Juru Selamat dari Batavia, Kisah Pemimpin Millah Abraham

Oleh: Maulida Sri Handayani - 4 Juni 2018
Dibaca Normal 5 menit
Apa yang penganut Millah Abraham imani adalah jalan kebenaran. Tapi mereka tak memaksa pihak lain dan pasrah pada takdir Tuhan.
tirto.id - Gelap. Itu yang diyakini Ahmad Mushaddeq tentang masa kini. Setiap peradaban punya usia 7 abad, dan pada abad ke-21 ini umat manusia dalam ambang fajar zaman baru. Yang gelap akan segera berganti terang.

“Semua dimulai ketika Irak, yang jadi pusat kebudayaan Islam, hancur. Semenjak abad ke-13 sudah tidak ada lagi khilafah. Umat Islam seperti domba tanpa penggembala. Tidak ada yang melindungi, [sehingga] jatuh ke bangsa-bangsa yang tidak punya Tuhan dan dijajah."

Saat mengatakan kalimat itu, kening Mushaddeq berkerut, volume suaranya meningkat, kedua bola matanya sesekali bergerak cepat ke kanan-kiri, lalu kembali menatap lekat orang di hadapannya. Nyaris tanpa jeda, Mushaddeq mengutarakan apa yang menurutnya minus: peradaban umat Islam secara global dan keadaan di Indonesia.

“Akui bahwa kita sedang di bawah. Sudah saatnya kita mendiskusikan apa yang terbaik untuk umat Islam,” tensi bicaranya menurun lagi.

Bagi Mushaddeq, ia tak sedang menodai agama Islam seperti bunyi vonis yang dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada 7 Maret 2017. Apa yang selama ini ia utarakan kepada para pengikutnya, menurut Mushaddeq, ada dalam Alquran dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Termasuk soal kontroversial seperti tidak menjalani ritual-ritual yang umumnya dilakukan muslim.

Karena apa yang diyakininya, ia tak keberatan dianggap bukan bagian dari Islam. “Tidak masalah karena kami bukan golongan mainstream,” katanya.


Ahmad Mushaddeq lahir sebagai anak Betawi di Jakarta, 74 tahun lalu, dan diberi nama Abdussalam. Ayahnya meninggal saat ia bayi. Tak pernah sekolah agama dan tak pernah pula bergumul dengan guru-guru di pesantren, Salam—nama panggilan lama Mushaddeq—melewatkan sekolah menengah di sekolah calon guru dan kuliah di sekolah tinggi olahraga.

Sebelum menjadi pegawai negeri sipil dan melatih para atlet bulutangkis, Salam mencari penghidupan dengan menjahit pakaian dan berbisnis jual-beli tanah. Sejak menikah, menurut sang istri Waginem, Salam sudah menunjukkan ketertarikan pada agama. Bersama istri yang menjadi guru dan kepala di sekolah Al-Azhar itu, ia kerap mengikuti pengajian imam Masjid Al-Azhar, Buya Hamka.

Namun, Salam tak puas. Berpindah dari satu pengajian ke pengajian lain, akhirnya ia meniti ayat-ayat dalam kitab suci itu sendirian, siang dan malam. Anak bungsu Salam, Zoufikar Imani, mendeskripsikan ayahnya dengan satu kata: “Aneh.”

“Siang-malam di dalam kamar, membaca Alquran, membuat catatan-catatan,” kata Jofi, panggilan akrab Zoufikar, sambil terkekeh. “Sejak saya kecil sudah seperti itu.”

Suatu hari, Salam ditemui oleh salah satu petinggi kelompok bawah-tanah Negara Islam Indonesia (NII). Sang petinggi tertarik karena mendengar Salam menulis tentang sitatti ayyam, penciptaan alam semesta dalam enam tahap. Salam pun bergabung dengan organisasi yang menjadikan Kartosuwiryo sebagai patron itu pada 1985.


Bertugas di Jakarta, Salam meraup cukup banyak anggota. “Sekitar 50 ribu,” jawabnya saat saya bertanya ihwal jumlah pengikut NII di ibu kota. Saya mencoba mengkonfirmasi kepada peneliti NII, Al Chaidar, apakah angka tersebut mungkin. Menurut Chaidar, angka itu masuk akal untuk ukuran pemimpin madya seperti Abdussalam.

Mushaddeq menganggap pemikiran Kartosuwiryo benar. Tak ada yang salah dengan khilafah, katanya. Hukum Tuhan tanpa kekuasaan politik tak akan bisa didirikan, imbuhnya.

Namun, NII Komandemen Wilayah IX membikin Salam kecewa. Bukannya berfokus pada cita-cita khilafah, organ bawah-tanah ini malah menarik uang dari pengikutnya untuk membangun pesantren. “Gerakan ini berada di jalur yang salah. Sudah tamat.” Pada 1997, Salam pun hengkang dan kembali mengaji sendirian.

Lama-lama, ia mempunyai sekelompok kecil pengikut dan mulai sering mengaji di rumahnya. Waginem, istrinya, serta semua anak—Berny Satria, Farah Meifira, Zoufikar Imani—kecuali si sulung Andry Cahya, menjadi pengikut awal. Juga seorang mahasiswa jurusan syariah UIN Syarif Hidayatullah bernama Mahful Muis yang kemudian menjadi murid terdekat dan kelak memimpin lembaga-lembaga yang menahbiskan Salam sebagai guru spiritual.

Salam mengaku mengalami sebuah kejadian penting pada 23 Juli 2006 setelah 40 hari menyepi di Gunung Bunder, Bogor. Kejadian yang menurutnya tak bisa secara persis diceritakan kepada orang lain.

“Saya ini, kan, orangnya rasional. Saya tidak gampang dipengaruhi. Saya juga bukan orang pemimpi. Dan, waktu itu saya sedang berada pada posisi sadar.” Ia rupanya menangkap sangsi pada air muka orang di depannya.

Dalam mimpi, ia dibawa oleh seseorang tanpa wujud ke sebuah pantai tempat sebuah kapal besar karam. Ribuan penumpang di dalamnya terjebak. Lalu, oleh pihak tak berwujud itu, Salam dibawa ke sebuah tempat yang menurutnya sangat indah.

Mimpi itulah yang membuat Salam menyimpulkan bahwa ia mesti membuat “kapal baru” dan membawa orang-orang yang terjebak di dalam kapal tua itu ke tempat yang indah. Mimpi itu pula yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Salam pun mengganti nama menjadi Ahmad Mushaddeq.

'Persaudaraan Iman' bernama Millah Abraham

Ahmad Mushaddeq, katanya, punya arti meluruskan kembali yang bengkok-bengkok. “Ini berarti meluruskan Injil, Taurat, dan Alquran. Makanya, di sini, kami membahas tiga kitab suci, bukan hanya satu.”

Al-Qiyadah al-Islamiyah menjadi nama dari kelompok yang dibangunnya. Kelompok Mushaddeq yang saat itu mencapai puluhan ribu pengikut kemudian terendus Majelis Ulama Islam (MUI). MUI lantas memfatwa bahwa Al-Qiyadah al-Islamiyah sesat dan Mushaddeq dicokok kepolisian. Ujungnya, setelah melalui diskusi bersama beberapa ulama—salah satunya Said Aqil Siradj—Mushaddeq mengaku bahwa dirinya bukan nabi, melainkan mubalig.

Meski urusan ini sempat memukul keluarga Mushaddeq, mereka juga berbahagia karena Andry Cahya, anak sulung Mushaddeq, datang mengunjungi ayahnya saat ditangkap polisi. Andry mengaku mengikuti perkembangan kasus ayahnya di televisi.

“Oh, dia enggak takut, berarti dia benar,” kata Andry. “Di situlah saya gabung.”

"Disesatkan" tak membuat aktivitas Mushaddeq surut. Ia tetap mengaji bersama murid-muridnya yang sudah tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Tak hanya Alquran, tetapi juga Taurat dan Injil.

Ia akhirnya menamai kelompoknya sebagai Millah Abraham, sebab semua keyakinan dengan kitab-kitab suci itu bermula dari Ibrahim. Mushaddeq melihat kelompoknya sebagai “persaudaraan iman”, bukan agama.

Mereka juga membangun organisasi masyarakat pada 2011: Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar. Mahful Muis menjadi ketua umum, Mushaddeq menjadi penasihat spiritual. Dengan wadah organisasi ini, mereka membuat proyek-proyek pertanian kecil di daerahnya masing-masing, berlatih meraih swasembada pangan. Gafatar juga kerap menyelenggarakan bakti sosial, membersihkan kota. Menurut Mahful, anggota Gafatar saat itu mencapai 50 ribu.

Namun, karena tak juga mendapat izin pendirian ormas dari pemerintah dan anggotanya dipersekusi di beberapa daerah, Gafatar akhirnya membubarkan diri pada 2014.


Pengusiran dan Persekusi

Sejak persekusi dan—dalam istilah Mushaddeq—bullying semakin kerap terjadi, Millah Abraham mencari cara agar mereka bisa mendirikan komunitas dan berkeyakinan tanpa diganggu oleh pihak lain. Hubungan yang baik dengan pemimpin adat di Kalimantan membuat mereka yakin bisa mendirikan komunitas di sana.

Sebelum benar-benar hijrah secara massif dan mendirikan komunitas Negeri Karunia Tuan Semesta Alam Nusantara (NKTN), ada kelompok pendahulu yang datang. Mereka melakukan percobaan bercocok tanam di lahan gambut, membangun sistem pengairan dan kelistrikan. Andry Cahya, insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung, merancang-bangun turbin-turbin berkekuatan 3.000 dan 4.000 watt sebagai sumber daya listrik di sana.

Setelah infrastruktur minimal siap, mulailah eksodus sekitar 12 ribu pengikut Millah Abraham dari berbagai wilayah Nusantara pada penghujung 2015 dan awal 2016.

“Saya sudah menjual rumah dan siap meninggalkan pabrik saya,” kata Andry, yang didaulat menjadi Presiden NKTN. Di sana, Andry menggunakan uang pribadinya untuk menyewa lahan seluas 25 hektare di Ella, Melawi, untuk menanam jahe. Andry pun sudah mendapat penyuplai jahe yang mau membeli produk agrobisnisnya dengan harga bagus.

Saat jahe-jahe Andry siap dipanen, terjadi pengusiran pengikut Millah Abraham di Mempawah, Kalimantan Barat, pada 19 Januari 2016. Sejak itulah terjadi “pemulangan” paksa 8.187 dari 33 titik lokasi penganut Millah Abraham di Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur.

Tak lama kemudian, turun fatwa sesat dari MUI pada 3 Februari 2016 untuk kelompok Gafatar. Ahmad Mushaddeq, Mahful Muis, serta Andry Cahya didakwa dengan pasal penodaan agama dan makar. Menurut majelis hakim yang diketuai Muhammad Sirad, mereka terbukti menodai agama, tetapi tak terbukti berbuat makar. Mushaddeq dan Mahful divonis hukuman 5 tahun penjara, sedangkan Andry 3 tahun penjara.


Infografik HL Indepth Minoritas


Kehidupan di Penjara


Di Lapas Cipinang, ketiganya tak tampak seperti bayangan narapidana. Mereka bugar dan kekar karena berolahraga setiap hari. Ketiganya juga bersyukur karena bisa mengaji secara intens bersama-sama setidaknya selama 3 tahun hingga Andry menghirup udara bebas.

Soal kesempatan mengaji bersama ayahnya, Andry berkelakar, “Kalau Bung Mahful, kan, sejak dulu mengidolakan Nabi Muhammad. Nah, saya [mengidolakan] Einstein, Edison. Makanya ilmu agama saya lebih sedikit.” Di dalam sel, Andry punya waktu khusus untuk mengejar ketinggalannya, mempelajari “ilmu ruhul kudus” bersama ayahanda dan Mahful Muis. Bisnis yang dulu sudah akan ditinggalkannya, diteruskan oleh sang istri.

Walau tubuh mereka dipenjara, mereka tetap teguh dengan keyakinan bahwa khilafah berbentuk teokrasi dengan hukum Tuhan adalah keniscayaan. Namun, mereka menyerahkan jalannya ke tangan Tuhan. Itulah sebabnya mereka tidak melawan sedikit pun saat terjadi pengusiran.

Millah Abraham juga berfokus pada penguatan internal dan negeri ini, sehingga mereka membangun sistem pertanian di Kalimantan supaya cukup-diri, demi membantu Indonesia agar tak bergantung pada negara lain.


Meski setiap anggota komunitas mesti mengabarkan kebenaran yang mereka yakini, mereka tak mau memaksa orang yang enggan ikut, atau bahkan keluar setelah pernah berbaiat. Begitu pula saat Mushaddeq mendapati anaknya, Berny, tak mengikuti jalannya lagi.

“Dia mengatakan bahwa Mushadeq bukan rasul, proses hijrah gagal, dan pernyataan negatif lainnya,” kata Mushaddeq, sedikit getir. “Bagaimanapun juga, kami tidak bisa memaksa apa yang sudah diyakininya kalau dia sudah seperti itu.”

Mushaddeq dan pengikutnya juga tak hendak melawan takdir Tuhan. Saat izin mendirikan organisasi Gafatar ditolak, mereka membubarkan diri. Saat warga Negeri Karunia Tuan Semesta Alam Nusantara di Kalimantan diusir, mereka tak melawan. Kini, menurut orang-orang di lingkar utama Mushaddeq, banyak pengikut Millah Abraham tertekan dan memutus komunikasi. Wajar, mereka menghindari persekusi.

Namun, tak demikian halnya bagi Mahful Muis Tumanurung, yang punya waktu eksklusif menimba ilmu kepada Mushaddeq di penjara. “Beliau adalah satu-satunya guru spiritual saya. Saya hanya percaya Mushaddeq. Apa itu salah? Salah ketika murid percaya gurunya?” tanya Mahful, retoris.

Seperti sisa-sisa pengikut lain di luar penjara yang masih bersetia dengan jalan Ibrahim, Mahful dan Andry memanggil Mushaddeq dengan panggilan: Mesias.

Baca juga artikel terkait KELOMPOK MINORITAS atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight