Menuju konten utama

Bangkrutnya Brescia & Pasang-Surut Hidup Klub Liga Italia

Brescia dinyatakan bangkrut setelah eksis selama 115 tahun. Pasang surut Le Rondinelle mengingatkan kita pada nasib Fiorentina dan Parma dekade sebelumnya.

Bangkrutnya Brescia & Pasang-Surut Hidup Klub Liga Italia
Brescia Calcio. instagram/brescia_calcio
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Brescia Calcio akhirnya benar-benar lenyap. Setahun setelah tak lagi berkompetisi, Le Rondinelle dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Brescia pada Selasa, 28 Juli 2026 lalu. Sejarah 114 tahun klub asal Lombardia tersebut ditutup karena utang 20 juta Euro yang tak kunjung dibayar.

Sejak berdiri pada 17 Juli 1911, Brescia hanya tampil 23 musim di Serie A. Namun, Le Rondinelle hadir pada era keemasan Liga Italia akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Klub yang bermarkas di Stadion Mario Rigamonti itu pernah bertahan 5 musim di Serie A. Brescia yang dilatih oleh Carlo Mazzone, finis peringkat 8, prestasi terbaik klub sepanjang sejarah, pada musim 2000/2001. Ini dilanjutkan dengan tembus final Piala Intertoto musim berikutnya.

Musim-musim tersebut, Brescia memang punya deretan nama yang membuat mereka bisa bersaing. Selain Roberto Baggio, ada pula Pep Guardiola, Luca Toni, Igli Tare, hingga Andrea Pirlo.

Namun, setelah era kejayaan, masa suram Brescia datang. Terakhir kali mereka tampil di Serie A adalah pada 2019/2020. Le Rondinelle hanya numpang lewat, karena terjun ke Serie B musim berikutnya, sampai terjerembab ke Serie C pada musim 2024/25.

Musim berikutnya, seiring dengan krisis finansial yang meluas di tangan presiden Massimo Cellino, Brescia tidak tampil di Serie C. Puncaknya, pada Senin (28/7) bertepatan dengan ulang tahun ke-70 Cellino, Brescia Calcio secara hukum dinyatakan bangkrut.

Jejak-jejak Terakhir Brescia Sebelum Bangkrut

Tenggelamnya Brescia sudah terlihat sejak akhir musim 2024/2025. Ketika itu, sebenarnya Le Rondinelle finis musim reguler Serie B dengan total 43 angka, atau 1 poin di atas zona degradasi. Namun, mereka mendapatkan pengurangan 4 angka karena pelanggaran finansial sejumlah 2,4 juta Euro terkait pembayaran gaji pemain dan staf.

Alhasil, poin Brescia jadi 39 angka saja di klasemen akhir. Mereka turut terdegradasi langsung ke Serie C bersama Cittadella dan Cosenza sebagai 3 tim terbawah Serie B musim tersebut.

Bencana belum usai karena pada 7 Juni 2025, Brescia mengumumkan ketidaksanggupan tampil di Serie C akibat krisis keuangan yang berkepanjangan. Tak lama berselang, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) mencabut lisensi profesional klub. Tidak hanya itu, FIGC juga menjatuhkan hukuman larangan beraktivitas selama enam bulan kepada Massimo Cellino beserta putranya yang juga menjabat sebagai pengurus klub, Edoardo.

Kini, setelah setahun terkatung-katung, Brescia akhirnya lenyap. Dalam laporan La Gazzetta, dengan beban utang sebesar 20 juta euro (sekitar Rp414 miliar), nasib Le Rondinelle benar-benar tidak tertolong lagi.

Sebenarnya, Brescia masih berhak memperoleh dana solidaritas sekitar 6 juta euro atau sekitar Rp124,1 miliar dari transfer mantan pemain mereka, Sandro Tonali, yang baru saja pindah dari Newcastle ke Tottenham. Namun, angka tersebut tidak cukup. Setelah Brescia bangkrut, uang dari transfer Tonali akan masuk ke FIFA fund.

Romantisme Brescia Era Keemasan Bersama Baggio & Pep

Brescia memang tidak punya sejarah emas di Serie A. Prestasi terbaik mereka adalah juara Serie B 4 kali, yang terakhir pada 2018/2019. Selain itu, Le Rondinelle memang lebih banyak menghabiskan waktu di Serie B dengan 66 musim.

Namun, saat Serie A terbentuk pada 1929, Brescia termasuk salah satu dari 18 klub yang bermain di kompetisi level teratas tersebut. Hanya saja, memang, selama sembilan dekade berikutnya, Le Rondinelle tidak mendapatkan trofi mayor apa pun dan lebih suka berkutat di Serie B.

Momen paling penting dalam sejarah Brescia adalah ketika mereka bisa promosi ke Serie A berkat finis peringkat 3 Serie B 1999/2000. Dalam empat musim berikutnya, seiring dengan kedatangan sang legenda Roberto Baggio, Brescia jadi klub yang disegani.

Roberto Baggio

AS Roma's Frenchman Jonathan Zebina (R) tackles Brescia's Roberto Baggio during their Italian Serie A clash at the Olympic Stadium March 11, 2001. (Photo REUTERS/VP)

Baggio mencetak 45 gol dalam 101 penampilan bersama Brescia sepanjang 4 musim. Ia menemukan hidup kembali setelah masa buruk di Internazionale dan konflik melawan Marcelo Lippi. Hal tersebut tidak terlepas dari sosok Carlo Mazzone, pelatih Brescia saat itu.

Di bawah Mazzone dan dalam komando Baggio, La Rondinelle tercatat finis di peringkat 8 Serie A 2000/2001 dengan 44 poin, hasil dari 10 menang, 14 seri, dan 10 kalah. Baggio sendiri masuk nominasi Ballon d'Or 2001 dan mendapatkan gelar Guerin d'Oro 2001 dari Guerin Sportivo, penghargaan untuk pemain dengan rating tertinggi di Serie A dalam semusim.

Brescia era tersebut memang disebut sebagai "Brescia-nya" Baggio. Namun, para pemain lain juga menonjol. Misalnya, Andrea Pirlo yang ditempatkan oleh Mazzone sebagai regista, alih-alih posisi gelandang yang lebih menyerang. Ada pula Pep Guardiola, yang bergabung ke Le Rondinelle pada 2001 untuk memperdalam ilmu bersama Baggio dan Mazzone.

Dario Hubner tidak dapat dikesampingkan. El Bisonte keluar sebagai top skor Serie A musim 2000/2001 dengan 24 gol dari 31 laga pada saat usianya sudah 34 tahun.

Namun, setelah Baggio pensiun pada musim 2003/2004, pudar pula pesona Brescia. Mereka langsung terjun ke Serie B pada musim berikutnya, setelah finis di peringkat 19 Serie A 2004/2005.

Brescia sempat 2 kali tampil lagi ke Serie A pada 2010/2011 dan 2019/2020. Namun, nasib Le Rondinelle selalu sama. Mereka datang ke kompetisi level tertinggi sekadar numpang lewat, alias langsung terdegradasi lagi.

Kini, dengan bangkrutnya Brescia Calcio, apakah berarti mereka bakal lenyap selama-lamanya?

Pasang Surut Hidup Klub Liga Italia Seperti Parma dan Fiorentina

Klub Liga italia bangkrut lantas bangkit setelah berganti nama bukanlah cerita baru. Fiorentina yang bernama asli AC Fiorentina. Klub yang berdiri pada 29 Agustus 1926, harus bangkrut pada Juni 2002.Mereka terlahir kembali dengan nama baru, Associazione Calcio Fiorentina e Florentia Viola, dan mulai berkompetisi di Serie C2, divisi profesional terbawah pada Agustus 2002. Mereka menyandang nama ACF Fiorentina sejak 2003.

Parma punya pengalaman serupa. Mereka berdiri sebagai Verdi Footbal Club pada 27 Juli 1913. Namun, klub ini mengalami likuidasi pada 1968. Mereka kemudian bangkit kembali dengan nama Parma Associazione Calcio alias Parma AC. Meski mengalami era kejayaan pada era 1990-an hingga awal 2000-an, Parma krisis pada 2004. Entitas baru muncul lagi, Parma Football Club.

Nestapa terjadi lagi pada musim 2014/2015 ketika Parma dililit utang hingga ratusan juta Euro dan gagal membayar gaji pemain. Gialloblu kala itu juga harus dibangun ulang dari nol sebagai klub amatir di Serie D dengan nama baru, yaitu S.S.D. Parma Calcio 1913. Mereka bangkit dan kini kembali ke panggung Serie A.

Bangkrut, lalu berganti kulit dan nama menjadi bagian dari sejarah klub Liga Italia. Tidak semua, tapi beberapa mengalaminya. Lantas, apakah Brescia kelak juga akan mengalaminya?

Ikuti kabar terbaru seputar dunia olahraga dari Tirto.id dengan cara klik tautan ini.

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Imanudin Abdurohman

tirto.id - Olahraga
Kontributor: Imanudin Abdurohman
Penulis: Imanudin Abdurohman
Editor: Fitra Firdaus