Menuju konten utama

Anak Bupati di Riau Positif Narkoba Karena Asap Ganja, Bisa?

Kasus anak bupati positif narkoba di Riau disebut terpapar karena ikut menghirup asap ganja yang disulut orang lain. Apakah hal demikian bisa terjadi?

Anak Bupati di Riau Positif Narkoba Karena Asap Ganja, Bisa?
Ilustrasi kasus narkoba. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kasus penyalahgunaan narkoba menyeret dua selebgram berinisial SA dan AF setelah hasil tes urine keduanya positif etomidate. Namun, AF yang merupakan anak bupati di Riau disebut positif karena terpapar asap ganja. Benarkah paparan asap ganja bisa membuat tes narkoba menjadi positif?

SA dan AF diamankan bersama belasan orang lainnya dalam razia yang dilakukan aparat kepolisian di sebuah tempat hiburan malam di Pekanbaru pada Minggu (24/5/2026) dini hari. Razia tersebut dilakukan sekitar pukul 02.00 WIB ketika petugas menemukan dugaan aktivitas penyalahgunaan narkoba di salah satu ruangan tempat hiburan tersebut.

"Petugas kemudian mengamankan total sebanyak 13 orang," ungkap Kepala Kepolisian Resor Kota Pekanbaru Kombes Pol Muharman Artha dikutip Antara (27/5/2026).

Seluruh orang yang diamankan kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara guna menjalani tes urine. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruhnya positif mengandung zat terkait narkotika maupun bahan adiktif lainnya.

Mereka yang diamankan masing-masing berinisial KS (32), RR (22), GSA (23), TT (28), AF (21), MAY (24), FTR (22), IMF (22), MA (23), NR (23), SAP (22), SA (23), dan ALS (23).

Kepala BNN Pekanbaru Kombes Pol. Wawan mengungkapkan bahwa SA diketahui juga mengonsumsi alkohol selain zat terlarang lainnya. Sedangkan AF dinyatakan positif etomidate dan ganja.

Menurut hasil pemeriksaan awal, kandungan ganja pada AF diduga berasal dari paparan asap ganja di lingkungan sekitarnya, bukan karena penggunaan langsung. BNN menjelaskan bahwa dua orang tersangka mengaku menghisap ganja di toilet dan ketika hal itu dilakukan, AF masuk ke ruangan sehingga ia ikut terpapar.

Paparan Asap Ganja ke Tubuh Menurut Penelitian

Sebuah penelitian berjudul Non-Smoker Exposure to Secondhand Cannabis Smoke. I. Urine Screening and Confirmation Results yang dilakukan oleh Edward J. Cone, George E. Bigelow, Evan S. Herrmann, John M. Mitchell, Charles LoDico, Ronald Flegel, dan Ryan Vandrey, para peneliti ingin mengetahui apakah seseorang yang tidak merokok ganja bisa tetap memiliki kandungan THC dalam tubuhnya dengan hanya menghirup asap ganja dari orang lain.

Hal ini menjadi perhatian karena kadar THC atau Tetrahydrocannabinol yang merupakan senyawa utama dari ekstrak tanaman ganja, dalam produk ganja modern semakin tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Untuk menguji hal tersebut, enam pengguna ganja diminta merokok ganja di ruangan tertutup bersama enam peserta lain yang tidak merokok sama sekali.

Para peserta duduk secara bergantian agar non perokok tetap terkena paparan asap secara langsung. Penelitian dilakukan dalam tiga sesi berbeda.

Pada dua sesi pertama, ruangan dibuat tertutup tanpa ventilasi sehingga asap terkumpul di dalam ruangan. Pada sesi ketiga, ventilasi dinyalakan agar udara dapat bersirkulasi. Ganja yang digunakan memiliki kadar THC berbeda, yakni sekitar 5,3 persen pada sesi pertama dan 11,3 persen pada sesi kedua dan ketiga.

Setelah paparan asap berlangsung, para peneliti mengambil sampel urine peserta non-perokok selama sekitar 34 jam untuk diperiksa di laboratorium.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh orang yang tidak merokok ganja tetap bisa menyerap THC ke dalam dirinya hanya karena menghirup asap ganja dari lingkungan sekitar.

Dalam kondisi ekstrem, terutama di ruangan tertutup tanpa ventilasi dan penuh asap ganja, beberapa peserta bahkan sempat menunjukkan hasil tes urine positif ganja. Namun, penelitian juga menegaskan bahwa kondisi tersebut tergolong tidak umum.

Hasil positif biasanya hanya muncul pada beberapa jam setelah paparan dan terjadi dalam situasi yang sangat jelas, misalnya berada lama di ruangan kecil yang dipenuhi asap ganja. Ketika ventilasi ruangan digunakan dengan baik, kadar THC pada peserta no-perokok turun drastis dan hampir tidak ada hasil tes positif.

Centers for Disease Control and Prevention atau lembaga kesehatan masyarakat nasional AS (CDC) dalam laman resminya juga menyebut jika paparan asap rokok tembakau dari orang lain atau secondhand smoke selama ini telah diketahui memiliki berbagai risiko kesehatan serius, terutama terhadap jantung dan paru-paru.

CDC menjelaskan, selain zat beracun, asap ganja juga mengandung THC yaitu senyawa utama yang menyebabkan efek psikoaktif atau rasa “high” pada pengguna ganja.

THC dari asap ganja dapat terhirup oleh orang di sekitar, termasuk bayi dan anak-anak. Mereka dapat ikut terpapar meskipun tidak menggunakan ganja secara langsung.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang menghirup asap ganja dari lingkungan sekitar dapat mengalami efek psikoaktif ringan. Namun CDC menegaskan jika penelitian lebih lanjut tentang efek asap rokok ganja terhadap perokok pasif masih diperlukan.

Baca juga artikel terkait KASUS NARKOBA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar