tirto.id - Minggu 23 Mei 1993, kepanikan tiba-tiba melanda pesawat Boeing 737 yang lepas landas dari Newcastle upon Tyne, Inggris, membawa 130 penumpang menuju Malaga, Spanyol.
Akar kerepotan itu berasal dari remaja 17 tahun yang nyeletuk kepada pilot di cockpit soal kemungkinan jika ia membawa bom selama perjalanan. Sesaat pesawat mendarat, remaja asal daerah Consett, 22 km di sebelah barat daya Newcastle itu, langsung diciduk petugas keamanan Spanyol.
Setelah dilakukan penggeledahan mendalam, tidak terbukti si remaja usil itu membawa bom atau jenis bahan peledak lainnya. Ternyata semua itu hanya lelucon garing yang ia lontarkan karena terinspirasi film Top Gun. Remaja tersebut bernama John Herdman.
Lompat 33 tahun, 13 Januari 2026, remaja yang saat ini berusia 50 tahun itu, resmi diperkenalkan PSSI sebagai kepala pelatih Timnas Indonesia sekaligus menukangi Tim U-23.
Sejak belia, Herdman memang bukan bocah yang lurus-lurus saja dan tak betah menerima sesuatu hal yang pakem. Ia berasal dari keluarga sederhana yang merupakan kelas pekerja daerah industri peleburan baja di Consett. Kakeknya adalah pemimpin serikat pekerja, dan ayahnya, Norman, merupakan teknisi listrik di pabrik.
Latar belakang itu membuatnya tumbuh dengan mentalitas sebagai seorang ‘Underdog’. Tak diperhitungkan serius, diremehkan, dan tersisih. Namun posisi itu pula yang melecutkan asa di dadanya untuk membuktikan bahwa yang ‘tak dianggap serius’ mampu berada di puncak.
Dengan kegilaannya untuk terus belajar dan berinovasi, Herdman membuktikan hal tersebut dalam karier kepelatihannya di dunia sepak bola.
Dari Guru Menjadi Pelatih
Herdman memang bukan bekas pemain sepak bola profesional. Jiwa pengajar dan inovator dalam dirinya justru selaras dengan latar belakangnya yang pernah menjadi guru sekolah di kota kelahirannya, selesai lulus dari Universitas Northumbria.
Namun keinginannya untuk jadi seorang pelatih sepak bola terus meletup-letup sejak masih menjadi guru sekolah dasar.
Ketika di pagi hari mengajar sekolah dasar, malamnya Herdman bersama seorang rekannya bernama, Simon Clifford, menjalankan sekolah sepak bola gaya Brazil untuk bocah setempat. Di sana, anak-anak berlatih sepak bola dengan eksperimen diiringi alunan lagu samba khas Brazil.
Dari inovasi di luar pakem itu, nama Herdman mulai didengar oleh beberapa akademi muda profesional. Ia lantas direkrut untuk melatih tim anak-anak Sunderland U-9. Kesempatan itu juga tak disia-siakan Herdman untuk berinovasi. Menurut cerita Elliott Dickman, manajer dari akademi Sunderland saat itu, Herdman bakal datang ke lapangan membawa bola berukuran sangat berat ke sesi latihan untuk meningkatkan kemampuan pemain mengontrol bola.

Tujuannya, kata Dickman, agar kekuatan para pemain muda selama pertandingan bisa lebih bebas bergerak. Bisa dibilang, ketika melatih anak-anak bermain bola saja, Herdman bakal lebih berkeringat dibandingkan para pemain.
“Alih-alih memberi tahu terus-menerus, John lebih banyak mengajukan pertanyaan kepada para pemain. 'Menurutmu apa yang harus kita lakukan dalam situasi 2 lawan 1?', dia akan bertanya kepada anak-anak,” kenang Dickman dalam artikel yang dimuat The Athletic.
Kendati begitu, tak semua pihak merasa senang dengan terobosan nyeleneh yang diusung Herdman. Karena tidak pernah berkiprah sebagai pemain sepak bola profesional, beberapa pelatih senior akademi Sunderland menganggap Herdman tidak akan mampu melejit lebih jauh dari sekadar pelatih untuk anak-anak. Anggapan yang terbukti sama sekali salah.
Kesempatan melatih tim profesional pertama untuk Herdman justru datang di Selandia Baru. Setelah beberapa waktu melatih klub semi-profesional Hibiscus Coast, Herdman dipercaya federasi sepak bola negara itu, untuk mengambil posisi pelatih kepala Timnas putri Selandia Baru pada 2006. Dengan gaya inovatif yang diramu dengan filosofi sebagai guru sekaligus organisator baik di ruang ganti maupun di lapangan, Herdman sukses mengantar Timnas putri Selandia Baru lolos ke Piala Dunia Putri tahun 2007 dan 2011.
Ini merupakan catatan sejarah bagi Selandia Baru sekaligus yang pertama untuk Herdman secara personal. Timnas putri Selandia Baru belum pernah lagi merasakan atmosfer Piala Dunia Putri sejak 1991. Herdman juga berhasil membawa Tim putri Selandia Baru lolos ke putaran final Olimpiade Beijing 2008.
Di Beijing 2008, Timnas putri Selandia Baru bermain mengesankan usai ditukangi Herdman. Mampu menahan imbang 2-2 Jepang dan menempati posisi keempat setelah kalah tipis dari Norwegia. Herdman menilai, catatan sejarahnya bersama Tim putri Selandia Baru tersebut menjadi titik balik kariernya.
“Saat itu saya mengerti bahwa ada Tiga Pilar Utama yang harus saya perhatikan sebagai pelatih: semangat tim, keunggulan taktik, dan kekompakan tim. Dan jika saya bekerja di luar kerangka kerja ini, saya hanya membuang waktu,” kata Herdman kepada Joshua Kloke dalam artikel The Athletic.
Herdman dan Piala Dunia
Kesuksesan Herdman menahkodai Selandia Baru membuat Kanada terpincut. Pada 2011 ia resmi menjadi pelatih baru Timnas putri Kanada.
Herdman punya cara unik ketika pertama kali memperkenalkan diri sebagai pelatih Tim putri Kanada. Ia sengaja memajang foto ikon sepak bola putri Kanada, Christine Sinclair, yang menangis di lapangan pada momen Piala Dunia Putri 2011. Saat itu, Kanada bermain buruk karena sama sekali tidak memenangkan pertandingan, bahkan hanya mampu membuat satu gol ke gawang lawan.
Di bawah asuhan Herdman, Tim putri Kanada berhasil memperoleh gelar juara dalam Pan American Games 2011, mengalahkan Brasil dan Argentina. Prestasi gemilang bersama Tim putri Kanada juga berhasil diteruskan Herdman dengan memboyong dua medali perunggu bagi mereka secara berturut-turut dalam ajang Olimpiade 2012 dan 2016.
Legenda sepak bola putri Kanada, Christine Sinclair–yang fotonya dipajang Herdman, mengatakan dalam memoarnya bahwa Herdman adalah pelatih terbaik yang pernah dia miliki.
“Tanpa ragu. Dia mengubah hidup. Dia membantu Anda menemukan kembali gairah Anda. Dan dalam tim, dia menciptakan budaya kebersamaan, di mana ego Anda ditinggalkan di pintu,” tulis Sinclair.
Sejarah berlanjut, kali ini Herdman dipercayai menukangi Timnas putra Kanada pada 2018. Di titik itu, sepak bola Kanada bukan Timnas yang diperhitungkan di kancah dunia, bahkan bukan yang ditakuti di level konfederasi CONCACAF.
Namun lagi-lagi, inovasi dan metode tak biasa yang dibawa Herdman mampu mengubah situasi. Pertama kali bertemu para pemain Timnas Kanada di kamp pelatihan, Herdman langsung mendeklarasikan bahwa targetnya bukan Piala Dunia 2026, dimana Kanada akan menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Meksiko. Targetnya jelas, Piala Dunia 2022 Qatar.
Deklarasi yang diragukan oleh beberapa pemain dan staf tim Kanada sendiri saat itu. Bukan tanpa alasan, terakhir kali Timnas Kanada bermain di level Piala Dunia adalah tahun 1986. Bahkan 2017, Kanada berada di posisi 120 dunia dalam ranking sepak bola FIFA. Serupa dengan kondisi Indonesia saat ini, peringkat 122 pada tahun 2025.
Hasilnya, seperti yang diketahui, adalah sejarah baru bagi sepak bola Kanada. Dalam fase kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar, Kanada hanya kalah dua kali dari 20 pertandingan. Tim Kanada bahkan menorehkan total 54 gol selama babak kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar.
Kanada lolos Piala Dunia 2022, menjadi yang pertama kalinya dalam 36 tahun. Herdman ‘Si Jenius Gila’ (Mad Genius)–julukan dari staf kepelatihannya–mampu mengubah tim yang mulanya diremehkan, menjadi kesebelasan yang berbahaya serta pantas secara terhormat melangkah kembali ke Piala Dunia.
Rahasia kesuksesan Herdman membawa Kanada dan tim asuhannya sampai ke panggung dunia adalah satu kunci: persaudaraan. Herdman berhasil menyatukan para pemain Kanada yang memiliki latar belakang berbeda-beda, bahkan diaspora, untuk menjadi satu tim yang solid.
Awal kedatangan Herdman, tim ini sering berkelahi di kamp pelatihan. Namun ternyata diam-diam, Herdman merekam anak asuhnya yang berlatih secara kacau dan sering bertengkar itu menggunakan drone. Alhasil, mereka tersadar setelah ditunjukkan rekaman memalukan tersebut oleh Herdman. Kepada para pemain ia berkata keras, mereka tak akan pernah mencicipi panggung Piala Dunia selama persoalan tersebut tak diselesaikan.
Jika tim Kanada dapat membuktikan diri pantas lolos kualifikasi Piala Dunia, ia menyatakan kepada pemain, hal itu akan membuat mereka mencatatkan diri sebagai pembentuk sejarah. Mereka akan menjadi pahlawan dalam sepak bola Kanada dan mengubah selamanya mata dunia terhadap negara tersebut. Motivasi dan inovasi yang terbukti sukses.
“Keunggulan taktis tidak akan berhasil kecuali orang-orang memiliki kepercayaan dan rasa aman satu sama lain serta alasan mengapa kita berada di sini,” kata Herdman kepada The Athletic.
Herdman dan Timnas Indonesia
Indonesia bakal menjadi medan tempur yang sama sekali berbeda dari Kanada untuk John Herdman.
Sepak bola, bagi 283 juta lebih masyarakat Indonesia seperti nasi. Sesuatu yang dinikmati sehari-hari dan dinanti-nanti kelezatannya. Setelah mimpi menembus Piala Dunia 2026 kandas, bisa dibilang jutaan penikmat sepak bola negeri ini dalam kondisi lapar.
Dalam konferensi pers pertamanya, Selasa (13/1/2026) di Jakarta, Herdman menyampaikan bahwa Piala Dunia datang dengan proses yang panjang, bukan sesuatu yang instan. Hal ini dilengkapi dengan gaya khas ‘underdog’ miliknya. Berjanji akan mengantarkan Indonesia ke capaian yang belum pernah diraih sebelumnya.
“Saya pikir titik awalnya harus punya pemikiran seorang pionir. Saya pikir setiap dari kita memiliki kesempatan sebagai yang pertama dalam sesuatu,” kata Herdman berbicara dalam kanal YouTube Timnas Indonesia.
Pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo menilai gaya kepelatihan Herdman relatif selaras dengan karakter permainan Timnas Indonesia. Ia menyebut Herdman sebagai pelatih yang adaptif dan tidak kaku dalam menerapkan skema permainan. Meski memiliki kecenderungan kuat menggunakan formasi tiga bek, sebagaimana ketika Indonesia di bawah asuhan Shin Tae-yong.
Menurut pria yang karib disapa Bung Kesit itu, formasi yang sering digunakan Herdman kala menukangi Kanada maupun klub Toronto FC adalah skema 3-4-3 atau 3-4-2-1. Namun tidak menutup kemungkinan berubah menjadi empat bek.
“Namun format bakunya Herdman lebih sering memulai dengan 3 bek,” kata dia kepada wartawan Tirto, Jumat (23/1/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, kata Kesit, Timnas Indonesia dinilai bermain lebih solid saat menggunakan tiga bek. Pasalnya, skema ini mampu memaksimalkan kekuatan pertahanan dan melakukan serangan balik cepat, seperti yang terlihat di era STY.
Sebaliknya, Kesit mengingatkan pengalaman buruk ketika Tim Garuda menjajal pola empat bek secara mendadak. Ia menyinggung hasil buruk saat laga tandang melawan Australia di kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Ketika itu, Indonesia masih diasuh Patrick Kluivert.
“Pada saat away menghadapi Australia kita coba empat bek dan kacau balau hasilnya, Indonesia babak belur meskipun tampil baik di awal namun akhirnya kocar-kacir,” ujarnya.
Menilik rekam jejak kepelatihan sebelum dipercaya menangani Timnas Indonesia, Herdman datang dengan modal statistik dan reputasi internasional yang relatif kuat dibandingkan dua pendahulunya, Patrick Kluivert dan Shin Tae-yong (STY). Catatan ini bisa menjadi konteks penting untuk membaca ekspektasi publik terhadap arah pembangunan Timnas Garuda di bawah asuhan Herdman.
Secara total, Herdman telah menjalani 108 pertandingan sepanjang karier kepelatihannya di level tim nasional, dengan raihan 54 kemenangan, 13 hasil imbang, serta 41 kekalahan. Catatan itu mencerminkan tingkat kemenangan mendekati 50 persen, dengan rata-rata 1,62 poin per pertandingan.
Angka tersebut menempatkan Herdman sebagai pelatih dengan persentase kemenangan tertinggi dibanding Kluivert dan STY sebelum mereka menangani Timnas Indonesia.
Patrick Kluivert, sebelum datang ke Indonesia, memimpin 88 pertandingan di level klub dan tim nasional. Dari jumlah tersebut, mantan pemain Timnas Belanda itu meraih sebanyak 40 kemenangan, 19 imbang, dan 29 kekalahan, atau dengan tingkat kemenangan sekitar 46 persen.
Sementara itu, STY punya pengalaman paling panjang dengan 361 pertandingan sebelum menangani Timnas Indonesia. STY menorehkan 155 kemenangan, 85 imbang, dan 121 kekalahan, atau sekitar 42 persen tingkat kemenangan.
Herdman dan Kluivert menempuh karir dengan jumlah laga yang lebih sedikit, sedangkan STY sudah lama berkecimpung di sepak bola Korea Selatan. Baik di level klub, tim nasional senior, maupun kelompok umur. Dengan kata lain, persentase kemenangan Herdman yang lebih tinggi dicapai dalam rentang pengalaman yang ringkas, namun diwarnai prestasi pada panggung internasional yang signifikan.
Ketika menangani Indonesia, STY memang mencatat tonggak perubahan luar biasa dengan membawa Timnas menembus babak 16 besar Piala Asia 2023 dan bahkan melaju hingga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Selama periode Januari 2020 hingga Januari 2025, STY memimpin 57 pertandingan bagi Timnas Indonesia dengan hasil 26 kemenangan, 14 imbang, dan 17 kekalahan.
Dengan latar belakang tersebut, Herdman memikul ekspektasi besar bagi Timnas Indonesia. Tantangannya bukan hanya menyamai capaian era STY, tetapi juga melampauinya dalam fase membentuk skuad Garuda menuju target jangka panjang di panggung dunia. Termasuk mimpi tampil di Piala Dunia 2030.
Pengamat sepak bola Mohamad Kusnaeni alias Bung Kusnaeni menilai pemilihan Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia adalah keputusan strategis untuk menjawab target jangka panjang. Menurut dia, Indonesia membutuhkan figur yang lebih dari sekadar pelatih teknis di pinggir lapangan.
Ia menilai Herdman memenuhi kebutuhan tersebut berkat rekam jejaknya bersama Selandia Baru dan Kanada. Bagi Kusnaeni, nilai lebih Herdman terletak pada kapasitasnya sebagai konseptor dan juru taktik ulung, baik di lapangan maupun di ruang ganti.
“Lebih dari sekadar berprestasi, Herdman juga seorang konseptor yang ulung,” kata dia kepada wartawan Tirto, Jumat (23/1/2026).
Dari sisi filosofi permainan, Kusnaeni memandang terdapat kecocokan antara pendekatan Herdman dan karakter timnas Indonesia. Selain itu, ide pengembangan pemain lokal yang dikombinasikan dengan rekrutmen pemain berkualitas dari kancah Eropa juga dinilai relevan untuk situasi kebutuhan Timnas Indonesia.
“Filosofi sepak bola Herdman jelas. Ia menyukai sepak bola dengan pressing, aliran bola cepat, dan transisi cepat. Agak mirip dengan filosofi sepak bola STY dulu,” ujar Bung Kus.
Di Indonesia, tantangan yang dihadapi John Herdman tentu akan lebih kompleks. Tekanan suporter, ekspektasi terhadap prestasi instan, serta pekerjaan rumah memupuk pembinaan pemain dari level akar rumput, liga domestik hingga ke tim nasional, akan menunggunya.
Namun, filosofi Herdman yang memandang sepak bola sebagai proses pembelajaran dan transformasi kultural, bisa jadi adalah gerbang awal menuju perubahan yang lebih baik bagi Timnas Indonesia, bahkan sepak bola di Tanah Air secara luas.
Hanya perlu bersabar serta menikmati proses, mungkin di akhir, kita akan kenyang menikmati racikan John Herdman.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id































