JOMO atau Betapa Asyiknya "Ketinggalan Zaman"

Ilustrasi Berkomentar di Media Sosial. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 11 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Joy of Missing Out: ketika seseorang lebih mementingkan kebutuhan diri sendiri dan tak takut akan ketinggalan tren.
tirto.id - “Kupikir, toh, klien enggak akan mati kalau aku nggak langsung menjawab pertanyaan mereka di WhatsApp,” kata Patricia Katinka, 31 tahun, pendiri Petite Helper, perusahaan jasa dekorasi dan konseptor pameran, ketika ditemui Tirto dalam jamuan makan malam jelang tahun baru. Ia membicarakan hal-hal baru yang berhasil dilakukan pada 2019.

Patricia bangga karena bisa menikmati me time sederhana: berenang selama beberapa jam tanpa menengok ponsel. Aktivitas itu sulit ia lakukan di tengah kesibukannya berhubungan dengan banyak orang dalam rangka mengurus dekorasi pameran atau etalase toko di berbagai mal di Jakarta.

Dalam satu minggu, setidaknya Patricia menangani dua sampai tiga pembukaan acara seperti peluncuran produk kosmetik, kegiatan bersama komunitas yang diselenggarakan perusahaan retail, sampai menghias interior gedung parlemen untuk pelantikan presiden.


“Kalau tidak keburu ngapa-ngapain, aku cuma ‘parkir’ di luar pagar rumah beberapa menit. Diam sambil dengerin radio,” lanjutnya.

Ketenangan yang ia dapat jauh lebih berharga ketimbang saat mengetahui atau terlibat aktivitas bersenang-senang kawan-kawan yang diunggah di linimasa Instagram atau platform media sosial lain.

Patricia menikmati apa yang populer disebut Joy of Missing Out (JOMO), lawan dari Fear of Missing Out (FOMO) yang kerap diderita kaum muda sebagai pengguna perangkat teknologi terkini.

Awalnya adalah FOMO

Selama kurang lebih delapan tahun terakhir--seiring makin populernya Instagram--kata FOMO kerap digunakan untuk menunjuk orang yang tidak ingin ‘ketinggalan update’. Orang-orang yang didera FOMO cenderung ingin mencoba segala sesuatu yang tampak menyenangkan dan tengah populer di media sosial seperti berkunjung ke destinasi wisata atau menikmati aktivitas tertentu. FOMO juga merujuk pada ketakutan bila tidak bisa ikut bersenang-senang bersama kawan.

Psikolog Neerja Birla menyatakan bahwa FOMO memiliki dampak buruk terhadap kesehatan mental. FOMO bisa menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, kesepian, rasa minder, gelisah, depresi, dan persepsi negatif. “Tidak mengejutkan bila penggunaan obat antidepresan meningkat di era FOMO,” tulisnya dalam India Times.

Perasaan FOMO dipantik oleh gawai yang memang sengaja diciptakan agar penggunanya terus menerus memanfaatkan setiap fitur dan aplikasi yang ada dalam ponsel seperti fifur Stories.

Dalam tulisannya di The Conversation, Emily Arden-Close, Raian Ali, dan John McAlaney dari Bournemouth University menyebut bahwa fitur Stories pada Instagram, Facebook, dan WhatsApp sengaja dibuat agar pengguna teknologi terdorong untuk terus melihat unggahan terbaru.

Selain perangkat, hal lain yang bisa memicu seseorang merasa FOMO ialah keinginan untuk terkoneksi dengan orang lain. Dalam studi berjudul "Why Do People Experience the Fear of Missing Out (FoMO)? Exposing the Link Between the Self and the FoMO Through Self-Construal" (2019) yang terbit di Journal of Cross Cultural Psychology, Volkan Dogan mencatat bahwa ada orang-orang yang menilai keutuhan dirinya tersusun dari berbagai relasi interpersonal. Oleh karena itu mereka akan terus mencari cara untuk selalu terhubung dengan orang lain--termasuk terus-terusan mengecek akun media sosial kawan-kawannya.

Dogan kemudian melakukan riset guna membuktikan apakah jenis orang yang selalu ingin terhubung dengan orang lain memiliki tingkat FOMO yang tinggi. Ia mengumpulkan 566 responden yang berasal dari AS dan India dengan rentang usia 19-68 tahun. Para responden diminta menentukan skala untuk kalimat-kalimat seperti:

“Aku takut orang lain punya pengalaman lebih menyenangkan ketimbang diriku”, “Aku takut kalau teman-temanku punya pengalaman yang lebih berharga dibanding aku", “Aku nyaman beraktivitas sendiri”, “Aku nyaman menjadi pribadi yang unik.” Hasilnya, orang yang cenderung berupaya membangun relasi interpersonal lebih rentan merasa FOMO.


FOMO juga rentan terjadi pada remaja di AS. Studi berjudul "Fear of Missing Out as a Predictor of Problematic Social Media Use and Phubbing Behavior among Flemish Adolescents" (2018) menyatakan remaja 14 tahun di kawasan midwestern AS rentan mengalami FOMO. Para remaja usia tersebut takut dikucilkan dari kelompok sehingga sangat gelisah. Mereka pun takut tidak bisa mengakses media sosial karena hal itu bikin mereka merasa dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya.

Menurut makalah yang terbit pada International Journal of Environmental Research, sesungguhnya perasaan FOMO sudah muncul pada 1970-an. Bedanya pada masa itu FOMO biasanya dirasakan oleh orang-orang yang mendambakan relasi romantis. Mereka merasa bahwa orang yang sudah punya pasangan memiliki hidup yang lebih baik.

Mungkinkah JOMO?

Dua tahun ke belakang narasi Joy of Missing Out, lawan dari FOMO, digaungkan oleh media di berbagai belahan dunia. JOMO adalah istilah agar seseorang bisa hidup lebih santai, menerima dan mensyukuri keadaan mereka, hidup lebih sehat, dan tidak terobsesi untuk mengikuti tren yang ada di media sosial. Menahan diri (self-restraint) dan belajar untuk tak selalu mempedulikan hal-hal yang tengah trending adalah kuncinya.

Tapi aktivitas tersebut belum tentu bisa dan efektif dilakukan. Svend Brinkmann, penulis The Joy Of Missing Out (2017) meragukan hal itu. Brinkmann dirayakan oleh media sebagai orang yang mempopulerkan konsep itu. JOMO akhirnya setara dengan praktik-praktik hidup santai seperti hygge, lagom, dan niksen yang diimpor media-media berbahasa Inggris dari Eropa Barat dan cuma berakhir sebagai "The Next Fashionable Nonsense".

Namun, buku Brinkmann justru merupakan kritik terhadap JOMO.

Brinkmann menerangkan bahwa tidak semua orang bisa bersantai dan "memanjakan diri". Ia memberi contoh seperti ini. Dalam JOMO, individu disarankan untuk menikmati waktu bersantai, lepas dari gawai, dan mengonsumsi berbagai jenis makanan organik yang dinilai lebih bermanfaat bagi tubuh.

Masalahnya, tak semua orang bisa mengkonsumsi makanan organik--semisal ayam organik, daging sapi organik, kacang-kacangan organik--lantaran harganya yang relatif mahal dan belum tentu tersedia di banyak tempat. Dengan begitu, memanjakan diri dan menikmati hidup dengan mengonsumsi makanan sehat hanya bisa dilakukan orang-orang kaya.

"Kalau mau semua orang di negara ini bisa makan makanan organik selamanya, maka harus ada tindakan politis yang agar muncul kebijakan untuk mengurangi harga makanan organik," tulis Brinkmann dalam bukunya.



Rumusan ini juga berlaku pada hal lain semisal saat orang disarankan untuk bersantai dengan mengunjungi tempat yang memiliki udara segar. Tak semua orang yang hidup di dalam kota bisa dengan mudah mengakses daerah yang memiliki udara segar. Maka, lagi-lagi, harus ada upaya kolektif masyarakat dan pemerintah untuk menemukan cara agar lingkungan tetap lestari sehingga udara segar bisa dihasilkan oleh tanaman di seluruh kota.

"Lima belas tahun lalu hidup sederhana adalah gerakan yang benar-benar mudah untuk dilakukan. Sekarang, bila aku mengetik 'simple life' di mesin pencari, yang muncul adalah furnitur dan desain interior bergaya Skandinavia. Hidup sederhana sangatlah mahal! Mengapa? Mungkin karena konsep hidup sederhana ditargetkan untuk orang-orang mapan yang sudah mampu hidup sederhana dan nyaman, dan punya waktu untuk bermeditasi. Dan cara ini tidak bisa berlaku untuk sebagian besar orang," lanjut Brinkmann.

Lagipula, bagaimana orang betul-betul bisa menghindari FOMO ketika informasi tidak pernah berhenti dipasok dalam ekonomi digital yang justru berpijak pada eksploitasi perhatian pemegang gawai?

Brinkmann mengutip pendapat filsuf Jerome Segal yang menyebut bahwa gagasan hidup sederhana ala JOMO, adalah gagasan yang individualis dan rentan disederhanakan menjadi praktik self-help. Ia menyebut gagasan JOMO dan hidup sebagai elitist trap, sebuah situasi di mana orang-orang kaya mengarang kisah yang menganjurkan orang lain untuk menabung dan berhemat.

Tapi, tidakkah itu mirip pernyataan Marie Antoinette kepada para petani untuk makan kue justru ketika mereka kelaparan dan butuh roti?

Baca juga artikel terkait GAWAI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight