Menuju konten utama

Kemenkes: 293 Ribu Sekolah Tidak Punya Akses Air Minum & Sanitasi

Data Kemenkes 2022 menunjukkan  terdapat 293 ribu sekolah yang tidak memiliki akses terhadap air minum, sanitasi, dan kebersihan dasar.

Kemenkes: 293 Ribu Sekolah Tidak Punya Akses Air Minum & Sanitasi
Sejumlah siswa mencuci tangan sebelum mengikuti uji coba pembelajaran tatap muka terbatas di SMAN 1 Kota Tangerang, Banten, Senin (6/9/2021). ANTARA FOTO/Fauzan/hp.

tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan berdasarkan profil sanitasi sekolah, ada 293 ribu sekolah yang tidak mempunyai akses terhadap air minum, sanitasi, dan kebersihan dasar di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu dalam sambutan secara virtual di acara bertajuk “Sosialisasi Panduan STBM Sekolah/Madrasah yang Responsif terhadap Gender & Inklusi Sosial serta MKM”, yang disiarkan langsung via kanal YouTube Kementerian Kesehatan RI pada Selasa (13/9/2022).

“Data menunjukkan tahun 2022 berdasarkan profil sanitasi sekolah, khususnya di sekolah, ini fakta bahwa terdapat 293 ribu sekolah yang tidak memiliki akses terhadap air minum, sanitasi, dan kebersihan dasar. Tidak hanya itu, bahkan masih banyak ditemukan toilet laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan di sekolah-sekolah ya,” beber dia.

Sementara itu, lanjut Maxi, menurut hasil studi Plan Indonesia dan The SMERU Research Institute tahun 2018, tercatat 79 persen pelajar perempuan tidak pernah mengganti pembalut di sekolah karena alasan tidak nyaman.

“Hal ini tentu menyebabkan mereka kehilangan waktu belajar dibandingkan yang lain [karena tidak nyaman],” ucap dia.

Maxi menuturkan, ketersediaan air minum, sanitasi, serta fasilitas kebersihan yang aman di sekolah merupakan prasyarat terciptanya lingkungan sekolah atau madrasah yang aman, bersih, dan sehat. Hal ini sejalan dengan mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2015 melalui tujuan pembangunan kelanjutan yang ditargetkan dicapai tahun 2030.

“Di mana seluruh anak Indonesia berhak atas lingkungan sekolah yang aman, bersih, dan sehat. Dengan juga memberikan perhatian khusus pada anak perempuan dan penyandang disabilitas,” kata dia.

Di samping itu, Maxi pun menyebut bahwa beban ganda (double burden) penyakit termasuk penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan, tantangannya makin berat. Penyakit berbasis lingkungan seperti diare, malaria, demam berdarah dengue (DBD) angka kematiannya tinggi, namun dia tidak merincikan jumlahnya.

“Jadi beban ganda atau dikenal dengan double burden, di mana penyakit menular ini masih menjadi masalah kesehatan. Sementara morbiditas, mortalitas, dan disabilitas akibat penyakit tidak menular juga tajam peningkatannya,” tambah Maxi.

Menurut dia, adanya beban ganda penyakit tersebut dikarenakan faktor lingkungan akibat pencemaran bahan kimia dan faktor lingkungan lain seperti masih rendahnya kualitas air minum, akses, kualitas, serta sanitasi. Hal ini menyebabkan berbagai penyakit infeksi dan masalah gizi kronis (stunting).

“Kita tentu harus bekerja keras dan bekerja cerdas agar supaya kebutuhan dasar masyarakat terkait dengan lingkungan benar-benar terpenuhi, antara lain sanitasi, air minum yang aman, pengelolaan sampah, pengelolaan limbah, dan lain-lain,” tutur Maxi.

Baca juga artikel terkait SANITASI atau tulisan lainnya dari Farid Nurhakim

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Restu Diantina Putri