tirto.id - Kenapa Israel menyerang Iran? Lantas, apa posisi Jerman terkait serangan ini? Bagaimana perbandingan kekuatan militer Iran dengan Jerman berdasarkan update terbaru 2026 mengacu pada data Global Firepower Index 2026 dan SIPRI?
Seiring dengan pecahnya konflik terbuka antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran, posisi Jerman bakal signifikan jika eskalasi di Teluk meluas.
Sejak 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke berbagai titik di wilayah Iran. Operasi ini diberi nama sandi Operation Roaring Lion oleh Israel dan Operation Epic Fury oleh pihak Washington. Serangan yang menghantam titik krusial di Teheran, Isfahan, hingga Qom tersebut Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga beberapa komandan militer senior negara tersebut.
Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump, menggunakan narasi 'legitimasi pencegahan nuklir' sebagai landasan serangan. Namun, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) justru mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan bahwa Iran sebenarnya tidak memiliki program senjata nuklir aktif yang siap digunakan.
Usai serangan Israel dan Amerika, Teheran merespons melalui Operation True Promise IV. Mereka meluncurkan puluhan drone dan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, Qatar, Irak, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab (UEA).
Di tengah turbulensi ini, posisi Jerman menjadi sorotan. Mengutip TRT, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, pada Rabu (4/3/2026) mengatakan kepada para anggota parlemen di Berlin bahwa Jerman tidak akan mengambil bagian dalam konflik AS-Israel dengan Iran.
“Jerman bukan merupakan pihak dalam perang ini. Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr) tidak akan berpartisipasi. Jerman akan melakukan segala daya upaya untuk berkontribusi pada deeskalasi dan menahan penyebaran kekerasan lebih lanjut,” ujar Pistorius.
Lantas, jika dibandingkan, sebenarnya bagaimana kekuatan militer Iran dan Jerman berdasarkan update terbaru pada 2026?
Perbandingan Anggaran Militer & Armada Iran vs Jerman
Berdasarkan data Global Firepower Index 2026, Jerman saat ini menempati peringkat 12 dunia, sementara Iran berada di posisi 14 dunia.
Perbedaan paling mencolok terletak pada postur anggaran pertahanan yang dilaporkan oleh SIPRI. Jerman mencatatkan anggaran pertahanan sebesar 127 miliar dolar AS untuk mempercepat modernisasi pasukannya.
Sebaliknya, Iran beroperasi dengan anggaran resmi sekitar 9,2 miliar dolar AS. Namun, rendahnya biaya produksi produksi alutsista domestik dan doktrin "ekonomi perang" membuat daya pukul Iran tetap kompetitif, terutama dalam produksi massal rudal dan drone
Mengacu data GFI, dari segi jumlah personel aktif, Iran lebih banyak sebanyak 610 ribu personel. Sebaliknya, Jerman hanya memiliki sebanyak 184.324 personel aktif. Namun, personel cadangan Jerman lebih banyak, yakni sebanyak 860 ribu personel, dibandingkan Iran yang hanya 350 ribu personel. Di sisi lain, pasukan paramiliter Iran lebih tinggi, yakni 220 ribu pasukan, sedangkan Jerman nihil.
Jika dibuat dalam tabel, perbandingan kekuatan armada Jerman dan Iran bisa dilihat sebagai berikut.
| Indikator (Data Update Maret 2026) | Jerman (Bundeswehr) | Iran (Artesh & IRGC) |
| Total Personel Aktif | 184.324 | 610.000 |
| Personel Cadangan | 860.000 | 350.000 |
| Pasukan Paramiliter | Nihil | 220.000 |
| Peringkat Global (GFP) | #12 | #14 |
Kekuatan Militer Udara dan Darat Iran vs Jerman
Dalam urusan kekuatan militer di udara, Jerman mengandalkan kualitas teknologi mumpuni melalui armada F-35 Lightning II dan Eurofighter Typhoon yangmemiliki kemampuan siluman (stealth) serta akurasi tinggi. Secara total, Jerman punya 596 pesawat yang ditopang oleh infrastruktur radar canggih dan kemampuan operasional jarak jauh. Sementara itu, Iran punya 551 unit.
Namun, Iran memiliki jumlah pesawat tempur murni lebih banyak (188 unit) dibandingkan Jerman (127 unit). Selain itu, Iran juga dapat mengandalkan strategi "serangan massal" dengan ribuan drone seri Shahed yang terbukti mampu menembus sistem radar yang mahal.
Perbedaan tajam juga terlihat pada kekuatan helikopter, di mana Jerman mendominasi dengan 292 unit helikopter secara total, termasuk 49 helikopter serang. Angka ini di atas Iran yang hanya mengoperasikan 129 helikopter dengan hanya 13 unit versi serang. Kekuatan Jerman di sektor ini menunjukkan fokus Bundeswehr pada dukungan udara jarak dekat bagi pasukan darat dan mobilitas pasukan reaksi cepat.
Melansir laman Global Fire Power, berikut ini perbandingan kekuatan udara Iran vs Jerman.
| Aspek | Jerman | Iran |
| Total pesawat | 596 | 551 |
| Pesawat tempur | 127 | 188 |
| Serangan khusus | 63 | 21 |
| Transportasi | 55 | 86 |
| Pelatih | 16 | 103 |
| Misi khusus | 27 | 10 |
| Pesawat tanker udara | 3 | 6 |
| Helikopter | 292 | 129 |
| Helikopter serang | 49 | 13 |
Berdasarkan data Global Firepower Index 2026 dan SIPRI, Iran memegang keunggulan kuantitas dalam elemen serangan darat, khususnya pada sistem proyektor roket bergerak (MLRS). Teheran tercatat mengoperasikan 1.550 unit proyektor roket. Sebaliknya, Jerman yang hanya memiliki 33 unit.
Perbedaan lain adalah armada kavaleri. Iran mengandalkan 2.675 tank tempur, hampir sembilan kali lipat dari total 296 tank Leopard 2A7/A8 milik Jerman. Di sisi lain, secara teknologi tank Jerman jauh lebih unggul dalam akurasi dan perlindungan aktif.
Selain itu, Iran memperkuat pertahanan statisnya dengan 1.803 unit artileri tarik dan 424 unit artileri swagerak, berbanding terbalik dengan Jerman yang telah menghapus artileri tarik dan hanya menyisakan 134 unit artileri swagerak untuk mendukung mobilitas tinggi.
Namun, Jerman tetap mempertahankan keunggulan pada aspek mobilitas infanteri dan perlindungan personel dengan kepemilikan 87.338 kendaraan lapis baja, melampaui Iran yang memiliki 75.939 unit. Tingginya angka kendaraan lapis baja Jerman mencerminkan kesiapan Bundeswehr dalam menghadapi perang dinamis di daratan Eropa.
Berikut ini aspek-aspek perbandingan kekuatan darat militer Iran dan Jerman.
| Aspek | Jerman | Iran |
| Kekuatan tank | 296 | 2.675 |
| Kendaraan lapis baja | 87.338 | 75.939 |
| Artileri Swagerak | 134 | 424 |
| Artileri Tarik | 0 | 1.803 |
| Proyektor roket bergerak | 33 | 1.550 |
Perbandingan Kekuatan Maritim Militer Iran vs Jerman
Terkait kekuatan militer maritim, Jerman dan Iran menunjukkan postur kekuatan yang unik karena kedua negara sama-sama tidak mengoperasikan kapal induk, kapal perusak, maupun kapal pembawa helikopter. Berdasarkan data Global Firepower, Iran punya total 109 armada laut. Sebaliknya, Jerman memiliki 96 unit.
Pada sektor bawah air, Teheran mengoperasikan 25 kapal selam yang terdiri dari kelas Kilo hingga kapal selam mini kelas Ghadir yang sangat efektif di perairan dangkal. Jumlah ini jauh melampaui Jerman yang hanya memiliki 6 kapal selam kelas Type 212A.
Di sisi lain, Jerman mempertahankan keunggulan pada kualitas kapal permukaan dengan mengandalkan 11 kapal fregat kelas Baden-Württemberg dan 6 unit korvet. Sebaliknya, Iran hanya memiliki 7 fregat dan 3 korvet.
Secara keseluruhan, perbandingan kekuatan maritim kedua negara mencerminkan prioritas geografis yang berbeda. Jerman menitikberatkan pada 54 kapal patroli dan armada korvet untuk menjaga stabilitas Laut Utara dan Baltik dalam kerangka kolektif Eropa. Sebaliknya, Iran memanfaatkan keterbatasan armada permukaannya dengan memaksimalkan fungsi kapal selam dan kapal patroli cepat.
Berikut ini rincian aspek-aspek perbandingan kekuatan militer maritim Iran dan Jerman.
| Aspek | Jerman | Iran |
| Kekuatan armada | 96 | 109 |
| Kapal induk | 0 | 0 |
| Pembawa helikopter | 0 | 0 |
| Kapal selam | 6 | 25 |
| Kapal perusak | 0 | 0 |
| Kapal fregat | 11 | 7 |
| Corvette | 6 | 3 |
| Kapal patroli | 54 | 21 |
| Peperangan ranjau | 12 | 1 |
Pembaca dapat mengakses artikel terbaru tentang konflik AS-Iran di Tirto.id melalui tautan berikut.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id





























