Benarkah Durasi Fokus Manusia Kini Lebih Pendek dari Ikan Mas Koki?

Ilustrasi mengerjakan PR. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Joan Aurelia - 25 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
"Fear of Missing Out" membuat orang terus terkoneksi dengan internet dan semakin mudah terdistraksi
Sejak era internet, tingkat konsentrasi manusia konon merosot tajam dan kabarnya lebih rendah dari ikan mas koki. Pada 1960-an, seniman Andy Warhol mengatakan: "Di masa depan, semua orang akan terkenal selama 15 menit". Tapi kini, siapa yang bisa tenar di hadapan kebanyakan orang yang durasi fokusnya kurang dari satu menit?

Dina (26 tahun), seorang copywriter di perusahaan agensi digital, menuturkan kepada Tirto (24/01) betapa dirinya makin kesulitan menyelesaikan pekerjaan secara efektif dua tahun belakangan. "Bawaannya pengen buka HP terus. Niat awal sih bangun pagi dan cari tema untuk kerjaan tapi jadinya malah cek-cek akun media sosial dan browsing situs-situs lain yang nggak penting," katanya.

Baru-baru ini, ia ditugaskan menulis narasi singkat tentang isu korupsi. Namun, alih-alih mencari inspirasi di dunia maya, yang getol ia telusuri malah diskon jam tangan dan sepatu DocMart.

Kejadian serupa juga pernah terjadi pada Siti Muthmainah (38 tahun) yang bekerja sebagai editor media online. Waktu bersantai sebelum tidur biasanya ia habiskan untuk memperbarui statusnya di Facebook dan mengunggah foto-foto. "Kenyataannya aku malah scroll timeline sampai jauh ke bawah, klik semua link yang menarik, dan lihat profil orang-orang yang di-tag oleh teman-teman. Jadinya malah kurang tidur deh," akunya kepada Tirto (24/01).

Ketika jeda waktu kerja, Marissa, pekerja di PR Newswire, distributor rilis media secara elektronik, mengisi waktu dengan mengunjungi situs fesyen online. Satu kali setelah mengunjungi sebuah situs belanja online, ia mengeluh laman Google-nya dibombardir iklan toko baju online yang muncul pada bagian atas, kanan, dan kiri layar. Iklan yang menginformasikan obral dagangan itu terus menghantuinya dan membuatnya harus menambah fokus kerja. “Padahal gue cuma akses situs itu sekali tapi iklannya jadi muncul tiap hari,” katanya kepada Tirto (24/01).


Menurut sebuah studi gabungan peneliti dari Departemen Pendidikan Cina, jurusan psikologi Central China Normal University, dan Southwest University yang dikutip Psychology Today (Desember 2018), kegiatan belanja online memang berpotensi menurunkan durasi fokus atau durasi perhatian (attention span) manusia. Aktivitas tersebut bikin seseorang lamban merespons sesuatu, mudah terdistraksi, dan punya konsentrasi buruk.

“Internet bisa membuat seseorang berpikir dan bertindak kurang efisien dalam mengolah informasi karena banyaknya info yang tersedia dalam waktu bersamaan.”

Dalam sebuah risetnya yang dikutip oleh Inc., profesor ilmu komputer dari University of California, Gloria Mark menyatakan, “Seorang pekerja hanya bisa fokus selama 40 detik ketika bekerja di depan layar komputer. Setelah itu, mereka akan melakukan hal lain.”

Pekerjaan memang mudah terdistraksi karena godaan membuka situs-situs yang tak berhubungan dengan pekerjaan. Itulah yang dilakukan Dina agar bisa fokus ketika bekerja di hadapan komputer. "Sudah beberapa bulan begitu. Aku benar-benar bulatkan tekad untuk cari referensi, setelah itu aku matikan internet dan mulai merenungi konsep pekerjaan."

Pada 2015, Microsoft merilis hasil studi dengan temuan yang cukup bombastis. Studi tersebut menyebutkan bahwa durasi fokus manusia untuk melakukan satu hal dalam satu waktu lebih rendah dari ikan mas koki. Tim riset Microsoft mensurvei 2000 responden dan melakukan tes elektroensefalografi guna mengetahui kemampuan otak.

Hasilnya, 44% orang berusaha keras untuk fokus melakukan hal yang sedang mereka lakukan. Empat puluh lima persen lainnya mudah terdistraksi dengan aktivitas seperti mengkhayal. Sementara itu, tujuh puluh tujuh persen responden berusia 18-24 tahun menyatakan langsung melihat ponsel bila tak ada hal lain yang lebih menarik perhatian.

Tim riset mengambil kesimpulan bahwa perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan penurunan durasi fokus. Anggapan diperkuat dengan hasil penelitian yang menyebut tingkat konsentrasi manusia menurun sepanjang 2000-2015.

Studi tersebut mengambil perbandingan dengan penelitian serupa pada 2000, ketika perkembangan teknologi informasi belum semasif 2015. Pada 2000, demikian menurut studi itu, rata-rata otak manusia mampu fokus selama 12 detik. Lima belas tahun kemudian, durasi ini turun jadi delapan detik, satu detik lebih rendah dari durasi fokus ikan mas koki.


Bukan berarti studi tersebut tak menuai kritik.

“Sayangnya Microsoft tidak menjelaskan definisi mendalam tentang apa itu 'attention span'. Penelitian tersebut cenderung menjelaskan betapa mudahnya perhatian orang beralih, namun tidak menjabarkan tingkat penurunan konsentrasi. Jika ditelaah lagi, masalah utama yang terlihat pada penelitian ini ialah multitasking, bukan kurangnya konsentrasi,” kata K.R. Subramanian dalam “Myth and Mystery of Shrinking Attention Span” (2018).

Subramanian sendiri berpendapat bahwa penurunan durasi fokus terjadi lantaran orang (khususnya kalangan muda) enggan ketinggalan informasi. Bahasa kerennya: "Fear of Missing Out" (FOMO) alias ketinggalan zaman. Faktor inilah yang mendorong anak muda terus mengikuti segala kebaruan yang muncul di dunia maya.

Bagi Dina, kebaruan tersebut kadang juga meliputi berita hiburan terbaru. "Aku sampai uninstall Facebook dan Twitter di ponsel biar nggak terganggu dengan notifikasi yang muncul dan nggak stalking akun-akun seleb," lanjut Dina yang sampai saat ini masih berusaha keras untuk tidak mengakses media sosial itu via web browser.

Orang Inggris Juara Fokus

Independent pernah menayangkan hasil penelitian Stacey Stothard dari Skipton Building Society yang dilakukan terhadap warga Inggris yang ternyata mampu fokus selama 14 menit sebelum ganti aktivitas. “Kemampuan konsentrasi yang singkat menyebabkan seseorang tak memaksimalkan waktu untuk memikirkan perkara penting, misalnya kondisi finansial dan masa depan. Hal itu hanya bisa dilakukan ketika seseorang benar-benar niat meluangkan waktu khusus guna memikirkannya,” kata Stothard.

Berbagai hasil penelitian ini membuat gelisah para pelaku industri marketing karena harus memutar otak lebih keras demi dapat perhatian publik. Produser eksekutif Great Bowery Film, Shannon Lords menyatakan “Kami harus bisa bikin konten se-kreatif mungkin dalam waktu kurang dari 15 detik”.



Pernyataan Lords didasari studi Google yang mengatakan 90 persen manusia yang memiliki beberapa perangkat teknologi, menggunakan produk tersebut secara bergantian dalam waktu satu hari. “Ini bikin kami harus memikirkan teknik pemasaran multi-kanal yang memungkinkan pengguna melihat ragam materi promosi pada setiap gawainya. Iklan singkat berdurasi empat hingga enam detik jadi jembatan untuk menelusuri produk.”

Subramanian tak menampik bila zaman sekarang para pekerja kreatif apalagi yang bekerja di ranah digital, seolah dituntut melakukan sesuatu dan mengemasnya secara cepat. Tetapi, hal itu saja tidak cukup. “Kita harus bisa melihat motivasi orang dalam melakukan sesuatu. Itu yang lebih penting. Faktor penentu durasi fokus itu beragam dan berhubungan erat dengan dorongan alami sang pelaku.”

Dalam “Factors of Attention” (2004), Viktor Dörfler menyatakan bahwa perhatian dipengaruhi oleh motivasi serta kebutuhan manusia untuk eksis, terhubung dengan lingkungan di sekitarnya , dan keinginan untuk berkembang. Terkait durasi fokus, Dörfler merujuk pendapat M. Csíkszentmihályi, penulis Flow: The Classic Work on How to Achieve Happiness (2002), yang menyatakan bahwa “Orang akan fokus bila ada tuntutan yang lebih besar dari biasanya. Jika tak ada tuntutan atau keharusan, mereka akan cepat bosan. Sebaliknya, bila terlalu banyak, maka mereka akan gelisah.”

Pengajar jurusan manajemen pada Zagreb University ini juga pernah bermasalah dengan durasi fokus saat diberi tugas oleh mentornya. "Setelah mengerjakan tugas selama beberapa hari, aku jadi mudah terdistraksi dan tidak produktif. Tiba-tiba mentorku bertanya berapa uang yang aku butuh untuk pekerjaan ini. Aku memang butuh uang tetapi tidak pernah menyinggung hal tersebut di hadapannya. Tetapi akhirnya ia memberiku uang dan hal itu bikin aku kembali semangat kerja," tuturnya.

Baca juga artikel terkait PSIKOLOGI atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight