tirto.id - Kementerian Sosial (Kemensos) menghadirkan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) untuk warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Layanan yang diutamakan bagi kelompok rentan, meliputi anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, hingga warga lanjut usia ini digelar sejak Minggu (23/8/2026).
Subcluster LDP mulai diaktifkan sejak hari ketiga masa pengungsian, dengan melibatkan 18 lembaga dan organisasi non-pemerintah (NGO). Sebagian besar lembaga itu berfokus pada pendampingan anak-anak, sementara layanan bagi masyarakat dewasa disediakan bersama tim Kemensos.
Guna mengetahui kondisi psikologis penyintas, tim LDP Kemensos melaksanakan asesmen psikososial. Berdasarkan hasil asesmen, sekitar 19 persen korban berada dalam kategori merah atau memiliki tingkat risiko sangat tinggi. Sebanyak 31 persen kategori kuning atau berisiko sedang, dan 50 persen kategori hijau atau berisiko ringan.
"Yang merah kami rujuk ke psikolog karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli. Sementara yang masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui layanan psikososial," kata Igun Gunawan dari Tim LDP Kemensos.
Tim LDP juga menjalankan asesmen lanjutan kepada penyintas kategori merah yang sudah dirujuk ke psikolog.
Penanganan warga dengan dampak psikologis atau trauma berat melibatkan psikolog dari universitas maupun yang tergabung dalam tim penanganan bencana.
Adapun penyintas kategori kuning dan hijau diberi pendampingan lewat Psychological First Aid (PFA), kegiatan rekreatif, hingga beragam aktivitas yang bertujuan membantu mereka memulihkan kembali fungsi sosial.
Menurut Igun, ternyata masih ada warga yang membawa trauma dari peristiwa gempa dan tsunami 1992 silam. Trauma lama ini berpotensi kembali muncul setiap kali terjadi gempa susulan.
"Karena sebagian warga memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami 1992, ketika terjadi gempa susulan ada yang kembali mengalami keterkejutan, kecemasan atau ketakutan. Karena itu, kami memberikan latihan stabilisasi dan grounding agar mereka mengetahui apa yang dapat dilakukan ketika merasa cemas atau takut," jelasnya.
Selain stabilisasi dan grounding, para penyintas turut dibekali edukasi serta latihan langkah penyelamatan diri jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.
Layanan psikososial dari Kemensos disediakan lewat rangkaian kegiatan harian di sejumlah lokasi pengungsian.
"Ada layanan rekreasional, pertolongan pertama psikologis, layanan untuk mengembalikan fungsi sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur," ujar Igun.
Kegiatan dimulai pukul 06.00 WITA dengan senam pagi bersama yang melibatkan warga, anak-anak, relawan, hingga personel TNI dan Polri. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama dan aktivitas kebersihan lingkungan.
Memasuki pukul 10.00–12.00 WITA, fokus kegiatan beralih ke pendampingan anak-anak berupa aktivitas rekreasional, PFA, dan sesi psikososial lain.
Setelah anak-anak beristirahat, giliran perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lansia mendapat pendampingan pada pukul 14.00–16.00 WITA, dengan kegiatan berupa aktivitas rekreasional dan PFA.
Menjelang pukul 16.00 WITA, kegiatan kembali digelar khusus untuk anak-anak bersama para relawan subcluster LDP hingga menjelang malam.
Bagi anak-anak muslim, seusai salat Magrib mengikuti kegiatan mengaji di musala darurat. Sementara anak-anak Katolik mengikuti Sekolah Minggu setiap hari Minggu.
Layanan dukungan psikososial akan terus berjalan di lokasi pengungsian dan disesuaikan dengan kondisi maupun kebutuhan para korban. Pendampingan diberikan secara bertahap sesuai hasil asesmen, termasuk rujukan bagi mereka yang membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh tenaga profesional.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































