Menuju konten utama

Kenapa Muhammadiyah Mulai Puasa 18 Februari 2026 & Bukan Kamis?

Kenapa awal puasa Muhammadiyah pada Rabu 18 Februari dan bukan Kamis 19 Februari? Apakah hilal tidak terlihat dan awal puasa beda hari?

Kenapa Muhammadiyah Mulai Puasa 18 Februari 2026 & Bukan Kamis?
Ilustrasi Salat Jamaah. foto/istockphoto

tirto.id - Hilal menjadi penentu dalam penetapan awal puasa Ramadhan. Lantas, kenapa hilal berpotensi tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia pada hari ini Selasa (17/2)? Mengapa Muhammadiyah sudah menetapkan bahwa awal puasa jatuh pada Rabu (18/2) bukan Kamis (19/2)?

Untuk menentukan hari pertama Ramadhan 2026, Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat yang berlangsung pada Rabu (18/2) mulai pukul 16.30 WIB di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat.

Dalam menetapkan awal Ramadhan, Kemenag berpedoman pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2024, bahwa metode yang dipakai adalah penggabungan hisab dan rukyat. Setelah mendapatkan data hisab, Kemenag melakukan rukyatul hilal di 96 titik lokasi seluruh Indonesia. Dengan rukyatul hilal atau observasi langsung hilal di ufuk barat setelah matahari terbenam.

Jika hilal sudah terlihat, dapat dipastikan bahwa keesokan harinya umat Islam akan memulai puasa hari pertama. Akan tetapi, jika hilal tidak tampak, Syaban digenapkan menjadi 30 hari. Setelah itu, 1 Ramadhanbakal berlangsung pada lusa harinya. Dalam konteks Ramadhan 2026, hari pertama puasa bisa saja pada Rabu (18/2) atau Kamis (19/2).

Lantas, jika Ramadhan menurut pemerintah kemungkinan pada Kamis, 19 Februari 2026, dan kemungkinan hilal hari ini tidak terlihat, mengapa Muhammadiyah sudah menetapkan awal puasa pada Rabu (18/2)?

Kenapa Hilal Tidak Terlihat Hari Ini & Berapa Tingginya?

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Informasi Prakiraan Hilal saat Matahari Terbenam tanggal 17 dan 18 Februari 2026, diketahui bahwa ketinggian hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 17 Februari 2026, berkisar antara -2,41⁰ di Jayapura, Papua sampai dengan -0,93⁰ di Tua Pejat, Sumatera Barat. Elongasi geosentrisnya berkisar antara 0,94⁰ di Banda Aceh, Aceh sampai dengan 1,89⁰ di Jayapura, Papua.

Sementara itu, ketinggian hilal di Indonesia pada saat matahari terbenam pada 18 Februari 2026, berkisar antara 7,62⁰ di Merauke, Papua sampai dengan 10,03⁰ di Sabang, Aceh. Elongasi geosentris berkisar antara 10,7⁰ di Jayapura, Papua sampai dengan 12,21⁰ di Banda Aceh, Aceh

Kesimpulan BMKG, "secara astronomis pelaksanaan rukyat hilal penentu awal bulan Ramadan 1447 H bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuannya adalah setelah matahari terbenam pada tanggal 18 Februari 2026. Dan bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Ramadan 1447 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 18 Februari 2026 tersebut".

Kesimpulan tersebut berkaitan dengan kriteria MABIMS yang menjadi patokan menetapkan kapan 1 Ramadhan 1447 H, yaitu hilal harus memiliki ketinggian minimal sekitar 3 derajat di atas ufuk dengan sudut elongasi 6,4 derajat agar dapat terlihat. Jika hilal masih di bawah standar kriteria tersebut, peluangnya untuk terlihat akan kecil, sehingga Syaban perlu dibulatkan.

Dari data BMKG di atas, hilal diperkirakan tidak terlihat jika diamati pada Selasa (17/2), sedangkan jika pemantauan berlangsung pada Rabu (18/2), seluruh syarat dalam kriteria MABIMS tersebut terpenuhi. Inilah alasan mengapa 1 Ramadhan 1447 H, jika berpatokan pada kriteria MABIMS yang menjadi standar Kemenag, akan jatuh pada Kamis, 19 Februari.

Artinya, kemungkinan besar, Rabu (18/2) akan menjadi hari ke-30 Syaban setelah adanya pembulatan. Ini bermakna, shalat tarawih untuk kalangan yang berpedoman pada Kemenag, kemungkinan baru dilakukan pada Rabu (18/2) malam.

Kenapa Muhammadiyah Puasa Hari Rabu Bukan Kamis?

Jika hilal tidak terlihat pada hari ini Selasa (17/2), dan pemerintah kemungkinan menetapkan puasa pada Kamis (19/2), lantas mengapa Muhammadiyah menetapkan awal puasa pada Rabu (18/2)? Hal ini terjadi karena Muhammadiyah menggunakan metode hisab untuk menentukan awal Ramadhan, dan dalam praktiknya menerapkan Parameter Kalender Global (PKG).

Dalam menentukan awal Ramadhan 1447 H, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyimpulkan data hisab bahwa ijtimak jelang Ramadan 1447 H terjadi pada hari Selasa Kliwon, 29 Sya'ban 1447 H bertepatan dengan 17 Februari 2026 M, pukul 12:01:09 UTC.

Memang, pada saat matahari terbenam di hari ijtimak tersebut (Selasa 17 Februari), sebelum pukul 24:00 UTC tidak ada satu wilayah pun di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°. Namun, ada wilayah yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 2, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8° setelah pukul 24:00 UTC dan ijtimak terjadi sebelum fajar di New Zealand (16:06:13 UTC).

Wilayah yang memenuhi parameter tersebut termasuk daratan Amerika, dengan tinggi bulan 5° 23′ 35″, dan sudut elongasi 8° 00′ 11″. Dengan demikian, mengacu PKG 2 tersebut, Muhammadiyah berkesimpulan, di seluruh dunia tanggal 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026 M.

"Dalam kasus Ramadan 1447 H, parameter ijtimak sebelum pukul 24.00 UTC di wilayah manapun di dunia memang belum terpenuhi. Namun, parameter lanjutan, yakni ijtima’ sebelum fajar di Selandia Baru serta keterpenuhan kriteria 5–8 derajat di daratan benua Amerika, telah terpenuhi," keterangan yang termuat di laman resmi Muhammadiyah.

Muhammadiyah menggunakan patokan bahwa jika sebuah wilayah di dunia sudah memenuhi syarat 1 Ramadhan, hal tersebut akan berlaku secara global. Hal inilah yang menjadi latar belakang penetapan awal puasa pada Rabu (18/2) dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

Live Streaming Pantauan Hilal Ramadhan 2026 di Mana?

Live streaming pantauan hilal Ramadhan 2026 dapat dilakukan melalui siaran langsung rukyatul hilal yang tersebar di beberapa titik observasi. Beberapa pihak yang biasa menyiarkan proses pemantauan tersebut diantaranya BMKG Indonesia, kanal YouTube observatorium astronomi, dan komunitas astronomi, hingga beberapa aplikasi astronomi.

Berikut link untuk menyaksikan siaran langsung proses pemantauan hilal Ramadhan 2026 melalui situs web resmi BMKG.

Link Live Streaming Pantauan Hilal Ramadhan 2026 via BMKG

Di samping itu, Anda juga dapat menyimak siaran langsung sidang isbat penentuan awal Ramadhan 2026 melalui kanal Youtube Bimas Islam TV dan Kemenag RI pada hari ini Selasa, 17 Februari 2026 mulai pukul 16.30 WIB.

Live Streaming Sidang Isbat Ramadhan 2026 di Bimas Islam TV

Live Streaming Pengumuman Hasil Sidang Isbat Ramadhan 2026 di Bimas Islam TV

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2026 atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus