Menuju konten utama
Edusains

Keanekaragaman Anjing Bermula pada Zaman Batu

Manusia menjinakkan anjing sejak puluhan tahun silam. Sejak itulah mereka berkawin campur satu sama lain sehingga melahirkan keturunan berbagai jenis.

Keanekaragaman Anjing Bermula pada Zaman Batu
Anjing Tersenyum. foto/istockphoto

tirto.id - Dalam sebuah episode di siniarnya, komedian Korea-Amerika, Bobby Lee, pernah bertutur bahwa ayahnya dulu sering bercerita tentang dirinya yang bertarung melawan serigala.

"Waktu aku seusiamu, di Korea, aku sering membunuh serigala," ujar Bobby, menirukan ucapan ayahnya.

Bobby yang kala itu berusia 14 tahun bertanya balik, "Hah? Memangnya ada, ya, serigala di Korea?"

"Oh, banyak sekali! Di mana-mana ada serigala!" jawab ayahnya. "Suatu kali ada serigala yang menyerang, kupatahkan kakinya, kupukul wajahnya dengan tongkat, pop pop!"

Bobby lantas melanjutkan ceritanya, "Beberapa hari kemudian, temanku si John membawa anjing Corgi-nya ke rumahku. Lalu, ayahku berkata, 'Berapa umur serigalamu itu?'"

Sontak, mendengar itu, Bobby pun terperanjat. "Jadi, selama ini yang kau bunuh itu anjing?!"

Apakah cerita itu benar-benar terjadi, hanya Bobby yang tahu. Akan tetapi, "sketsa" itu menunjukkan satu hal yang pasti. Bahwanya anjing dan serigala memiliki keterkaitan soal gen.

"Ketika Anda melihat seekor Chihuahua, Anda sedang melihat seekor serigala yang sudah hidup sangat lama bersama manusia sampai-sampai bentuknya termodifikasi," ujar Dr. Allowen Evin, dari University of Montpellier.

Baru-baru ini Dr. Evin dan koleganya menerbitkan sebuah makalah di jurnal Scienceyang menunjukkan waktu persisnya bentuk anjing mulai berubah. Berdasarkan riset mereka, morfologi anjing mulai mengalami perubahan sejak 11.000 tahun lalu, atau pada zaman batu. Lantas, apa beda hasil studi Dr. Evin ini dengan klaim yang menyebut bahwa jenis-jenis anjing baru mulai eksis pada zaman Victoria?

Anjing Sudah Beragam Sejak Belasan Ribu Tahun Silam

Anjing sudah didomestikasi atau dijinakkan oleh manusia lebih dari 23.000 tahun lalu, menurut temuan Angela R. Perri dkk., pada 2021. Dalam studi tersebut, turut serta seorang ahli paleogenetika bernama Laurent Frantz yang, belum lama ini, juga terlibat dalam penelitian baru tentang pola perpindahan anjing purba. Penelitian yang dipimpin Zhao-Jie Zhang itu mendapati bahwa gelombang perpindahan manusia, mulai dari pemburu-peramu, petani purba, sampai masyarakat yang sudah memiliki logam, selalu diikuti perpindahan populasi anjing khas mereka.

Salah satu kasus paling menonjol terlihat di Tiongkok sekitar 4.000 tahun silam. Ketika teknologi olah logam mulai masuk dari padang stepa Asia Tengah, yang masuk ke Tiongkok bukan cuma manusia, tetapi juga anjing-anjingnya. Temuan Zhang dkk., menunjukkan bahwa, 4.000 tahun silam, sudah ada jenis anjing berbeda untuk setiap komunitas manusia.

Temuan Zhang dkk., adalah soal waktu pertama kali anjing mulai terdiversifikasi secara morfologis. Dalam hal ini, temuan mereka sejalan dengan yang didapati oleh Evin dkk., bahwa keanekaragaman anjing mulai terbentuk sekitar 11.000 tahun silam.

Sebenarnya, yang dimaksud dengan waktu terbentuknya keanekaragaman anjing adalah momen ketika bentuk anjing mulai berbeda dengan moyangnya, yaitu serigala. Hal ini terlihat paling jelas pada bentuk tengkorak anjing-anjing purba tersebut. Evin dan timnya mempelajari 643 tengkorak canid yang mencakup anjing modern, serigala modern, anjing purba, dan canid era Pleistosen, untuk mendapatkan jawaban pastinya.

Anak Serigala Meksiko

Anak Serigala Meksiko, dua dari tujuh bayi yang baru lahir April lalu, di Kebun Binatang Los Coyotes di Kota Meksiko, Meksiko, Jumat (14/7). ANTARA FOTO/REUTERS/Henry Romero

Pada era Pleistosen akhir (126 ribu s.d. 11.700 tahun silam), semua tengkorak yang sebelumnya pernah diklaim sebagai "anjing generasi awal" ternyata tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibanding tengkorak serigala. Pada masa itu, yang membedakan anjing dan serigala hanya konteks arkeologis serta genetika. Sementara itu, dari segi bentuk, keduanya masih terlampau mirip. Ya, domestikasi memang sudah dimulai di Siberia sejak 23.000 tahun lalu, tetapi secara morfologis anjing dan serigala masih tak bisa dibedakan.

Perubahan yang dimaksud, ketika anjing dan serigala mulai tampak berbeda, baru benar-benar terlihat pada zaman Holosen awal. Holosen adalah periode geologi terakhir yang bermula pada 11.700 silam dan masih berlangsung hingga kini. Pada zaman itu, mulai muncul tengkorak berbeda bentuk, terutama ditandai dengan moncong lebih pendek dan proporsi kepala tak sebesar sebelumnya. Ini adalah titik ketika anjing, sebagai sebuah spesies, pada akhirnya benar-benar lahir.

Nah, begitu hewan bernama anjing itu lahir, keanekaragamannya langsung tinggi. Tengkorak-tengkorak pada era yang sama menunjukkan ukuran serta bentuk berbeda. Artinya, anjing tidak cuma memisahkan diri dari serigala, tetapi juga menciptakan varian-varian baru dalam spesiesnya sendiri.

Lantas, apa yang membuat anjing langsung punya banyak varian sedari "lahir"? Ini tidak bisa dipisahkan dari cara mereka berinteraksi dengan manusia-manusia pada masa itu.

Sebelas ribu tahun lalu, manusia di satu area dan lainnya sudah hidup dengan cara berbeda. Bumi kala itu baru saja keluar dari zaman es, iklim mulai menghangat, dan manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya masing-masing. Artikel National Geographic menjelaskan bahwa pada masa itu ada kelompok manusia yang sudah mulai bercocok tanam, tetapi masih ada pula yang berburu dan meramu.

Di Timur Tengah, misalnya, rerumputan liar seperti gandum mulai tumbuh dan itulah awal masyarakat wilayah tersebut mulai bercocok tanam. Namun, di tempat lain, berakhirnya zaman es membuat hewan buruan jadi lebih mudah ditemukan sehingga tradisi berburu dan meramu pun diteruskan.

Tiap-tiap kelompok punya anjing khas tersendiri dan itulah yang pada akhirnya menciptakan keanekaragaman pada anjing. Namun, menariknya, belum diketahui faktor terpenting yang membuat wujud anjing jadi berubah secara fisik.

Dr. Carly Ameen dari University of Exeter, yang termasuk dalam anggota tim penelitian Dr. Evin, kepada BBCmenjelaskan, "Kemungkinan besar yang menyebabkan terjadinya perubahan itu adalah kombinasi dari interaksi dengan manusia, keharusan beradaptasi di lingkungan berbeda, adaptasi dengan jenis makanan yang berbeda, semua punya peranan. Namun, memang, sulit untuk mengetahui faktor mana yang paling dominan."

Beda Zaman, Beda Kategorisasi Anjing

Kendati demikian, keanekaragaman anjing yang sudah muncul pada masa Holosen awal tersebut tidak bisa menjelaskan fenomena yang kita lihat sekarang. Sebab, saat ini, ada 300-400 ras anjing yang diakui oleh beberapa badan internasional. Untuk keanekaragaman yang satu ini, penjelasannya tidak ditemukan 11.000 tahun lalu, melainkan sekitar 100-200 tahun lalu.

Michael Worboys, penulis buku The Invention of the Modern Dog: Breed and Blood in Victorian Britain, dalam artikelnya di Aeonmenjelaskan, kategorisasi ras anjing seperti yang eksis sekarang (Spaniel, Bulldog, Corgi, Labrador, Rottweiler, dll.) bukanlah produk sejarah berusia ribuan tahun, melainkan hasil dari "konspirasi" Kennel Club, organisasi resmi pemelihara anjing, pada zaman Victoria.

Sebelum zaman Victoria, anjing tidak dikategorisasi ke dalam ras. Ras, menurut Worboys, adalah kategorisasi yang hanya merujuk kepada tampilan alih-alih fungsi. Ketika itu, kategorisasi anjing masih berkisar pada persoalan fungsi. Kurang lebihnya, ya, ada anjing penjaga, anjing pemburu, anjing penarik kereta, sampai anjing penggembala.

Menurut Worboys, itu semua berubah pada pertengahan abad ke-19, ketika orang-orang Inggris zaman Victoria mulai terobsesi dengan dua hal: klasifikasi dan kompetisi. Dari sinilah muncul budaya baru bernama dog fancy: anjing tidak lagi dinilai dari pekerjaan, tetapi dari penampilan. Pada 1873, The Kennel Club, organisasi pertama yang secara resmi menetapkan standar ras dan mencatat silsilah anjing, didirikan dan menjadi titik awal dunia mengenal ras-ras anjing seperti sekarang.

Sebelum Kennel Club, tidak ada yang namanya anjing ras murni, tidak ada buku silsilah, tidak ada standar panjang untuk moncong, juga tidak ada aturan untuk bentuk telinga. Anjing dibiakkan sesuai kebutuhan dan mereka berkawin campur secara alami.

Namun, Kennel Club mengubah segalanya. Mereka menulis aturan-aturan baru soal ukuran tubuh anjing, bentuk telinga, warna bulu, bentuk kepala dan moncong, dan lain-lain. Hasilnya? Bermunculanlah breeder yang bertujuan "menghasilkan" anjing sesuai standar Kennel Club.

Dua di antara ras anjing yang "dihasilkan" secara khusus untuk keperluan kontes ala Kennel Club adalah St. Bernard dan Bull Terrier. Anjing-anjing ini tidak lagi dipekerjakan melainkan dipelihara dan di-breeding untuk bersolek dan dipamerkan di berbagai kontes. Pada akhirnya, kepemilikan anjing pun bukan lagi soal profesi atau lingkungan tempatnya hidup, melainkan soal status sosial pemilik.

Penjelasan Worboys perlu diberikan untuk memisahkan antara keanekaragaman yang dimaksud oleh Evin dkk., dan keanekaragaman yang ada saat ini. Jadi, jangan dibayangkan Evin dkk., menggunakan tengkorak anjing jenis St. Bernard dalam penelitiannya. Semua itu baru terjadi dalam kurun 100-200 tahun terakhir.

Meski demikian, bisa dibilang bahwa keanekaragaman ala Victoria sebenarnya merupakan pengembangan lebih jauh dari keanekaragaman yang lahir secara alami sebelas ribu tahun silam. Sebab, ada pula anjing-anjing ras modern yang sebenarnya masih dihargai murni karena fungsinya.

Belgian Malinois, misalnya, secara spesifik disebut sebagai anjing militer karena, ya, sebagian besarnya digunakan untuk keperluan tempur. Lalu, anjing Australian atau German Shepherd, seperti namanya, memang benar-benar cakap dijadikan penggembala.

Kennel Club era Victoria tidak sepenuhnya merusak relasi orisinal antara manusia dengan anjing yang sudah berlangsung selama puluhan ribu tahun; mereka hanya menambah bumbu bernama prestise ke dalam relasi tersebut.

Baca juga artikel terkait HEWAN PELIHARAAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin