Menuju konten utama

Pembatik Disabilitas Surabaya Unjuk Karya di Hari Batik Nasional

Sejumlah wanita disabilitas di Surabaya menunjukkan kemampuan mereka dalam membatik tulis di depan pengurus SERUNI KMP.

Pembatik Disabilitas Surabaya Unjuk Karya di Hari Batik Nasional
Ketua Bidang 3 SERUNI sekaligus Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial Fatma Saifullah Yusuf menyerahkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Kemensos kepada Rofiul dan Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Jawa Timur, Soelistyowati berupa kursi roda. (FOTO/dok.Kemensos)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dengan cekatan, jemari kecil Rofiul Malika menuntun canting menyusuri pola bunga di atas kain putih. Gerakannya luwes, mengikuti garis motif yang sudah tergambar.

Disabilitas fisik membuat ukuran tangan Rofiul lebih kecil dibanding perempuan dewasa pada umumnya. Namun hal itu tidak menghalanginya menekuni seni membatik.

Rofiul tidak sendiri. Ia belajar bersama sembilan perempuan penyandang disabilitas lainnya di galeri Dewi Saraswati Batik, Surabaya, Jawa Timur. Sudah setahun terakhir mereka mendalami batik tulis, dan hasil karyanya kini telah dipasarkan ke berbagai daerah.

Menyambut Hari Batik Nasional (HBN) 2026 yang jatuh pada 2 Oktober, para pembatik ini menunjukkan kemampuan mereka di hadapan tamu.

Wajah Rofiul dan rekan-rekannya tampak cerah ketika rombongan Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (SERUNI) Kabinet Merah Putih (KMP) tiba di galeri.

"Saya senang sekali, tapi juga deg-degan karena mau dikunjungi ibu-ibu SERUNI," ujar Rofiul, Rabu (07/10/2026).

Sebelum mendatangi Dewi Saraswati Batik, rombongan SERUNI KMP lebih dulu singgah di Galeri Batik Jawa Timur. Di sana mereka melihat sekaligus membeli beragam produk UMKM, mulai dari sepatu, cangkir keramik, aneka kain batik, hingga produk Difabela buatan perajin disabilitas.

Rombongan terdiri dari sejumlah pengurus, antara lain Ketua Bidang Usaha Baru Dekranas Metty Herindra, serta Ketua Bidang 3 SERUNI yang juga Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf. Turut hadir Wakil Ketua Bidang 3 SERUNI Shinta Maruarar Sirait dan Wakil Ketua Bidang 6 SERUNI Tina Maman Abdurrahman. Mereka didampingi Arumi Bachsin, istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak.

Di Dewi Saraswati Batik, kegiatan dibuka dengan penyerahan simbolis bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) dari Kemensos berupa kursi roda. Bantuan itu diterima Rofiul dan Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Provinsi Jawa Timur, Soelistyowati.

Kemensos juga menyalurkan bantuan kewirausahaan berupa alat dan bahan membatik, yakni 500 meter kain, canting, malam, dan pewarna pakaian. Nilai seluruh bantuan mencapai Rp82.760.000.

"Sekarang dibantu lagi buat modal," ujar Fatma.

Usai penyerahan bantuan, rombongan meninjau tahapan pembuatan batik, mulai dari menggambar motif di kain putih, mencanting, pelorotan, hingga pewarnaan. Mereka juga memborong sejumlah kain batik karya para perajin perempuan penyandang disabilitas tersebut.

Perjalanan berlanjut ke Kampung Batik Okra di Kranggan, tempat warga memberdayakan diri lewat batik demi menopang ekonomi keluarga. Kekhasan batik di sini terletak pada motifnya yang terinspirasi bentuk tanaman okra.

Kampung ini berdiri pada 28 Desember 2022 atas inisiatif Ketua RW 1 Pancasila, Kranggan, Bubutan, Surabaya, Ridi Sulaksono. Batik buatan warga telah dipasarkan ke berbagai daerah, bahkan hingga mancanegara. Setiap motif hanya diproduksi dalam satu lembar.

"Kita produksi satu, hanya satu, tidak ada dua," ungkap Ridi di hadapan rombongan SERUNI.

Rombongan kemudian menghadiri puncak peringatan HBN 2026 di Monumen Kapal Selam Surabaya. Acara yang digelar Yayasan Batik Indonesia (YBI) ini mengusung tema "Batik Berlayar".

Ketua Umum YBI Gita Gilangkencana menyebut HBN sebagai momentum bagi semua pihak untuk menjaga batik agar tetap punya masa depan.

"Karena bagi kami, melestarikan batik bukan berarti membuatnya berhenti di masa lalu. Melestarikan berarti memastikan batik punya masa depan. Itulah semangat yang kami bawa tahun ini," jelas Gita.

Menurut Gita, Surabaya dipilih sebagai tuan rumah karena Jawa Timur memiliki kekayaan batik yang luar biasa. Lewat perayaan ini, YBI ingin mengenalkan kekayaan itu kepada khalayak yang lebih luas.

Sebagai bagian acara, batik khas Jawa Timur "berlayar" menyusuri Sungai Kalimas dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam. Perahu-perahu yang mengangkutnya dihiasi beragam ornamen batik.

"Mudah-mudahan dengan cara-cara seperti ini, semakin banyak orang yang merasa bahwa batik bukan sesuatu yang jauh dari mereka, tetapi merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari," kata Gita.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai perayaan ini sebagai bentuk penghargaan bagi seluruh pembatik di tanah air.

"Yayasan Batik Indonesia dan Puncak Hari Batik Nasional 2026 telah membuktikan bahwa batik adalah karya dari seluruh pengrajin batik dari Sabang sampai Merauke. Mereka semua berhak untuk diapresiasi karyanya dan kita lestarikan bersama," ucap Emil.

Metty Herindra, yang hadir mewakili Ketua SERUNI KMP Selvi Gibran Rakabuming, juga menyampaikan apresiasi. Ia menafsirkan tema "Batik Berlayar" sebagai pesan agar batik terus melintasi zaman, menjangkau semua lapisan masyarakat, dan menjadi bagian dari keseharian.

"Batik juga harus terus berkembang melalui kreatifitas dan inovasi dengan tetap menjaga akar budaya, makna, serta nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Batik harus terus melangkah ke panggung dunia, membawa identitas dan kebanggaan Indonesia, sekaligus membuka peluang kesejahteraan bagi para seniman dan perajin batik," ujar Metty.

Karena itu, Metty mengajak semua pihak bergandengan lintas sektor untuk merawat dan melestarikan batik sebagai identitas bangsa.

"Mari terus memberikan ruang dan dukungan kepada para seniman dan perajin batik untuk dapat terus hidup, tumbuh dan juga berkembang," ucapnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis