Menuju konten utama

Keluarga Korban Terra Drone Minta Bantuan Pemulangan Jenazah

Mereka hanya ingin membawa pulang jenazah Pariyem tanpa ada biaya yang berat dan menambah beban duka.

Keluarga Korban Terra Drone Minta Bantuan Pemulangan Jenazah
Sulaiman (baju oranye), kerabat korban kebakaran Terra Drone bernama Pariyem (25) asal Lampung, saat diwawancarai di RS Polri Kramat jati, Jakarta Timur, Rabu (10/12/2025). tirto.id/M Fajar Nur

tirto.id - Keluarga Pariyem (31), satu dari 22 pekerja yang tewas dalam kebakaran gedung Terra Drone di Kemayoran, meminta bantuan pemerintah untuk memulangkan jenazah ke kampung halaman korban di Lampung. Mereka berharap biaya pemulangan jenazah ditanggung penuh, merujuk pada pernyataan Gubernur DKI Pramono Anung yang sebelumnya menyebut penanganan korban akan difasilitasi pemerintah.

Harapan itu disampaikan keluarga melalui Sulaiman, tetangga dekat mereka, yang menjemput jenazah di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (10/12/2025). Ia mengatakan keluarga membutuhkan kejelasan soal pembiayaan pemulangan jenazah.

“Ya saya dengar informasi dari media katanya Pemprov DKI menanggung untuk transportasi ambulans. Cuma kami tolong lah yang dari Lampung ini ya tolong digratiskan lah ambulans,” ujar Sulaiman, di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (10/12/2025).

Hari masih pagi di instalasi forensik, namun Sulaiman dan kakak Pariyem telah menempuh perjalanan sepanjang malam dari Lampung usai mendapat kabar gedung Terra Drone terbakar, Selasa (9/12/2025) siang. Kebakaran itu menewaskan Pariyem yang bekerja di lantai 5 gedung tersebut.

Sulaiman datang mewakili keluarga, yang masih terpukul atas peristiwa ini, sekaligus diminta menemani menjemput jenazah.

“Jangan sebelah-belah pihaklah. Karena kami ya orang enggak punya di Lampung. Jadi kami mohon sama gubernurnya untuk dibantu [biaya] ambulans-nya lah sepenuhnya,” kata Sulaiman.

Pariyem merantau sendirian ke Jakarta empat tahun lalu. Setelah ayahnya meninggal, ia ikut memikul tanggung jawab mencari nafkah bagi ibunya yang telah renta.

Menurut Sulaiman, keluarga di Lampung baru mengetahui kabar kebakaran di sore hari.

“Kejadian kebakaran itu sekitar jam 1 atau jam 2 siang katanya. Saya dari keluarga di Lampung baru dapat kabar sekitar jam setengah 6 sore. Saya langsung luncuran, nyampai sini Subuh,” kata Sulaiman.

Kabar terakhir mengenai Pariyem berasal dari status media sosial di jam makan siang. Tak lama setelah itu, komunikasi terputus. Telepon tak lagi tersambung.

“[Statusnya terakhir] makan. Jam makan siang. Karena ada yang makan siang, ada yang shalat. Itu pas jam makan siang,” ujar Sulaiman.

Hingga kini, pihak keluarga sepakat satu hal, sang ibu belum boleh diceritakan kabar kepergian Pariyem.

“Posisinya masih tua, rentan droplah,” kata Sulaiman. “Cuma kalau saudara-saudara lain sudah dikasih informasi semua.”

Di tengah urusan administrasi dan rasa kehilangan yang mendesak, tuntutan keluarga Pariyem sederhana. Mereka hanya ingin membawa pulang jenazah Pariyem tanpa ada biaya yang berat dan menambah beban duka.

“Kalau pihak keluarga itu menuntutnya cuma enggak neko-neko sih, cuma hanya ya pulangin jenazah lah, itu aja. Ya seumpamanya pihak perusahaan mau ngasih santunan, ya saya terima dengan senang hati,” tutur Sulaiman.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Farida Susanty