Menuju konten utama

Kemenpar Geser Target Wisata ke ASEAN Imbas Perang Timur Tengah

Kemenpar geser fokus promosi wisata guna mitigasi dampak perang Timur Tengah yang ancam devisa RI hingga Rp56,5 triliun.

Kemenpar Geser Target Wisata ke ASEAN Imbas Perang Timur Tengah
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (1/4/2026). Rapat tersebut membahas tindak lanjut rencana kerja Kementerian Pariwisata tahun 2026. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gejolak geopolitik di Timur Tengah akibat perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran menjadi ancaman nyata bagi stabilitas industri pariwisata tanah air. Dalam paparannya pada Rapat Kerja bersama DPR di hari Rabu (01/04/2026), Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkap potensi berkurangnya kunjungan wisatawan yang mencapai 1,68 juta orang dengan risiko kehilangan devisa negara hingga Rp56,5 triliun.

Widiyanti menjelaskan bahwa situasi ini menciptakan tantangan berat yang ia sebut sebagai krisis multifaset. Krisis ini memicu lonjakan biaya operasional akibat harga avtur yang naik, mengakibatkan fuel surcharge maskapai meningkat hingga 105 persen.

"Pariwisata kita saat ini menghadapi apa yang kami identifikasi sebagai Triple Shock: gangguan mobilitas udara akibat penutupan ruang angkasa, lonjakan biaya tiket karena kenaikan avtur, serta penurunan permintaan global. Kami harus bergerak cepat dengan strategi mitigasi yang presisi agar dampak kerugian devisa tidak semakin dalam." ungkap Widiyanti.

Sebagai langkah mitigasi, Kemenpar menyiapkan strategi pengalihan fokus pasar (pivoting). Pemerintah akan menggeser target promosi ke pasar jarak pendek (short-haul) di ASEAN serta pasar menengah (medium-haul) seperti Australia (Oceania) dan China. Strategi ini mencakup optimalisasi maskapai non-Timur Tengah dan penambahan kapasitas kursi penerbangan langsung melalui hub alternatif.

Wakil Ketua Komisi VII, Evita Nursanty, mendukung langkah mitigasi tersebut namun menyoroti ketidaksinkronan eksekusi promosi. Evita membandingkan capaian Malaysia yang mampu menarik 60 persen wisatanya dari pasar ASEAN, sementara Indonesia baru mencapai 40 persen.

"Potensi market ASEAN sangat besar karena faktor jarak, apalagi di situasi perang begini. Tapi promosinya sering tidak sinkron, tujuan kita mau fokus ke Asia Tenggara, tapi dalam paparan tadi fokus promosi masih terlihat besar ke Eropa dan Amerika. Mitigasi ini harus benar-benar diubah sesuai kondisi lapangan." ujar Evita.

Di sisi lain, pimpinan Komisi VII mendorong Widiyanti untuk lebih serius menggarap Wisatawan Nusantara (Wisnus) sebagai penyangga utama ekonomi domestik. DPR mendesak penurunan harga tiket pesawat domestik dan perbaikan kualitas layanan maskapai nasional agar pergerakan warga lokal tidak beralih ke luar negeri, mengingat biaya perjalanan ke mancanegara seringkali lebih murah dibandingkan destinasi di dalam negeri seperti Labuan Bajo atau Danau Toba.

==============

Dini Puspita Ramadhani berkontribusi dalam tulisan ini.

Baca juga artikel terkait TARGET WISMAN atau tulisan lainnya dari Intern tirto

tirto.id - Flash News
Reporter: Intern tirto
Penulis: Intern tirto
Editor: Siti Fatimah