Al-Ilmu Nuurun

Abdus Salam, Ilmuwan Ahmadiyah yang Diabaikan Negara Muslim

Oleh: Arman Dhani - 17 Juni 2017
Dibaca Normal 4 menit
Sekalipun diabaikan, dedikasi fisikawan teoritik ini tak diragukan lagi bagi kemajuan ilmu pengetahuan, dunia fisika untuk ilmuwan dari negara-negara berkembang, Pakistan, dan Islam.
tirto.id - Bisakah kita mencintai negara sendiri yang secara terbuka menganggap keyakinan kita sesat?

Pria itu Abdus Salam. Di hadapan para tamu dan undangan penghargaan Nobel, ia membuktikan bahwa ia bisa mencintai negaranya, Pakistan, dengan demikian besar hati. Pada 10 Desember 1979, lima tahun setelah pemerintahan Jenderal Zia-ul-Haq menetapkan Ahmadiyah sebagai ajaran non-Islam, Abdus Salam mengucapkan dalam bahasa Urdu bahwa ia mempersembahkan penghargaan Nobel berkat penemuannya dalam bidang fisika untuk Pakistan.

Siapakah Abdus Salam dan mengapa ia penting?

Mohammad Abdus Salam lahir pada 29 Januari 1926 di Jhang, Punjab, daerah pendudukan Inggris India. Ia ilmuwan yang menekuni 'theoretical physics'. Bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg, Abdus Salam menemukan teori apa yang disebut 'Electroweak' pada 1968, yang kelak oleh panitia Nobel dianggap temuan penting, membantu umat manusia memahami jagat raya, sebelas tahun kemudian. Temuan Salam baru-baru ini juga dianggap mengonfirmasi keberadaan 'partikel Tuhan' yang jadi perdebatan beberapa tahun lalu.

Apa itu electroweak?

Handhika S. Ramadhan, Ph.D, staf pengajar Departemen Fisika Universitas Indonesia, dapat menjelaskan konsep teori itu kepada kita, yang mayoritas awam tentang ilmu fisika sekalipun manfaatnya sangat besar bagi kehidupan sehari-hari. Penjelasan Handhika kepada Tirto bisa memberi konteks dan besaran dampak temuan Abdus Salam cs untuk pengetahuan.

Sebelum membahas electroweak, Handhika mengajak pembaca Tirto memahami apa itu Fisika Teoretik. Bidang yang digeluti oleh Abdus Salam adalah cabang fisika yang memodelkan fenomena-fenomena alam dengan menggunakan persamaan matematika.

Fisikawan teoretik tidak bekerja dengan melakukan suatu eksperimen di laboratorium, melainkan di atas kertas (dan komputer), menggunakan alat bantu matematika. Hasil yang diperoleh biasanya teorema, hukum, solusi persamaan matematika, ataupun nilai numerik yang akan dikonfirmasi kebenarannya secara ilmiah oleh eksperimen (dilakukan oleh fisikawan eksperimentalis).

“Gambaran sederhananya, karakter fisikawan teoretik dapat Anda lihat pada karakter Dr. Sheldon Cooper di sitcom The Big Bang Theory,” kata Handhika.

Sejak Maxwell memformulasikan hukum-hukum yang mengatur fenomena elektromagnetik murni secara matematis, para ilmuwan terobsesi untuk menerapkan hal serupa pada fenomena alam lain. Einstein merumuskan Teori Relativitas Khusus (1905) dan Teori Relativitas Umum (1915), plus dengan metode matematis, tanpa melakukan eksperimen apa pun.

Sejak paruh kedua abad 20, eksperimen di bidang fisika partikel menuntut kolaborasi yang besar, alat-alat dan laboratorium yang semakin canggih, dan tentu biaya yang semakin membengkak. Hal ini memicu polarisasi bidang fisika teoretik vs eksperimentalis.

Karena semakin tinggi tingkat kesulitan melakukan eksperimen, secara alami, seorang fisikawan energi akan memilih fokus bekerja di bidang teori (memprediksi hukum alam dengan matematika) atau bidang eksperimental (membuktikan teori-teori fisika yang digagas oleh kaum teoretis tadi dengan menggunakan laboratorium dan alat eksperimen yang canggih dan mahal).

Setelah mengerti apa itu Fisika Teoretik, menurut Handhika, kata kunci untuk memahami electroweak (atau elektrolemah) adalah unifikasi. Unifikasi ialah tema sentral dalam kajian fisika, mungkin sejak zaman Isaac Newton, meski secara serius topik unifikasi ini baru mulai digeluti sejak abad 20.

Konsep unifikasi kurang lebih merupakan metode “reduksionis” kaum fisikawan memandang alam. Handhika menjelaskan bahwa menurut Aristoteles, hukum yang mengatur benda langit (mekanika selestial) berbeda dengan hukum yang mengatur benda bumi (mekanika terestrial). Gerak alami benda langit adalah melingkar (orbit planet, matahari, bulan), sedangkan gerak alami benda bumi adalah jatuh ke tanah.

“Isaac Newton dengan teori gravitasinya menunjukkan bahwa mekanika selestial dan terestrial diatur oleh hukum gerak yang sama,” katanya.

Lantas di mana pentingnya temuan Abdus Salam cs?

Handhika menjelaskan bahwa yang menyebabkan planet mengorbit dan batu jatuh ke tanah adalah gaya yang sama: gravitasi. Dalam hal ini, gravitasi telah mengunifikasi mekanika langit dan bumi.

Hal sama terjadi pada fenomena kelistrikan dan kemagnetan. Kedua fenomena ini secara terpisah telah diobservasi dan diteliti sejak zaman Yunani kuno. Tetapi tidak ada satu pun yang menyadari kaitan antara keduanya.

Pada abad ke-19, James Clerk Maxwell memformulasikan empat persamaan matematika (dikenal dengan persamaan Maxwell), yang menunjukkan medan listrik yang berubah terhadap waktu mampu menginduksi medan magnet, dan sebaliknya.

“Inilah unifikasi kedua dalam sejarah fisika, unifikasi antara fenomena kelistrikan dan kemagnetan; bahwa keduanya tidak dapat lagi dipandang sebagai dua fenomena yang terpisah melainkan sebagai satu kesatuan: fenomena elektromagnetik,” katanya.

Sejak Maxwell, para fisikawan menjadi terobsesi untuk menggunakan matematika dalam mengunifikasi fenomena-fenomena alam yang secara sekilas tampaknya saling tidak berkaitan tetapi sejatinya diatur oleh persamaan matematika.

Pada awal abad 20, dengan berkembangnya fisika kuantum, para fisikawan menuju pada kesimpulan bahwa ada empat gaya (interaksi) fundamental di alam: 1) gravitasi, 2) elektromagnetik, 3) nuklir kuat, dan 4) nuklir lemah. Dua interaksi pertama sudah lazim kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dua yang terakhir hanya dapat diobservasi secara signifikan pada level sub-atomik.

Gaya nuklir kuat adalah gaya yang bertanggung jawab mengikat nukleus (inti-inti atom) dari disintegritas. Gaya nuklir lemah adalah gaya yang bertanggung jawab pada fenomena peluruhan radiasi sinar beta. Belajar dari keberhasilan unifikasi Newton dengan teori gravitasinya dan Maxwell dengan teori elektromagnetiknya, para fisikawan mencoba untuk mengunifikasi keempat gaya fundamental tersebut.

“Di sinilah peran Salam dan Glashow menjadi signifikan. Mereka menggagas (secara independen) suatu model matematika yang mengunifikasi elektromagnetik dengan nuklir lemah (weak force). Teori mereka inilah yang dinamakan sebagai teori Electroweak (electromagnetic and weak forces),” ujar Handhika.

“Teori matematika ini terbukti kebenarannya, sepuluh tahun kemudian, dengan ditemukan partikel-partikel boson W dan Z di FermiLab. Boson W dan Z adalah partikel-partikel yang memerantarai interaksi elektrolemah tersebut, analog seperti foton (cahaya) yang memerantarai interaksi elektromagnetik,” tambah Handhika.

infografik Mohammad Abdussalam

Sumbangsih Salam Diabaikan oleh Negerinya

Peran Abdus Salam dinilai sangat fundamental dalam pengembangan fisika modern.

Pervez Hoodbhoy, ilmuwan brilian Pakistan dalam bidang fisika nuklir dan matematika, mengatakan bahwa selain temuan tentang teori Electroweak, Abdus Salam menyelesaikan masalah mengganggu dalam “overlapping divergences”.

Abdus Salam juga memiliki minat serius dalam bidang teori medan kuantum seperti 'renormalizability,' Teori gauge non-abelian, dan Kiralitas. Salam termasuk pioner yang mengaplikasikan 'group theory' untuk mengklasifikasi partikel-partikel yang telah ada dan memprediksi yang baru.

Hoodbhoy mengapresiasi dan menganggap bahwa pengabdian Abdus Salam tak perlu diragukan bagi ilmu pengetahuan, Pakistan, dan Islam.

Salam menghabiskan nyaris seluruh hidupnya untuk fisika, mengerahkan seluruh materi yang ia punya untuk mengembangkan kualitas pendidikan di Pakistan, dan tetap beragama serta mempromosikan nilai-nilai Islam meski keyakinannya sebagai muslim Ahmadiyah dianggap “bukan Islam” oleh negaranya, dan karena itu dinilai “sesat” oleh banyak orang.

Bahkan, seusai Salam meninggal pada 21 November 1996 pada usia 70 tahun di Oxford, Inggris, ia masih mewariskan banyak hal penting dalam bidang pendidikan dan pengembangan fisika.

Warisan ini yang kemudian membuat Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif mengusulkan untuk memulihkan nama baik dan citra Abdus Salam di dalam negeri.

Setelah bertahun-tahun diabaikan, dipinggirkan, nama Abdus Salam akan diabadikan untuk nama beasiswa dan pusat pengembangan ilmu fisika di Pakistan. Selama hidupnya, ia berjasa menjadi penasihat bidang pengetahuan untuk Ayub Khan, presiden kedua Pakistan, dan menginisiasi pembentukan SUPARCO (Space and Upper Atmosphere Research Commission) dan PAEC (Pakistan Atomic Energy Commission).

Komitmen dan obsesi Abdus Salam dalam bidang Fisika Teoritik adalah usaha untuk memberikan pemahaman yang lebih baik bagi umat manusia. Ia membentuk International Centre for Theoretical Physics (ICTP), organisasi yang berkomitmen membantu ilmuwan dari negara berkembang untuk memperoleh akses terbaik bagi penelitian serta mengembangkan ilmu pengetahuan untuk negara mereka. Organisasi ini bekerja di bawah pemerintahan Italia, UNESCO, dan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Tapi seluruh jasa ini tidak lantas membuatnya diterima oleh umat muslim. Hingga hari ini pengikut Ahmadiyah di Pakistan masih dianggap sesat, dituduh dan dipaksa bukan bagian dari Islam. Salam pernah menyatakan protes ketika pemerintahan Jenderal Zia-ul-Haq mendiskriminasi Ahmadiyah pada 1974 dengan keluar dari komite sains nasional Pakistan.

Kerja-kerja keilmuwannya dihambat. Ia pernah dilarang oleh Arab Saudi, negara berideologi Wahabi, karena keyakinannya sebagai muslim Ahmadiyah. Negara-negara kaya minyak di Timur Tengah menolak memberikan bantuan ke ICTP, lembaga yang dibangun Salam. Hanya dua negara, yakni Kuwait dan Iran, yang sempat memberi bantuan kepada ICTP.

Pada 2014, makam Abdus Salam, “Muslim pertama yang menerima hadiah Nobel”, pernah dirusak.

Kebencian terhadap Ahmadiyah, dengan hukum diskriminatif seperti “penodaan agama” di Pakistan, telah banyak memakan korban, dari hukuman pidana hingga hukuman mati, memicu kelompok Islamis radikal dari beragam faksi main hakim sendiri dengan aksi penembakan maupun bom bunuh diri. Abdus Salam, sang pahlawan bagi ilmu pengetahuan dan negara muslim dan Pakistan, tak luput dari abrasi kebencian itu.

Jangan sampai Indonesia meniru Pakistan.

============

Untuk konteks politik di Pakistan yang melanggengkan pengganyangan terhadap minoritas agama, sila baca:

Sepanjang Ramadan, redaksi menayangkan naskah-naskah yang mengetengahkan penemuan yang dilakukan para sarjana, peneliti, dan pemikir Islam di pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kami percaya bahwa kebudayaan Islam—melalui para sarjana dan pemikir muslim—pernah, sedang, dan akan memberikan sumbangan pada peradaban manusia melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Naskah-naskah tersebut akan tayang dalam rubrik "Al-ilmu nuurun" atau "Ilmu adalah cahaya".

Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Arman Dhani
Penulis: Arman Dhani
Editor: Fahri Salam