tirto.id - Kenapa Jerman dan Jepang resmi pulang kampung setelah gugur 32 besar Piala Dunia 2026? Samurai Biru harus tunduk setelah tunduk 2-1 dari Brasil di Stadion NRG, Houston, Amerika Serikat pada Selasa (30/6). Sementara itu, Die Mannschft yang juara grup, tersingkir oleh Paraguay, salah satu peringkat 3 terbaik, lewat adu penalti. Apa yang terjadi pada kedua negara elite tersebut?
Jepang yang tidak terkalahkan di Grup F Piala Dunia 2026, memang berhak melaju ke fase knockout. Namun, hidup Samurai Biru di fase tersebut sangat pendek. Tim asuhan Hajime Moriyasu langsung rontok di babak 32 besar, kalah 2-1 dari Brasi meski unggul lebih dahulu lewat gol Kaishu Sano. Balasan dari Casemiro dan gol Gabriel Martinelli menghancurkan mimpi Jepang.
Dengan kekalahan Jepang ini, wakil Asia (AFC) nyaris habis di Piala Dunia edisi ke-23 ini. Satu-satunya yang tersisa tinggal Australia, yang di fase 32 besar bakal menghadapi Mesir. Sebelumnya, Uzbekistan, Yordania, Arab Saudi, Qatar, dan Irak tersingkir sebagai juara kunci grup mereka. Iran dan Korsel finis peringkat 3, tapi tidak masuk dalam 8 peringkat 3 terbaik.
Kalahnya Jepang dari Brasil dapat dipahami. Meskipun di laga uji coba terakhir menang 3-2 atas Selecao, penampilan Samurai Biru di Piala Dunia kali ini cenderung biasa-biasa saja. Berdasarakan rapor WhoScored, Jepang hanya memiliki rapor 6,66 dari 4 partai, dan berada di ranking 26 dari 48 negara.
Saat melawan Brasil, Jepang tidak cukup mencoba. Mereka memilih taktik defensif yang dianggap bekerja saat lawan Belanda, tapi kali ini tak maksimal. Dari segi penguasaan bola, Jepang cuma punya 31,4 persen sedangkan sang juara dunia 5 kali 68,6 persen.
Misi Jepang untuk mengimbangi Brasil dari jumlah tembakan pun tak apik. Mereka kalah jauh. Brasil mengirim 19 tembakan, 7 tepat sasaran. Sebaliknya, dalam 90 menit, Samurai Biru cuma 5 kali. Bahkan, tidak ada satu pun tembakan yang datang dari kotak 6 yard (0 persen). Jepang juga dipaksa lebih banyak mencoba tembakan dari luar kotar penalti (60 persen).
Kontras dengan Jepang, Brasil punya 63 persen tembakan di dalam kotak penalti, 16 persen di antaranya di kotak kecil.
Rapor Jepang cukup rendah, rata-rata 6,36 versi WhoScored. Bahkan, Ayase Ueda yang jadi pemain terbaik saat lawan Swedia, rapornya hanya 5,7. Selain itu, 5 pemain pengganti yang diturunkan Hajime Moriyasu tidak ada yang rapornya di atas 6,4.
Lagi-lagi kontras dengan Jepang, pergantian pemain yang dilakukan Brasil lebih tepat. Ketika Matheus Cunha di babak pertama tidak istimewa, Ancelotti memasukkan Endrick. Gabriel Martinelli yang turun sejak menit 66 akhirnya jadi pencetak gol kemenangan.
Lantas, bagaimana menjelaskan kekalahan Jerman? Die Mannschaft adalah salah satu penampil terbaik di Piala Dunia 2026. Sebelum lawan Paraguay, rapor mereka adalah 6,83 atau masuk 10 besar tim terbaik. Die Mannschaft gugur dengan tragis. Di Piala Dunia 2026 ini mereka hanya menang 2 kali dan tercatat kalah 2 kali. Pasukan Julian Nagelsmann selalu takluk oleh wakil CONCACAF, yaitu Ekuador di fase grup dan kini Paraguay di 32 besar.
Kenapa Jerman Bisa Gugur di 32 Besar vs Paraguay?
Secara teknis, nyaris tidak ada yang salah dari Jerman saat lawan Paraguay. Die Mannschaft menguasai bola hingga 75,3 persen, menyisakan 24,7 persen untuk Paraguay. Dari segi umpan sukses, persentase mereka 90 persen. Jerman mengirim 21 tembakan, berbanding 7 milik La Albirroja. Namun, faktanya hanya 6 yang mengarah gawang Paraguay: 7 off target dan 8 diblok pertahanan wakil CONCACAF.
Sepanjang laga, Paraguay mampu membatasi Jerman. Dari 21 tembakan yang cuma bisa dikonversi jadi 1 gol, kendala utama Jerman adalah penyelesaian akhir karena conversion rate Die Mannschaft hanya 4 persen.
Jika ditilik dari lokasi tembakan dilepaskan, Jerman memang termakan oleh taktik pertahanan Paraguay yang apik. Hanya 7 persen tembakan tim panser yang terjadi di kotak kecil 6 yard. Selebihnya, 56 persen di kotak 18 yard dan 37 persen dari luar kotak penalti.
Kebuntuan Jerman membongkar pertahanan Paraguay juga dapat dilihat dari sosok yang melakukan percobaan terbanyak: bukan Kai Havertz dengan 4 kali menembak, tapi justru Joshia Kimmich sang kapten dengan 5 percobaan (1 on target).
Paraguay pada Piala Dunia 2026 ini sudah kebobolan 5 kali. Namun, 4 di antaranya terjadi saat dihajar Amerika Serikat 1-4 di laga pembuka. Pertahanan mereka membaik dalam 3 partai terakhir, yaitu clean sheet lawan Turki dan Australia, lalu cuma terkoyak 1 lawan Jerman.
Disiplinnya Paraguay untuk mencegah Jerman mengancam di kotak penalti selama 120 menit, membatasi hanya 1 gol yang dibuat Die Mannschaft, terlepas dari gol Jonathan Tah yang dibatalkan VAR, berbuah dalam drama adu penalti. Kiper mereka, Orlando Gill, menghalau 2 penalti Jerman. Gill mendapatkan rapor tertinggi dari berbagai situs, misalnya FotMob dengan 8,3 dan WhoScored yang 8,0.
Ikuti kabar terbaru seputar Piala Dunia 2026 dari Tirto.id dengan cara klik tautan ini.
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id


























