Kenapa Orang Suka Menonton Sinetron Seperti Ikatan Cinta?

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 10 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kenapa orang suka menonton sinetron seperti Ikatan Cinta yang jalan ceritanya emosional?
tirto.id - Sinetron memiliki alur cerita yang mengguggah emosi sehingga membuat orang banyak tertarik melihatnya sebagai jeda sejenak dari rutinitas

Begitu kuatnya alur cerita sinetron Ikatan Cinta, membuat banyak pemirsa yang terjebak secara emosional dengan tokoh karakter di dalamnya.

Di beberapa sosial media bahkan muncul video saat seorang pemirsa geregetan melihat tokoh antagonis tampil di sinetron tersebut.

Di satu sisi, tokoh Andin yang diperankan Amanda Manopo, meraih simpati lebih banyak sebagai pemeran utama.

Sinetron Ikatan Cinta menceritakan kehidupan Andin dan Elsa (Glenca Chysara) yang sama-sama menyukai satu pria yaitu Nino (Evan Sanders). Andin dan Elsa masih bersaudara. Hubungan mereka tidak pernah akur dan makin memburuk.

Dari awal yang buruk inilah kemudian menjadi cerita panjang yang sangat menguras emosi. Senang, sedih, lucu, hingga marah dikemas apik oleh sutradara dan penulisnya.

Jadilah kemudian menimbulkan sisi adiksi yang membuat penggemar sinetron ini seakan ketagihan dengan lanjutan ceritanya.

Dikutip dari laman Moms, sinetron memiliki alur adiktif yang dipenuhi sensasi, permasalahan sensitif, hingga rahasia memalukan yang membuat cerita lebih "berbobot" muatan emosinya.

Ditambah dengan penampilan artis papan atas yang berpenampilan menarik, menjadi salah satu resep sinetron akan disukai.

Uniknya, sinetron punya banyak penggemar meski sering dicap sebagai tayangan "murahan", terlalu dramatis, dan kadang adegannya tidak logis.

Salah satu alasannya, sinetron menawarkan kesempatan bagi seseorang yang setiap hari terjebak rutinitas monoton, untuk mendapatkan cerita kehidupan lain sebagai pelarian atau cara istirahat sejenak.

Akhirnya, anak-anak dan orang dewasa bisa menghabiskan waktu berjam-jam agar tidak ketinggalan jalan cerita dari sinetron kesukaannya.

Wajarkah seseorang sampai kecanduan sinetron, atau dalam istilah Barat disebut "opera sabun"?

Persoalan kecanduan TV ini sebenarnya sudah didiskusikan sejak tahun 1970-an. Tapi, saat itu penelitian tentang kecanduan TV masih terbatas.

Dan, para orang tua, pendidik, hingga jurnalis bisa menerima tentang kondep "kecanduan" tersebut lantaran menonton TV menjadi lebih umum di kalangan anak-anak.

Meski studi tersebut dibatasi pada anak-anak, namun ternyata banyak pula orang dewasa yang menggunakan tv secara berlebihan.

Dilansir laman VeryWellMind, data yang termuat dalam "The Common Sense Census: Media Use by Tweens and Teens" 2019 menyebutkan, rata-rata remaja menghabiskan 7 jam 22 menit untuk nonton TV.

Itu tidak termasuk waktu yang dihabiskan untuk bersekolah atau mengerjakan pekerjaan rumah.

Sementara itu, dalam jurnal Pediatrics yang diterbitkan American Academy of Pediatrics (AAP) pada 2001 tentang anak-anak, remaja, televisi, disebutkan, menonton TV yang berlebih dapat meningkatkan risiko perilaku agresif, bentuk tubuh yang buruk, obesitas, hingga penurunan kinerja di sekolah.

Dari situ disarankan, anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun tidak boleh sama sekali melihat tayangan TV. Sementara saat mereka sudah dua tahun ke atas, menonton TV hanya dibatasi dua jam per hari.

Namun, pada 2016, pedoman tersebut berubah menjadi satu jam untuk anak-anak usia 2-5 tahun.

Sementara untuk usia 6 tahun ke atas, dibatasi sesuai kebijakan orang tua dengan menerapkan pengawasan agar anak-anak tidak salah memahami media yang disaksikan.

Saat ini remaja hingga orang dewasa melirik pula tayangan di media digital seperti Youtube dan Netflix.

Riset Commons Sense Media menemukan, sebagian besar waktu para remaja ini habis untuk nonton TV dan video streaming secara berlebihan.

Setelah menyaksikan tayangan acara, sebagian mereka juga menghabiskan waktu dengan main game dan sosial media.

Sementara itu, ada beberapa gejala ketika seseorang diduga mengalami kecanduan TV, yaitu:

1. Orang yang kecanduan televisi menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton tayangan.

2. Mereka menonton TV lebih lama atau lebih sering dari yang mereka inginkan.

3. Mereka berulang kali gagal berupaya untuk menghentikan diri untuk lepas dari tontonan TV.

4. Mereka menarik diri atau tidak menghiraukan kegiatan sosial, keluarga, atau pekerjaan yang penting demi menonton televisi.

5. Mereka mengalami gejala ketidaknyamanan.


Baca juga artikel terkait SINETRON IKATAN CINTA atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Dhita Koesno
DarkLight