tirto.id - Komandan Satuan Pendidikan (Dansatdik) Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes) Pusat Kesehatan Angkatan Darat (Puskesad), Letkol Said Jauhari, mengungkapkan alasan mengapa peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang mengikuti Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial dilarang untuk mengoperasikan telepon seluler (ponsel) atau handphone (HP).
Menurut Jauhari, peserta SPPI yang kebanyakan merupakan bagian dari generasi Z (gen Z) mudah kehilangan konsentrasi ketika mengoperasikan HP.
“Sekarang itu kan generasinya gen Z ya. Jadi kalau dipegangin handphone, konsentrasi belajarnya jadi berkurang. Dia main handphone aja nanti,” kata Jauhari kepada wartawan di Pusdikkes Puskesad, Selasa (30/6/2026).
Meski begitu, ia menyebut, pada saat materi pembelajaran manajerial untuk pembekalan calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), pengoperasian HP akan diperbolehkan.
“Tapi pada saat [materi] manajerial nanti kan mereka harus mengakses internet tuh, nah itu akan diberikan. Gitu. Tapi selama latihan awal ini, ya mereka dibatasi komunikasinya,” ucapnya.
Sampai sejauh ini, Jauhari menjelaskan, para peserta program SPPI diberikan waktu selama satu jam setiap satu kali dalam sepekan untuk mengoperasikan HP dan menjalin komunikasi dengan keluarga maupun kerabat.
Di luar waktu tersebut, jika pihak keluarga ingin berkomunikasi dengan para peserta, maka mereka bisa menghubungi pelatih untuk menanyakan kabar terkini.
“Kita ada grupnya dengan keluarga, mereka bisa menghubungi saya. Seperti kemarin ada anaknya ulang tahun gitu kan, contohnya. ‘Komandan,;anak saya ulang tahun, boleh nggak kita belikan kue?’ Oh ya boleh, gitu kan, disampaikan,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyampaikan korban meninggal calon manajer KDKMP dan KNMP yang tergabung sebagai peserta SPPI 2026 bertambah menjadi lima orang.
Kelima peserta tersebut meninggal dunia saat mengikuti sesi latihan dasar kemiliteran atau Latsarmil. Belakangan, program latsarmil itu berganti nama menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial.
"Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (29/6/2026) dilansir dari Antara.
Perubahan itu dilakukan setelah Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, mengevaluasi sistem pembelajaran, setelah kejadian lima peserta latsarmil meninggal dunia.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































