bisa jadi juga akibat bercampur aduknya informasi yang diterimanya sehingga menjadi kacau pikirannya. Itu pula sebabnya semakin banyak ucapan/berita yang disampaikan seseorang, semakin besar potensi kesalahan, paling tidak akibat lupanya.

Praktik menguji informasi semacam itu sudah lazim dalam ilmu hadis. Ulama-ulama hadis yang menerima informasi menyangkut apa yang dinisbahkan kepada Rasul Muhammad SAW., sangat memperhatikan hal di atas, lebih lagi kalau informasinya berkaitan dengan kepercayaan atau hukum agama.

Kalau ayat di atas memberi petunjuk menyangkut berita yang disampaikan oleh seorang fasiq, maka Q.S. An-Nur memberi tuntunan menyangkut berita negatif yang disampaikan menyangkut siapa yang dikenal sebagai orang baik. Memang, jika Anda mencurigai seorang yang dikenal baik, maka Anda berpotensi menganiayanya dan jika Anda membenarkan seorang fasiq tanpa menyeleksi kebenaran beritanya, maka anda berpotensi tertipu olehnya.

Pada masa Nabi SAW., ada sekelompok orang yang menyebarkan rumor tentang istri Nabi, Aisyah RA., yang cukup meresahkan Nabi, dan sahabat-sahabat karib beliau. Setelah sebulan rumor itu berkembang, barulah Allah menurunkan ayat-ayat yang membantah rumor tersebut sambil memberi pengajaran kepada umat bagaimana langkah yang harus ditempuh, lalu tabyyun, bila rumor tersebut menyangkut orang yang selama ini dikenal baik.

Allah berpesan dalam Q.S. An-Nur ayat 12 yang maksudnya, antara lain, menyatakan bahwa mestinya sewaktu kamu mendengar rumor itu, kamu selaku orang-orang mukmin dan mu’minah bersangka baik terhadap yang dicemarkan namanya karena yang dicemarkan namanya adalah bagian kamu sesama orang beriman. Pada ayat 24 dalam surat di atas, Allah memperingatkan bahwa orang-orang yang senang tersebarnya berita-berita yang mencemarkan dalam masyarakat Islam, mereka itu akan ditimpa siksa yang pedih. Mereka menganggap apa yang mereka beritakan itu sesuatu yang kecil, padahal di sisi Allah itu adalah sesuatu yang besar. Dinilainya kecil sehinggga diremehkan atau dianggap lelucon yang pada hakikatnya tidak lucu.

Di tempat lain Allah memperingatkan agar jangan mengikuti apa yang tiada pengetahuanmu tentang apa yang disampaikan, yakni jangan berucap apa yang engkau tidak ketahui, apakah itu benar atau salah. Jangan mengaku tahu apa yang engkau tak tahu atau mengaku mendengar apa yang engkau tidak dengar. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati yang merupakan alat-alat pengetahuan, semua alat itu masing-masing akan ditanyai tentang bagaimana pemiliknya menggunakan dan pemilknya akan dituntut mempertanggungjawabkan bagaimana ia menggunakannya. Begitu lebih kurang tuntunan al-Qur’an dalam Surat al-Isra ayat 34.

Di tempat lain, al-Qur’an juga mengecam orang-orang yang mendengar berita yang samar-samar tanpa meneliti kebenarannya. Sekaligus menganjurkan, antara lain, agar bertanya langsung kepada siapa yang berwenang perihal berta itu (Q.S. An-Nisa ayat 83).

Kewajiban untuk Melakukan Tabayyun

Dewasa ini karena maraknya informasi yang tidak diketahui kebenarannya, lebih-lebih yang sumbernya tidak jelas atau hanya berdasar “katanya dan katanya”, maka tuntunan-tuntunan di atas semakin wajib untuk diindahkan. Penulis mengenal seorang yang bermaksud baik, membela temannya yang difitnah, mengucapkan sesuatu yang tidak pernah diucapkannya.

Yang membela itu berkata: “Teman saya itu adalah manusia biasa. Manusia tempatnya lupa, mestinya ini tidak perlu diperbesar.”

Pembelaan ini dilakukan tanpa tabayyun. Ia dengan berucap demikian telah ikut menyebarkan kebohongan tanpa sengaja. Padahal kalau ia mengikuti tuntunan al-Qur’an, semestinya ia tabbayun menanyakan kepada temannya. Jika itu melakukan tabayyun, maka tidak mungkin pembelaannya akan seperti yang diucapkan di atas. Bahkan seandainya ia megikuti pesan al-Qur’an, paling tidak ia akan bersangka baik dengan berkata: “Saya ragukan kebenaran berita itu. Sebaiknya, kita tabbayun/check and recheck”.

Sebagian dari penyebab kesalahpahaman antar manusia adalah terabaikannya adab tabbayun itu. Dari sini pula semakin terbukti kebenaran ungkapan yang menyatakan bahwa: adab sebelum ilmu, bahkan adab adalah dua pertiga ilmu.

Kini semakin wajar kita bertanya: apakah yang diajarkan al-Qur’an dalam konteks hubungan manusia ini masih tersisa dalam masyarakat atau telah hilang? Apakah kita telah ikut menyebarkan aneka berita bohong dan fitnah serta tanpa sadar waktu kita telah tersita, bukan saja oleh yang tidak bermanfaat, tetapi justru yang merugikan kita, dunia dan akhirat? 

Wa Allah A’lam.

======

*) Naskah dinukil dari buku Yang Hilang dari Kita: Akhlak yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit

Kewajiban untuk Melakukan Tabayyun

Baca juga artikel terkait KULTUM QURAISH SHIHAB atau tulisan menarik lainnya M. Quraish Shihab
(tirto.id - mqs/zen)

Keyword