Menuju konten utama

Kasatgas PRR: Sumur Bor dan Sanitasi Masih Perlu Diperbanyak

Pembuatan sumur bor, di Aceh dari target 578 unit, sudah selesai 369 unit. Di Sumut, dari 152 unit target, 84 unit telah dibangun.

Kasatgas PRR: Sumur Bor dan Sanitasi Masih Perlu Diperbanyak
Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian saat meninjau langsung penyintas bencana di Sumatera, Minggu (1/03/2026). (FOTO/dok.Kemendagri)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus berupaya melakukan penambahan pembangunan sumur bor serta fasilitas sanitasi berupa mandi, cuci, kakus (MCK) di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).

Menurut data Satgas PRR per 26 Februari, progres pembangunan MCK menunjukkan capaian yang cukup baik. Di Aceh, dari target 72 unit MCK, sudah 54 unit selesai dibangun. Di Sumut, dari 139 unit target, 128 unit telah rampung. Sedangkan di Sumbar, dari 46 unit yang direncanakan, sudah 21 unit yang selesai dibangun.

Sedangkan untuk pembuatan sumur bor, di Aceh dari target 578 unit, sudah selesai 369 unit. Di Sumut, dari 152 unit target, 84 unit telah dibangun. Di Sumbar, dari 107 unit rencana, baru 21 unit yang sudah dirampungkan pembangunannya.

Secara keseluruhan, sebanyak 208 MCK yang telah dibangun atau 80 persen dari 257 MCK yang ditargetkan. Sementara sumur bor telah mencapai 474 unit atau setara dengan 56 persen dari target keseluruhan yaitu sebanyak 836 unit.

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyatakan bahwa percepatan pembangunan sumur bor dan MCK darurat ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar penyintas bencana. Upaya tersebut bertujuan mencegah munculnya krisis kesehatan serta membantu pemulihan kehidupan kehidupan penyintas bencana Sumatera.

Tito juga mengapresiasi kerjasama lintas sektor yang telah gotong royong membuat sumur bor dan sanitasi MCK di lokasi titik bencana Sumatera. Pasalnya, kebutuhan air bersih dan sanitasi MCK sangat dibutuhkan setelah jaringan air bersih dan sanitasi MCK mengalami kerusakan akibat bencana longsor dan banjir yang melanda Sumatera akhir tahun lalu.

"Terima kasih banyak kepada PLN, Danantara, Kementerian ESDM ada pembuatan sumber bor dan MCK ada untuk MCK 80%, sumur bornya masih perlu banyak 56% masih baru 474, karena ini ada masalah air minum, jaringan-jaringan yang putus," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Dalam rapat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno itu, hadir juga Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Djamari Chaniago; Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono; Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar; Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy; dan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Sarah Sadiqa.

Selain itu turut hadir secara virtual Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto; Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid; Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan; Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto; serta Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Arif Satria.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis