Kerja Kemanusiaan Ahmadiyah untuk Sesama

Oleh: Mawa Kresna - 4 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Meski menjadi komunitas Islam di Indonesia yang dianiaya sejak 2001, ia tak meredupkan niat Ahmadiyah untuk berkarya bagi sesama.
tirto.id - Edi Brokoli sore itu punya tugas ganda. Ia harus menjadi pembawa acara sekaligus pembicara dalam peluncuran Give Blood, sebuah aplikasi yang menghubungkan pendonor dan orang yang butuh darah, di lapangan PMI Kota Tangerang, Sabtu, 26 Mei 2018.

Edi datang sekeluarga. Ayahnya dan dua saudaranya ikut. Keluarga Edi menjadi salah satu keluarga percontohan untuk pendonor darah dan aktif dalam Gerakan Donor Darah Nasional. Sejak usia 17 tahun, ia sudah diajak ayahnya untuk donor darah.

“Kalau ayah sudah lebih dari seratus kali, sampai diundang ke Istana oleh presiden,” kata mantan vokalis band Harapan Jaya itu, yang ikut beberapa tur kampanye yang dibuat oleh Give Blood.

Sore itu ada lima ratusan orang yang hadir. Maka, dalam sehari, ada lebih dari 500 kantong darah yang terkumpul. Sebagian besar yang ikut donor darah adalah warga yang tergabung dalam organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Salah satunya Agus, pemeluk Ahmadiyah asal Tangerang. Ia tidak pernah berpikir soal keyakinannya saat mendonorkan darah. Yang ia pikirkan adalah bisa memberikan sumbangsih untuk kemanusiaan.

“Enggak pernah begitu. Semua orang kan sama di mata Allah. Tidak perlu dibedakan. Apalagi kalau ada yang membutuhkan pertolongan darah seperti ini,” kata Agus usai mendaftar donor darah.

Gerakan donor darah yang dikerjakan oleh JAI hampir merata di kota-kota di Indonesia, dan ini hanya sebagian kecil dari kerja nyata mereka untuk kemanusiaan. Bahkan hanya bagian kecil dari masalah kebutuhan darah di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada 2018, Indonesia membutuhkan sekitar 5,1 juta kantong darah. Sampai saat ini baru terpenuhi 4,2 juta kantong. Masih butuh 900-an ribu kantong darah. Ini tentu miris jika mengingat sembilan persen ibu melahirkan meninggal karena kekurangan darah.

Jumlah ini juga tentu tidak bisa dipenuhi seluruhnya dengan donor darah yang diselenggarakan Ahmadiyah. Dalam sekali donor dasar saja, rata-rata hanya bisa mengumpulkan 500 kantong.

Yendra Budiana, juru bicara JAI, mengatakan gerakan ini tak cuma bisa dilakukan oleh mereka. Harus ada banyak pihak yang terlibat. “Kami hanya bagian kecil dari gerakan ini. Orang sebenarnya bisa datang langsung ke PMI untuk donor darah, tidak harus ada event seperti ini. Karena setiap saat itu ada orang yang membutuhkan,” katanya.

Tidak hanya donor darah, JAI mempelopori gerakan donor mata. Pada 2017, mereka sudah memiliki 10 ribu pengikut Ahmadiyah di seluruh Indonesia yang siap mendonorkan mata. “Kami juga membuat donor mata, lagi-lagi kami katakan, ini untuk kemanusiaan,” ungkap Yendra.


'Love for All, Hatred for None'

Aksi donor darah yang dibikin Ahmadiyah kali ini berdekatan dengan kasus kekerasan terhadap anggotanya pada 19 Mei 2018 di Nusa Tenggara Barat. Ada seratusan pengikut JAI yang diusir dan rumahnya dihancurkan. Jauh sebelumnya, sudah banyak rentetan kasus kekerasan yang dialami Ahmadiyah.

Meski demikian, kasus-kasus tersebut tidak menyurutkan niat JAI untuk terus berbuat kebaikan untuk kemanusiaan. Kerja kemanusiaan itu sesuai jargon Ahmadiyah: Love for All, Hatred for none.


Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Abdul Basith, mengatakan jargon itu tidak hanya sebatas pencitraan, tetapi memang konsisten dilakukan oleh JAI. “Kami tidak mau memberikan ruang untuk kebencian. Kami tetap fokus, kerja untuk kemanusiaan. Tentu kasus di Lombok juga jadi perhatian kami,” kata Basith, 26 Mei 2018.

Basith mengatakan jargon ini sekaligus sebagai cara pandang dan hidup pemeluk Ahmadiyah. Tentu sikap ini berdasarkan pada ajaran yang dibawa oleh Islam. Sesuai dengan kata Islam yang berarti damai.


Bahkan, dalam keseharian, seorang muslim mengucapkan salam, yang berarti keselamatan dari Allah melimpahi kalian. Ucapan itu menjadi doa bagi siapa saja agar selalu mendapatkan kedamaian. Maka, Basith justru heran jika ada seorang yang mengaku beragama Islam tetapi justru membawa pesan kebencian.

Misalnya, dalam bom di tiga gereja Surabaya pada medio Mei lalu, Basith masih tidak habis pikir ada orang yang menebar kematian. Pun alasan mendirikan khilafah yang mendasari semangat para pendukung ISIS di Indonesia.

“Teroris, misalnya, mereka ini bukan menebarkan perdamaian tapi malah menebar teror. Karena itu kami katakan teroris itu tidak beragama. Islam tidak mengajarkan mengebom rumah ibadah orang lain,” ujar Basith.


Infografik HL Indepth Minoritas


Menjaga Indonesia

Dalam struktur Ahmadiyah, dikenal kekhilafahan, tetapi konsep ini berbeda dari konsep negara Islam yang dideklarasikan ISIS. Kekhalifahan dalam Ahmadiyah lebih mirip struktur organisasi yang berpusat di London, tempat pusat organisasi Ahmadiyah sekarang.

“Lokasi khilafah ini berpindah-pindah menyesuaikan di mana khalifah berada. Kalau sedang di Amerika, ya di Amerika pusatnya,” kata Basith.

Ajaran Ahmadiyah didirikan sejak 27 Mei 1908 atau sudah berumur 110 tahun. Bahkan, saat ini, Ahmadiyah sudah ada di 210 negara di dunia. Meski demikian, tidak ada niatan untuk mendirikan negara Islam sendiri. Mereka menjadi khilafah spiritual yang jauh dari kepentingan politik dan kekuasaan.

Sebaliknya, warga Ahmadiyah justru diminta untuk mencintai tanah air dan negara tempat mereka tinggal. Mereka juga diminta untuk berkontribusi pada masyarakat tempat mereka tinggal.


“Di Indonesia, Ahmadiyah sudah ada sejak 1925. Kami tidak ada niat bikin negara sendiri. Di Indonesia, kita sudah final dengan Pancasila dan NKRI. Kita tidak ada masalah dengan itu. Kan ada perintah agar untuk mencintai tanah air, semua umat Ahmadiyah di dunia melakukan itu,” katanya.

Menurut Basith, Pancasila sudah selaras dengan konsep Ahmadiyah. Ajaran Ahmadiyah berfokus pada urusan akhlak dan kerohanian umat. Hal itu terkandung dalam sila pertama dan kedua dalam Pancasila.

“Islam itu tidak membutuhkan kekuasaan. Islam mengajar hal-hal seperti kejujuran, harus amanah, harus memperhatikan hak-hak orang lain. Kita tidak butuh kekuasaan untuk bisa salat lima waktu. Di Indonesia, ada Pancasila yang menjamin kita bisa beribadah sesuai keyakinan. Kami tidak butuh kekuasaan. Justru sebaliknya, kami ingin menjaga Indonesia,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait AHMADIYAH atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan