Representasi Kaum Romani dan Travellers di Medium Pop Abad 21

Penulis: R. A. Benjamin, tirto.id - 16 Jul 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Di medium populer abad ke-21 ini, kaum Romani dan Travellers digambarkan lebih berdimensi. Diharapkan dapat memupuk simpati pada kelompok marjinal lain.
tirto.id - Mereka dinafikan dalam sejarah dan didiskriminasi secara personal hingga institusional di negara-negara mereka mengembara. Begitu pula di layar kaca, kaum Gipsi (atau Romani) dan Travellers acap kali disorot lantaran eksotismenya belaka. Entah itu karena karavan kayu penuh ukiran dan warna, musik dengan akar Indianya, atau perkara terkait mistis semacam tarot, kutukan, dan kemampuan meramal.

Dalam medium populer (film, dokumenter, dan serial televisi), kaum Gipsi seakan justru kehilangan pesonanya jika direpresentasikan secara akurat dan positif. Namun, itu di masa sebelumnya.

Kini, kita menghadapi masa yang sepenuhnya berbeda. Sudah bukan zamannya lagi merepresentasikan suatu kelompok etnis secara dangkal dan asal-asalan. Whitewashing sama sekali tak perlu dilakukan dan banyak studio kini berlomba-lomba menampilkan penggambaran yang akurat dan pantas.

Dalam artikel Tackling the Poor Portrayal of Traveller Communities, Richard O'Neill—seorang storyteller, pengarang, dan dramwan berdarah Romani—mengeluhkan banyaknya produksi di layar dan teater tentang Gipsi dan Travellers yang tak pernah melibatkan kaum Gipsi dan Travellers entah sebagai aktor, penulis, sutradara, bahkan kru.

"Meminjam cerita-cerita GRT (Gypsy, Roma & Travellers) tanpa melibatkan mereka dalam proses kreatif tampaknya menjadi sesuatu yang biasa," tukas O'Neill.

Kenyataannya, memang tak banyak aktor berdarah Romani yang diburu jasanya selepas mangkatnya Charlie Chaplin. Belakangan, beberapa aktor berlatar Romani muncul, seperti Michael Caine dan Alba Flores—pemeran Nairobi dalam seri Money Heist. Namun, jumlahnya tetaplah sedikit.

Minimnya keterlibatan aktor atau sineas Gipsi ini mengingatkan lagi pada kisruh proyek film Gypsy Boy. Pada 2017 lalu, Benedict Cumberbatch didapuk sebagai salah satu pemeran film yang berangkat dari novel laris berjudul sama rekaan Mikey Walsh ini. Kendati sang pengarang tak memusingkannya, penunjukan itu toh menuai respons negatif.

Christina Newland dalam artikelnya di Guardian, misalnya, menyebut penunjukan itu sebagai tindakan tone deaf dan whitewashing. Lebih lanjut, dia menyebut, "Cumberbatch berasal dari eselon paling berprivilese di masyarakat Inggris, memainkan salah satu etnis minoritas yang paling kurang beruntung di negara itu. Sejauh ini, pemeran dan kru Gypsy Boy juga seluruhnya terdiri dari non-Travellers. Itu pilihan yang keterlaluan untuk produksi film BME lainnya."

Di kemudian hari, tanpa alasan yang jelas, film itu pun dihentikan produksinya oleh BBC.


Romani dan Travellers di Media Pop Abad ke-21

Penggambaran eksotisme kaum Romani dan Travellers sudah terjadi sejak abad silam. Pada abad ke-21 ini, penggambaran itu masih bertahan. Tengok misalnya dalam seri reality show seperti Big Fat Gypsy Weddings (2010-2015) dan spin-off-nya My Big Fat American Gypsy Wedding (2012-2016). Seri acara televisi itu mengangkat stereotip pernikahan mewah kaum Romani.

Seri-seri itu dinilai menampilkan representasi negatif, mengaburkan batas antarkelompok Travellers, dan pada akhirnya mendapatkan banyak review buruk dan rating rendah.

Kehadiran kaum Gipsi sebagai tempelan belaka juga masih hadir dalam serial televisi Amerika yang berputar di sebuah grup karnaval keliling Carnivàle (2003-2005). Dalam serial itu, seorang perempuan Gipsi dihadirkan untuk membaca tarot dan hal-hal magis yang menyertainya. Walaupun, sesungguhnya hal itu masih cukup pantas mengingat keseluruhan show tersebut memang berkisar pada tema-tema mitologi dan supranatural.

Lantas, bagaimana dengan representasi kaum pengembara ini dalam media gambar bergerak abad terkini lainnya?


Pavee Lackeen: The Traveller Girl (2005)

Jalan paling aman untuk menampilkan kisah suatu kaum ataupun suku tampaknya memang dalam bentuk dokumenter. Atau, tambahkan sedikit imajinasi lalu kemas kisah mereka dalam wujud film drama bergaya dokumenter.

Pavee Lackeen arahan sutradara Perry Ogden bisa dibilang sebagai penggambaran otentik tentang kondisi terkini kaum Travellers; Ketika seorang perempuan tua Pavee (Irish Travellers) ditampilkan mampu membaca garis tangan, kita bisa menerimanya.

Dengan melaju mengikuti kegiatan Winnie—seorang Traveller perempuan remaja berusia 10 tahun, film ini bisa dibilang sebagai pengisahan coming-of-age anak yang hidup nyaris sepenuhnya di luar aturan masyarakat umum. Dia pergi ke disko, mencuri koin dari kolam persembahan untuk membayar hair extension, atau memilah-milah pakaian bekas di clothing bank di Dublin. Winnie mengisi hari-harinya dengan berjalan-jalan di lingkungan kumuh, mengunjungi kerabat di penjara, juga ingin bersekolah di sekolah umum (bukan sekolah untuk kaum pengembara).

Dengan gambaran apa adanya, Pavee Lackeen juga menyuguhkan situasi nyata kaum Travellers yang muram. Mereka mencari air dari sumber ilegal, terpaksa tinggal di trailer karena rumahnya jadi sasaran pelemparan batu oleh warga, atau bagaimana mereka mesti berhadapan dengan penggusuran oleh pihak berwajib. Masih ada pula potret sebagian dari mereka yang harus mendekam di bui, upaya integrasi Travellers modern ke dalam masyarakat, serta janji-janji Pemerintah Britania dan Irlandia yang tak kunjung terealisasi.


Knuckle (2011)

Bila film Snatch (2000) menggambarkan kaum Travellers sebagai petinju yang dieksploitasi kemampuannya, Knuckle hadir dengan potret para Travellers petarung sesungguhnya.

Dokumenter ini menampilkan tradisi-tradisi di lingkungan Travellers, seperti menikahi sepupu atau kerabat dan melangsungkan judi di acara pernikahan. Sutradara Ian Palmer mulanya hanya ditugaskan merekam acara pernikahan itu, tapi rupanya berlanjut jadi memfilmkan kisah keluarga-keluarga Travellers untuk 12 tahun berikutnya.

Beberapa keluarga Travellers seperti McDonagh, Joyce, dan Navin terlibat perselisihan yang telah berumur puluhan tahun. Lantaran begitu tertutupnya mereka terhadap orang luar, motifnya jadi tak begitu jelas. Penjelasan yang tampaknya paling mendekati fakta ialah ketika salah satu dari mereka buka mulut: semua berawal dari perkelahian antarkeluarga itu (yang sejatinya masih sedarah) yang berujung hilangnya nyawa dan dendam pun dipelihara.

Salah satu keluarga akan memfilmkan video berupa tantangan dan provokasi. Video itu sekaligus juga merupakan undangan bagi keluarga lain untuk mengirimkan perwakilan terbaiknya ke arena bare knuckle (tinju tangan kosong). Tak seperti Snatch yang menggelar laga di ring atau sasana, para Travellers dalam Knuckle bertinju di tengah hutan, tanah kosong berlumpur, dekat kuburan, atau di mana pun aparat absen untuk membubarkan.

Kesamaan keduanya? Sama-sama menampilkan kehidupan kaum Travellers yang erat dengan kekerasan.

Tak hanya adu tinju, keluarga-keluarga Travellers itu juga mempertaruhkan uang hingga ratusan ribu paun. Laga tinju digelar dengan dua wasit dari keluarga netral. Pertarungan itu bisa berlangsung sebentar, tapi kadang juga bisa berjam-jam. Pemenang dalam laga ini nantinya didapuk sebagai King of Travellers.

Perempuan dan anak-anak nyaris sepenuhnya absen di arena. Mereka bakal menonton siaran ulang pertarungan yang disaksikan seluruh keluarga. Sebagian dari mereka merasa bangga dengan pencapaian wakil keluarga di arena, tapi juga menilai bahwa perselisihan antarkeluarga semestinya telah berakhir.

Sementara itu, para laki-laki menilai bahwa perselisihan itu belum akan berhenti, selama tak ada yang terluka parah atau bahkan tewas di arena tinju. Singkatnya, perkara adu tinju ini bagi beberapa keluarga Travellers bukanlah sekadar tradisi, tapi juga ajang melampiaskan kebencian.


Peaky Blinders (2013-2022)

Di ranah serial televisi, siapa yang tak mengenal Peaky Blinders? Serial drama kriminal bikinan Steve Knight ini merupakan salah satu judul terbesar yang menampilkan kisah orang-orang Travellers, khususnya Romani. Kisahnya mengikuti sebuah keluarga berdaraah Gipsi yang tengah berupaya membangun kerajaan bisnisnya di tengah pusaran kriminalitas dan politik di Birmingham era 1920-an.

Ada anggota inti keluarga Shelby yang dengan bangga mendaku sebagai Gipsi. Demikian juga dengan beberapa karakter pendukung, seperti Bethany Boswell dan Johnny Dogs. Lebih lanjut, beberapa dialog dan ungkapan dalam bahasa Romani juga beredar dalam serial ini.

Di balik layar, Cillian Murphy (pemeran Tommy Shelby, tokoh utama) mengklaim sempat tinggal bersama kaum Gipsi selama beberapa waktu demi menyiapkan perannya. Sementara itu, para pemeran dengan latar belakang Traveller juga disertakan, seperti Packy Lee (Johnny Dogs).

Peaky Blinders memang tak bisa dikatakan sepenuhnya akurat dalam menggambarkan kaum Romani. Sekilas, ia juga masih terlihat bertumpu pada eksotisme tradisi kaum pengembara. Namun dengan menempatkan kaum Romani di posisi sentral, serial ini jadi punya dimensi dan bobot lebih ketimbang menggambarkan para bandit ini sebagai sekadar “orang Birmingham”. Selain representasi yang segar, Peaky Blinders juga membawa impak kultural yang meluas (terutama dalam hal fesyen).


Infografik Citra Pengelana di Sinema Abad 21
Infografik Citra Pengelana di Sinema Abad 21. tirto.id/Fuad



AFERIM! (2015)

Membicarakan kaum Romani tentu tak lengkap tanpa menyertakan film dari Rumania yang merupakan salah satu negara dengan populasi kaum Romani terbesar. Dalam Aferim!--film hitam-putih arahan sutradara Radu Jude, bahasa Romani turut disertakan berdampingan dengan bahasa utama Rumania. Di akhir filmnya, sineasnya juga menyertakan klaim bahwa "beberapa situasi naratif dan potongan dialog diambil dari dokumen dan teks sejarah".

Mengambil set di Wallachia pada 1835, film ini terasa bagai kisah Wild West-nya Rumania. Kisah dalam film ini terjadi di masa ketika komedi putar masih digerakkan dengan tenaga manusia, laki-laki berhak sepenuhnya menghukum istrinya, dan orang-orang Gipsi atau Romani disebut “gagak” karena dianggap laiknya binatang yang layak dijadikan permainan. Subjek tabu itu—perbudakan orang Romani di Rumania—digambarkan tanpa filter dan sensor.

Di satu adegan, seorang penegak hukum yang ditugaskan untuk memburu budak bertanya kepada seorang pendeta, "Orang-orang Gipsi itu manusia ataukah keturunan iblis?”

Sang pendeta menjawab, “Mereka itu keturunan Ham, anaknya Nuh yang dikutuk untuk menjadi hitam. Datang dari Mesir. Dipanggil 'gagak' karena tidak ada gagak berbulu putih.”

Tak hanya itu, pendeta itu pun melontarkan banyak stereotip terhadap etnis lain, seperti orang Rusia banyak minum dan orang Italia banyak bohong. Sementara itu, bagaimana dengan orang Gipsi? Harus dipukuli sebagai budak.

Aferim! Sebenarnya merupakan film yang cukup ringan dan mudah dinikmati. Namun, ia juga membawa isu teramat gelap dalam sejarah Rumania dan bahkan Eropa, tentang bagaimana mereka memperlakukan bangsa Romani.

Selain karya-karya yang sudah disebut itu, tentu masih ada sejumlah representasi yang lebih dekat pada realitas. Atau juga, film atau serial yang berani mengangkat subjek tabu dalam sejarah. Anak-anak muda Romani pun tak lama lagi mungkin akan menemukan representasi sosok-sosok yang pantas pula heroik, di samping karakter Gipsi-yang-keren.

Dan yang terpenting, memang terasa ada sebuah pergeseran dalam memandang kaum Romani. Kendati masih kerap didiskriminasi di dunia nyata, setidaknya mereka mulai dianggap sebagai bagian dari masyarakat dalam banyak penggambarannya di film maupun serial televisi. Karya-karya itu semestinya mampu mendorong lebih banyak lagi penonton untuk bersimpati pada kaum yang termarjinalkan, entah itu kaum Romani, Travellers pada umumnya, maupun kelompok minoritas lain di belahan Bumi lain.

Baca juga artikel terkait GIPSI atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight