Kembangkan Energi Terbarukan, Pertamina Gandeng BUMN Lain

Reporter: Mutaya Saroh - 1 Apr 2016 10:44 WIB
Dibaca Normal 1 menit
tirto.id - [caption id="attachment_39753" align="alignnone" width="1500"]
Gedung Pusat Pertamina. TIRTO/Andrey Gromico
Gedung Pusat Pertamina. TIRTO/Andrey Gromico.[/caption]

PT Pertamina (Persero) bersinergi dengan tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yaitu PT Len Industri, PT Energi Management Indonesia (EMI) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

"Sinergi BUMN ini diharapkan dapat mendorong implementasi EBT di Indonesia yang akan dimulai dengan target hingga 60 MW pada tahun 2017 di wilayah Sumatera Utara dan akan dilanjutkan pengembangannya selama tiga tahun ke depan hingga mencapai target 200 MW, dengan memanfaatkan sejumlah lahan 'idle' milik Pertamina yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia," kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, di Jakarta, Jumat, (1/4/2016).

Wianda mengatakan PT SMI selaku lembaga pembiayaan infrastruktur sangat diharapkan bantuannya dalam mencarikan dana “hijau” yang banyak dikucurkan oleh negara-negara maju sehingga keekonomian proyek menjadi menarik.

Sementara BUMN lain, LEN, merupakan BUMN industri strategis yang telah memiliki fasilitas produksi solar modul dan telah memiliki aset operasi PLTS 5MWp di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan, EMI merupakan BUMN di bidang energi yang berpengalaman di bidang manajemen proyek dan konsultan di bidang penanganan konservasi energi dan energi terbarukan.

“Proyek-proyek yang akan dikembangkan dalam sinergi BUMN ini akan terus mengedepankan prinsip-prinsip komersial dan memenuhi tata kelola perusahaan yang baik untuk menjadi pioneer dalam pengembangan EBT di Indonesia,” kata Wianda.

Tujuan kerjasama

Wianda menjelaskan tujuan sinergi dengan tiga BUMN tersebut seiring dengan upaya pemenuhan target pemerintah dalam program 35 Gigawatt (GW) hingga 2019. Dalam program itu 25 persen atau setara 8,8 GW berasal dari sumber energi terbarukan. Oleh karena itu, kata Winda, Pertamina berkomitmen untuk ikut membangun PLTS sebesar 1.000 MW.

Untuk mencapai target tersebut, kata Winda, pengembangan EBT rencananya tetap disesuaikan dengan kemampuan serap kapasitas jaringan PT PLN (Persero).

"Dengan skala yang makin masif dan pengembangan yang intensif di seluruh Indonesia, tentunya biaya pembangkitan listrik dari energi baru dan terbarukan akan terus mendekati biaya pembangkitan dari energi konvensional," tandas Wianda.

Tantangan pengembang energi terbarukan

Meskipun begitu, Surya Darma selaku Ketua Masyarakat Energi Baru Terbarukan Indonesia (METI) mengatakan secara umum kendala pengembangan EBT sama. Menurutnya, bagi investor penanaman modal akan diukur dengan tingkat pengembalian modal dari setiap investasi yang ditanamkan.

“Untuk itu menjadi kewajiban pemerintah memberikan payung hukum yang dapat memberikan kemudahan dalam berinvestasi, memiliki pasar energi yang luas hingga tingkat pengembalian yang menarik walaupun dengan berbagai risiko sekalipun,” ujar Surya.

Surya menyebut sinergi antara Pertamina dengan tiga BUMN tersebut merupakan langkah yang baik.

Ia mengatakan Pertamina sebagai perusahaan energi yang memiliki kemampuan finansial yang baik, bekerjasama dengan LEN yang memiliki kompetensi di bidang solar energi dengan pengalaman yang panjang, baik sebagai pelaku manufaktur, pengembang, bahkan sebagai operator. Ditambah dengan SMI dan EMI, akan memperkuat sinergi pengembangan EBT ke depan.

“Apabila hal ini terus dilakukan saya kira banyak proyek EBT yang sudah dicanangkan pemerintah akan dapat dikembangkan dengan maksimal," ujar Surya. (ANT)


Baca juga artikel terkait BADAN USAHA MILIK NEGARA atau tulisan menarik lainnya


Reporter: Mutaya Saroh


DarkLight