tirto.id - Mengapa Fátima Bosch (Meksiko) jadi pemenang Miss Universe 2025 yang finalnya digelar di Bangkok pada Jumat (21/11/2025)? Ia yang sempat mengalami insiden dengan Nawat Itsaragrisil, direktur Miss Universe Thailand, keluar sebagai juara dengan mengalahkan Praveenar Singh (Thailand) dan Olivia Yacé (Côte d'Ivoire).
Saat Fatima Bosch Fernandez diumumkan jadi juara Miss Universe 2025, tidak sedikit penggemar kontes kecantikan di media sosial bertanya. Pasalnya, ada beberapa favorit netizen yang gugur lebih awal. Misalnya, Sanly Liu (Indonesia) yang kandas sebelum top 30, Vanessa Pulgarin (Kolombia) yang terhenti di Top 12, atau Ahtisa Manalo (Filipina) yang hanya keluar sebagai runner-up ketiga.
Fatima Bosch mencuitkan kalimat "Ini untukmu, MEKSIKO" di X (Twitter) sembari menambahkan frasa Viva Mexico pada Jumat (21/11) siang. Bersamaan dengan itu, ia mengunggah foto saat mendapatkan mahkota Miss Universe dari sang pendahulu, Victoria Kjær Theilvig, Miss Universe 2024 dari Denmark.
Cuitan tersebut mendapatkan 264 ribu views, di-repost 7,4 ribu kali, mendapatkan lebih dari 40 ribu likes, dan lebih dari 1000 komentar. Di antara komentar tersebut adalah ucapan, "Terima kasih telah menunjukkan kepada dunia bahwa perempuan Meksiko memiliki suara yang tak dapat dibungkam siapa pun."
Lantas, bagaimana Fatima Bosch memenangkan Miss Universe 2025? Apa pula kontroversi yang menjerat kontes kecantikan ini, yang juga melibatkan sang pemenang sebelum putaran final?
Alasan Fátima Bosch Jadi Pemenang Miss Universe 2025
Fátima Bosch keluar sebagai juara Miss Universe 2025 dengan menyisihkan nama yang lebih populer disebut di media sosial. Namun, sebenarnya ia tampil konsisten sejak babak preliminary hingga final. Ia menyajikan deretan busana ikonik sepanjang kontes, bukan sekadar indah dilihat, tetapi juga mengandung strategi visual dan komunikasi identitas yang matang.
Fátima Bosch selalu tampak percaya diri, karismatik, dan berwibawa dalam setiap kesempatan. Setiap busana yang dipilihnya juga memperkuat karakter yang ditonjolkan sosok kelahiran 19 Mei 2000 ini. Misalnya, gaun ruby (merah delima) menawan di final yang berkilau di bawah sorotan lampu. Ia juga anggun dengan swimsuit merah dalam sesi terdahulu, menampilkan kontrol penuh untuk mendominasi runway.
Penampilan Fatima Bosch dalam kostum nasional juga jadi salah satu yang mencolok, memperlihatkan kedalaman identitas dan konteks budaya Meksiko. Kostumnya terinspirasi dari Xochiquetzal, dewi cinta dan kecantikan Aztec. Pakaian yang dirancang oleh Fernando Ortiz membutuhkan waktu pembuatan hingga 7 bulan, memadukan seni pra-Hispanik dengan modernitas,
Dari busananya saja, Fatima Bosch terlihat mampu mengkomunikasikan gagasan dan nilai melalui visual. Ini kemampuan penting untuk role model internasional. Di samping itu, dalam sesi interview, Bosch tampil memukau. Pernah didiagnosis disleksia dan ADHD, sosok kelahiran Teapa, Tapasco ini menekankan pentingnya membuka ruang belajar yang lebih ramah bagi anak dengan perbedaan cara berpikir.
Kemenangan Bosch juga dikaitkan dengan konsistensinya dalam mengkomunikasikan kampanye literasi anak, akses pendidikan inklusif, pemberdayaan perempuan muda. Ini menunjukkan bobot Miss Universe bukan sekadar pageant kecantikan.
Pada malam final, Fatima Bosch mendapatkan pertanyaan tentang apa saja tantangan menjadi perempuan pada 2025 dan bagaimana ia, jika terpilih sebagai Miss Universe. menggunakan gelar tersebut untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan di seluruh dunia.
"Saya akan menggunakan suara dan kekuatan untuk melayani sesama. Sekarang, kita (perempuan) di sini untuk bersuara, untuk membuat perubahan, dan memiliki pandangan yang luas karena kita adalah perempuan. Mereka yang berani berdiri adalah mereka yang akan membuat sejarah," papar Fatima Bosch dikutip Cosmo.
Kontroversi Insiden Bosch & Itsaragrisil di Miss Universe 2025
Insiden besar terjadi saat Fátima Bosch menghadiri acara penyematan sash beberapa hari sebelum final.
Di acara tersebut, Nawat Itsaragrisil, direktur Miss Universe Thailand, menegurnya secara terbuka dan menyebutnya "dummy". Bosch langsung menegaskan ketidaksetujuannya dan berkata, "Saya punya suara. Anda harus menghormati saya sebagai wanita.”
Sikap tegas Bosch ini kemudian menjadi viral. Apalagi, insiden itu memicu walk-out massal, lebih dari 40 kontestan dilaporkan meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes terhadap perlakuan yang diterima Bosch. Di antara kontestan yang keluar adalah Miss India, Miss Guatemala, Miss Filipina, Miss Puerto Riko, Miss Pantai Gading.
Kini, setelah Fatima Bosch menjadi pemenang Miss Universe 2025, muncul pertanyaan apakah Bosch menang karena kemampuan atau karena simpati?
Pada dasarnya, Bosch adalah paket lengkap. Ia memiliki kecantikan fisik, kecerdasan emosional, kekuatan komunikasi, platform advokasi, dan ketenangan saat tertekan. Kontroversi dengan Nawat Itsaragrisil justru menjadi panggung yang menunjukkan sosok Bosch yang tidak takut menantang ketidakadilan.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id




























