Menuju konten utama

Anggaran Latsarmil Kopdes Rp30 Juta/Orang, Suatu Pemborosan?

Anggaran latsarmil kopdes disebut mencapai Rp45 juta per orang. Adapun anggaran pelatihan manajerial Rp15 juta per orang dan sisanya untuk latsarmil.

Anggaran Latsarmil Kopdes Rp30 Juta/Orang, Suatu Pemborosan?
Siswa Komponen Cadangan (Komcad) unsur Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov Sulawesi Selatan mengikuti upacara penutupan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Komcad Matra Darat ASN di Rindam XIV/Hasanuddin, Gowa, Sulawesi Selatan, Selasa (12/5/2026). Sebanyak 500 ASN Pemprov Sulsel tersebut telah menyelesaikan Latsarmil Komcad Matra Darat ASN dan selanjutnya akan mengikuti upacara sumpah serta pelantikan sebagai Komcad Matra Darat yang akan dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto pada 13 Mei 2026 di Lapangan Karebosi, Makassar. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Program latihan dasar kemiliteran (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) terus menuai sorotan. Usai lima peserta tewas dan berujung perubahan program, anggaran yang digunakan untuk latsarmil kini disorot. Anggaran untuk program ini disebut mencapai Rp30 juta/orang, belum termasuk untuk pelatihan manajerial.

Sebelumnya, program latsarmil bagi calon manajer Koperasi Merah Putih menuai sorotan usai lima pesertanya tewas selama mengikuti pelatihan tersebut. Kelima korban tewas itu meninggal dunia di lokasi yang berbeda-beda, namun kasus kelimanya terjadi pada kurun waktu yang relatif singkat.

Peserta latsarmil pertama yang tewas adalah Yoanda Muhammad Taufiq. Ia meninggal dunia pada 17 Juni 2026 di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja karena henti jantung.

Kemudian, pada 18 Juni, seorang peserta bernama Anisa Muyasarroh meninggal di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman di Balikpapan. Mendiang Anisa disebut meninggal karena heat stroke.

Kemudian, pada 22 Juni, Novia Rahmadhani Sitohang meninggal dunia selama mengikuti latsarmil di Satdik Pusbahasa Kodiklatau di Jakarta. Ia disebut meninggal karena Tuberkulosis.

Tak lama setelahnya, pada 25 Juni, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal ketika menjalani pelatihan di Satdik Yon PARAKO 465, Jakarta Timur. Sehari berselang, pada 26 Juni, Nola Dya Sari meninggal dunia ketika menjalani pelatihan di Satdik C Kalimantan.

Buntut lima kasus peserta tewas itu, Kementerian Pertahanan selaku penyelenggara program kemudian menghentikan latsarmil bagi calon manajer Kopdes. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait menyebut pelatihan kini akan dialihkan sebagai pembekalan bela negara alih-alih latihan militer.

“Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan latsarmil lagi,” terang Rico pada Senin (29/6), dikutip dari Antara.

Menurutnya, kegiatan pelatihan kini akan berfokus pada pembentukan karakter, disiplin, dan tanggung jawab. Selain itu, pelatihan juga akan diarahkan sebagai cara calon manajer bisa memiliki kesiapan manajerial selaku pengelola koperasi.

“Kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari latihan,” kata Rico.

Namun, hal itu tak lantas membuat sorotan publik menguap. Program yang telah berlangsung hampir sebulan dan diikuti 35.476 orang itu rupanya dilakukan dengan anggaran yang besar, yakni hingga Rp30 juta/orang.

Anggaran Latsarmil Calon Manajer Koperasi Merah Putih Dinilai Pemborosan

Nilai anggaran Rp45 juta/orang untuk calon manajer Koperasi Merah Putih diungkap oleh anggota Komisi I DPR Fraksi PDI-P Mayjen TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin. Ia juga merinci alokasi dana tersebut dalam keterangannya pada Senin (30/6/2026).

Menurut TB Hasanuddin, pelatihan itu menghabiskan anggaran senilai Rp45 juta untuk setiap orang. Total nilai anggaran ini digunakan untuk setiap peserta pelatihan selama 45 hari masa pelatihan.

Akan tetapi, jika dilihat dari pengalokasian anggaran tersebut, pos anggaran terbesar justru berasal dari latihan militer, alih-alih pelatihan manajerial. TB Hasanuddin menyebut, dari Rp45 juta/orang itu, Rp30 juta digunakan untuk keperluan latsarmil dan Rp15 juta sisanya untuk pelatihan manajerial.

Menurut TB Hasanuddin, jika dihitung berdasarkan total peserta pelatihan, porsi anggaran pelatihan untuk latsarmil mencapai triliunan rupiah. Hal ini kemudian disorot TB Hasanuddin karena berpotensi jadi pemborosan anggaran.

TB Hasanuddin menyebut pelatihan calon manajer Koperasi Merah Putih akan jauh lebih efisien jika “latihan militer dihilangkan”. Terlebih, ia menyebut orientasi program pelatihan ini seharusnya berfokus pada kompetensi profesional, bukan latihan fisik dan kemiliteran.

Menurutnya, pelatihan calon manajer KDMP seharusnya memberikan pengetahuan dan kemampuan yang “relevan dengan kebutuhan pekerjaan” sebagai manajer koperasi.

Alih-alih tembak-menembak, TB Hasanuddin menilai program seharusnya berfokus pada pembekalan “kemampuan mengelola bisnis, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, dan pemberdayaan masyarakat”.

Baca juga artikel terkait LATSARMIL KOPDES atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar