Menuju konten utama

Kesempatan Membuka Jalan bagi Talenta Penyandang Disabilitas

Pendidikan vokasional LSBA Bekasi membekali penyandang disabilitas dengan keterampilan praktis dan kepercayaan diri agar mandiri dan siap kerja.

Kesempatan Membuka Jalan bagi Talenta Penyandang Disabilitas
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf menghadiri Peresmian LSBA Bekasi. foto/DOk. KEmensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Akhir pekan kemarin, Arswendo Atmowiloto Centre for Performing Arts, LSPR Transpark Bekasi, riuh oleh suara tepuk tangan yang membahana.

Siswa London School Beyond Academy (LSBA) Bekasi, Marthalima Dwi Satryo, tampil berduet bersama Mr. Josef Radel di atas panggung. Bukan sekadar pertunjukan pembuka peresmian LSBA, penampilan itu menjadi gambaran tentang potensi yang tumbuh ketika seseorang diberi ruang dan kesempatan.

Fatma Saifullah Yusuf selaku Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, yang menyaksikan penampilan tersebut mengaku tersentuh.

“Melihat penampilan anak-anak kita tadi, hati saya sangat tersentuh. Mereka membuktikan bahwa di balik keterbatasan ada talenta luar biasa yang mekarnya hanya butuh satu hal: kesempatan,” ujar Fatma dalam sambutannya.

Kehadiran LSBA Bekasi menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pendidikan vokasional bagi remaja penyandang disabilitas. Kampus yang berada di lingkungan LSPR Transpark Bekasi ini tidak hanya menawarkan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan formal.

“Setelah pendidikan formal, kita harus menyiapkan anak-anak untuk menjadi lebih mandiri, bermartabat, dan bisa diterima di masyarakat,” kata Fatma.

Fatma menambahkan, kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terus berkembang. Karena itu, pendidikan lanjutan perlu diarahkan pada penguatan keterampilan praktis, kepercayaan diri, kemampuan sosial, hingga kesiapan memasuki dunia kerja.

Tak hanya itu, Fatma juga menggarisbawahi peran krusial para orang tua yang konsisten mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Perjuangan dan kasih sayang keluarga menjadi fondasi utama keberhasilan pendidikan vokasi ini.

Ia menyambut baik konsistensi Founder & CEO LSPR Institute, Prita Kemal Gani, serta Direktur LSBA & LSCAA, Associate Professor Chrisdina, yang menghadirkan pendidikan vokasional yang memberi ruang bagi anak-anak untuk mengenali dan mengembangkan potensinya.

“Pendidikan inklusif bukan hanya tentang materi yang diberikan di kelas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak ini memiliki kepercayaan diri, keterampilan, dan kesempatan untuk berkontribusi di masyarakat,” ujar Fatma.

Pandangan serupa datang dari Chrisdina. Ia mengatakan setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, LSBA tidak menerapkan pendekatan yang seragam kepada seluruh peserta.

“Pembelajaran di LSBA menekankan praktik langsung dengan program yang disesuaikan dengan kemampuan peserta,” ujar Chrisdina.

Para peserta tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga dibekali kemampuan komunikasi, sosial, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Pendekatan pembelajaran menggunakan metode fun learning, visual, dan auditori dengan memadukan aspek pedagogis, teknologi, dan emosional sesuai kebutuhan peserta.

LSBA Bekasi menyediakan empat bidang keterampilan, yakni Tata Boga, Kriya, Administrasi Perkantoran, serta Digital Desain dan Cetak.

Para peserta menjalani enam semester pembelajaran yang dilanjutkan dengan dua semester pelatihan kerja. Sebelum diterima, calon peserta yang merupakan lulusan SMA atau sederajat terlebih dahulu menjalani asesmen untuk menentukan kebutuhan dan program pengembangan yang sesuai.

Dengan kapasitas maksimal 70 peserta didik setiap angkatan, LSBA Bekasi dilengkapi sejumlah fasilitas praktik, antara lain Laboratorium Tata Boga, Sablon, Kriya, dan Kerajinan Tangan. Pembelajaran ini nantinya akan dilanjutkan ke dunia kerja.

Kementerian Sosial adalah salah satu instansi yang merangkul siswa dan lulusan LSBA. Saat ini, Selalu Ada Kopi, sebuah kafe disabilitas yang berada di Kantor Kementerian Sosial, telah menjadi ruang kerja profesional bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sebagai chef, barista, dan waiter sekaligus belajar mengelola operasional usaha.

Kolaborasi Kementerian Sosial, LSBA, dan berbagai pihak lain yang tergabung dalam DIFABELA DWP Kemensos membuktikan daya saing karya penyandang disabilitas di pasar terbuka. Produk kriya dan kuliner yang dihasilkan para siswa mampu memenuhi standar kompetensi industri. Kemensos berencana mengadaptasi pola pembelajaran dan pendampingan terstandar milik LSBA ke sentra-sentra rehabilitasi sosial di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam peresmian ini, hadir pula Penasehat DWP Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Shinta Maruarar Sirait. Fatma Saifullah Yusuf bersama Shinta Maruarar, founder dan CEO LSPR Institute Prita Kemal Gani, Kemal Effendi Gani selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesona Pribadi Sejahtera yang menaungi LSPR dan Ex Duta Besar Indonesia untuk Qatar H.E. Ridwan Hassan bersama-sama memotong pita menandai pembukaan LSBA Bekasi di Lantai 2 LSBA Bekasi.

Kehadiran LSBA Bekasi diharapkan memperluas ruang inklusi baru yang tidak hanya mengasah bakat artistik dan keterampilan kerja, tetapi juga menjamin akses lapangan kerja serta kemandirian ekonomi jangka panjang bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Bekasi dan sekitarnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis