Menuju konten utama

Apa Faktor Utama Penyebab Kegagalan Indonesia ke Piala Dunia?

Kegagalan Indonesia kali ini dinilai disebabkan oleh tidak adanya visi yang jelas terkait arah dan pengembangan tim nasional.

Apa Faktor Utama Penyebab Kegagalan Indonesia ke Piala Dunia?
Pesepak bola Timnas Indonesia berpose sebelum melawan Timnas Arab Saudi pada pertandingan Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (19/11/2024). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/mrh/Spt/pri. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/Rivan Awal Lingga)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dahulu, manakala membayangkan Timnas Indonesia berlaga di Piala Dunia, rasanya bak mimpi di siang bolong. Namun, belakangan ini, mimpi jutaan pecinta sepak bola tanah air untuk melihat Timnas berlaga di Piala Dunia, yang dulu nampak begitu jauh, kini tinggal selangkah lagi.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Timnas Garuda berhasil melangkah ke Ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Timnas tinggal butuh mengalahkan dua tim, yaitu Arab Saudi dan Irak, untuk mewujudkan mimpi berlaga di panggung tertinggi sepak bola dunia yang dihelat di Amerika Serikat (AS), Kanada dan Meksiko.

Nahasnya, mimpi jutaan masyarakat Indonesia pupus dalam hitungan hari. Timnas asuhan Patrick Kluivert kalah 2-3 dari Arab Saudi, lalu kembali tumbang 0-1 melawan Irak. Sontak, rentetan hasil ini memupus harapan tim Garuda tampil di Piala Dunia.

Target Indonesia untuk tampil di Piala Dunia bukanlah sekadar wacana. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, telah menyatakan komitmennya untuk mempercepat ambisi tersebut, dari yang awalnya ditargetkan pada 2038 menjadi 2026. Dalam cetak biru transformasi sepak bola nasional yang diserahkan kepada FIFA, pada April 2023, PSSI awalnya menargetkan keikutsertaan Indonesia di Piala Dunia 2038 melalui jalur kualifikasi.

Namun, memasuki awal 2025, Erick mengubah pandangannya. Ia menilai generasi emas Timnas Indonesia saat ini memiliki potensi besar yang tidak boleh disia-siakan. Peluang tampil di Piala Dunia 2026 harus diupayakan secara maksimal.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah PSSI secara resmi menunjuk Patrick Kluivert sebagai pelatih baru Timnas Indonesia, menggantikan Shin Tae-yong yang sebelumnya diberhentikan.

Timnas Indonesia Jalani TC di Bali

Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, ketika diwawancarai oleh wartawan di Bali United Training Center, Gianyar, Senin (26/05/2025). Tirto.id/Sandra Gisela

"Mimpinya cepat, (awalnya) rencana PSSI itu Timnas lolos ke Piala Dunia pada 2038. Hidup itu kita harus ambil momentum. Kebetulan (saat ini) generasi emasnya ada diasporanya dapat yang baik-baik. Emang 10 tahun lagi ada diaspora ini? Ini kan ada aturan FIFA (hubungan) nenek-kakek, saya feeling 10 tahun lagi abis diaspora,” ujarnya, seperti dilansir dari kanal YouTube Liputan6 (8/1/2025).

Lalu, jika dianalisis lebih lanjut, apa saja faktor utama yang menyebabkan Timnas Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026?

Mempertanyakan Visi dan Road Map PSSI

Pengamat sepak bola Rossi Finza Noor menilai bahwa sebelum menyimpulkan kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 sebagai kegagalan struktural, hal mendasar yang perlu dipertanyakan adalah sejauh mana kejelasan visi dan peta jalan (road map) yang dimiliki PSSI.

“Ketika Erick Thohir baru naik menjabat sebagai Ketum PSSI, dia tidak sekalipun berjanji untuk meloloskan Timnas Indonesia ke Piala Dunia. Sebaliknya, janji-janji dia kebanyakan meliputi perbaikan kompetisi, kesejahteraan wasit, dan perbaikan pembinaan usia muda,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Senin (13/10/2025).

Timnas Indonesia

Sejumlah pesepak bola Timnas Indonesia meluapkan kegembiraannya usai mengalahkan Timnas Arab Saudi pada pertandingan Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (19/11/2024). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/Lmo/Spt/aa.

Namun, hal tersebut jadi bertolak belakang melihat apa yang dia lakukan setelah menjabat. Pergantian pelatih dari Shin Tae-yong ke Patrick Kluivert, serta penaturalisasian sejumlah pemain, mengindikasikan bahwa dia ingin sebuah hasil yang instan, termasuk lolos ke Piala Dunia.

“Jadi, menurut saya, kegagalan ini lebih ke arah kegamangan PSSI menentukan arah: apakah ingin memperbaiki sepak bola Indonesia secara keseluruhan, dari kompetisi hingga Tim Nasional, atau ingin mengambil langkah instan?” ujarnya.

Hal senada disampaikan pengamat sepak bola Aun Rahman. Ia menilai kegagalan Indonesia kali ini lebih disebabkan oleh tidak adanya visi yang jelas terkait arah dan pengembangan tim nasional. Ketiadaan visi tersebut berdampak langsung pada sejumlah keputusan penting, termasuk keputusan untuk mengganti pelatih di tengah perjalanan kualifikasi.

“Ketidaklolosan ini justru bukan terkait pembinaan usia dini maupun perbaikan kualitas liga. Karena hal ini merupakan bab yang berbeda. Tidak ada visi yang jelas terkait trajektori timnas kemudian berpengaruh terhadap pengambilan-pengambilan keputusan terkait tim nasional. Termasuk dengan mengganti pelatih di tengah jalan,” ujarnya saat dihubungi Tirto, (13/10/2025).

Timnas Indonesia U-23 lawan Korea Selatan

Ketua Umum PSSI Erick Thohir (kanan) menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia U-23 melawan Timnas Korea Selatan U-23 dalam kualifikasi Grup J Piala Asia U-23 2026 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (9/9/2025). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/mrh/rwa.

Gonta-Ganti Pelatih, Tanda Kegamangan PSSI

Seperti yang dikatakan Aun, PSSI sendiri memang mempunyai tabiat gonta-ganti pelatih yang cukup getol. Dalam kurun waktu 16 tahun terakhir, tercatat 15 nama yang pernah membesut tim nasional senior. Menariknya, dari semua sosok yang pernah menukangi timnas dalam periode itu, hanya segelintir pelatih saja yang sanggup bertahan lebih dari 2 tahun.

Rossi menilai bahwa pergantian Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah dan target PSSI. Menurutnya, meskipun Shin Tae-yong memiliki kekurangan, penggantinya seharusnya memiliki kualitas yang setidaknya setara atau lebih baik.

Timnas Indonesia melawan Arab Saudi

Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae Yong mengamati permainan anak asuhnya saat melawan Timnas Arab Saudi pada pertandingan Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (19/11/2024). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/Lmo/Spt.

Namun, hingga kini, Kluivert belum mampu menunjukkan peningkatan signifikan. Perbedaan utama antara keduanya lebih terletak pada pendekatan permainan: Shin Tae-yong dikenal dengan gaya bermain yang cenderung pragmatis, sementara Kluivert mencoba menerapkan pendekatan yang lebih proaktif.

“Tidak ada yang salah dengan bermain pragmatis atau proaktif, asalkan pemilihan pemain tepat, baik posisi maupun role-nya, serta approach dalam permainannya, struktur ketika menyerang dan bertahan, bagaimana tim melakukan press, kerapatan antarlini dsb, juga tepat. Sayangnya, dalam hal itu saja Kluivert masih terlihat pasang surut,” ujarnya.

Secara terpisah, pemerhati sepak bola Rosnindar Prio Eko Rahardjo juga menilai pemecatan STY di tengah kualifikasi Piala Dunia mengganggu kestabilan tim. Fondasi strategi yang dibangun selama tiga hingga empat tahun terganggu, sehingga pemain kesulitan beradaptasi dengan pola baru pelatih pengganti.

“Terlihat Patrick Kluivert mengganti pola bermain 3-4-3 atau 3-4-2-1 yg sdh dirumuskan oleh STY menjadi 4-3-3 atau 4-3-2-1 ala Kluivert,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Minggu (12/10/2025).

Timnas Indonesia lawan Lebanon berakhir imbang

Pesepak bola Timnas Indonesia Mauro Nils Zijlstra (kiri) berebut bola di udara dengan pesepak bola Timnas Lebanon Walid Shour dalam FIFA Matchday di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Senin (8/9/2025). Pertandingan berakhir imbang 0-0. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/bar

Erick sempat menepis anggapan pemecatan Shin Tae-yong berbau politis atau disetir oleh "mafia bola". Erick menyampaikan terima kasih kepada dedikasi Shin selama lima tahun memimpin Timnas Indonesia.

“Kita melihat, perlunya ada bimbingan yang bisa lebih menerapkan strategi yang tentu disepakati oleh para pemain, komunikasi yang lebih baik, dan tentu implementasi program yang lebih baik juga,” ucap Erick saat itu.

Tirto mencoba membandingkan statistik kepelatihan antara Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert selama menangani Timnas Indonesia. Salah satu indikator yang digunakan adalah rasio kemenangan (win rate).

Meski perlu dicatat bahwa perbedaan durasi kepemimpinan, jumlah pertandingan, serta jenis lawan membuat perbandingan ini tidak sepenuhnya setara, data tetap menunjukkan bahwa STY mencatat win rate lebih baik, yakni 45,6 persen dari 57 laga, dibandingkan Kluivert yang mencatat 37,5 persen.

Naturalisasi Harusnya Jadi Suplemen, Bukan Fondasi Utama

Rosnidar menilai lemahnya pembinaan dan kompetisi nasional turut menyebabkan kegagalan timnas, sehingga PSSI memilih jalan pintas lewat naturalisasi. Meski bisa diterima sebagai solusi jangka pendek, ia menekankan pentingnya perbaikan kompetisi dan pembinaan usia dini untuk jangka panjang.

“PSSI wajib memperbaiki kualitas kompetisi domestik hingga sepak bola usia dini disamping mencari half blood Indonesia di luar negeri,” ujarnya.

Senada, Rossi menilai menekankan bahwa apa pun bentuk kebijakan yang diambil, baik dengan atau tanpa program naturalisasi, perbaikan dan pembinaan pemain lokal tetap harus menjadi perhatian utama. Ketika kualitas pemain lokal meningkat dan didukung oleh kompetisi yang sehat, maka akan tercipta talent pool yang lebih beragam dan melimpah.

Aun memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 tidak semata-mata bisa dikaitkan dengan pembinaan usia dini atau kondisi liga domestik. Menurutnya, kelolosan ke Piala Dunia sering kali bukan cerminan langsung dari sistem sepak bola suatu negara.

“Lolos ke Piala Dunia seringnya tidak terkait sama apa yang terjadi secara umum terhadap sepakbola negara tersebut. Lebih mirip Roulette Rusia atau mungkin lotere. Ada yang negaranya perang bisa lolos, ada yang pembinaan usia mudanya gak bagus bisa lolos,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Senin (13/10/2025).

Terkait program naturalisasi, Aun menekankan bahwa naturalisasi seharusnya menjadi suplemen, bukan fondasi utama.

“Rasanya ini sudah jadi common sense, naturalisasi adalah suplemen. Untuk meningkatkan level, menambal sektor yang memang kita tidak punya. Bukan untuk dijadikan lahan utama untuk mengambil pemain,” ujarnya.

Lalu, apa yang harus dilakukan PSSI ke depannya?

Momentum Perbaikan Menyeluruh Sepak Bola Nasional

Aun menyebut kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 bisa menjadi momentum perubahan besar dalam pengembangan sepak bola nasional. Ia mencontohkan Jepang yang gagal lolos ke Piala Dunia 1994 dalam peristiwa "Agony of Doha" atau saat gol penyeimbang Irak di injury time menggagalkan kemenangan Jepang dan peluang mereka tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya.

“Jepang punya 'Agony of Doha', kegagalan lolos ke Piala Dunia 1994, yang kemudian mengubah trajektori sepakbola mereka, hingga kemudian saat ini bisa bersaing dengan negara level top dunia. Harapannya ini jadi 'Agony of Jeddah' untuk Timnas Indonesia. Sehingga ada perubahan dan pembenahan besar, utamanya untuk sepakbola Indonesia.” ujarnya.

Latihan resmi Timnas Indonesia

Pesepak bola Timnas Indonesia mengikuti latihan resmi jelang pertandingan Fifa Matchday di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (4/9/2025). Latihan tersebut sebagai ajang persiapan jelang pertandingan melawan Timnas Taiwan pada Jumat (5/9). ANTARA FOTO/Rizal Hanafi/agr

Aun menjelaskan bahwa usai kegagalan tersebut, Jepang langsung mengambil langkah konkret dengan memperkuat infrastruktur sepak bola, khususnya melalui pengembangan liga profesional (J.League) dan sistem pembinaan usia muda yang terstruktur. Kedua aspek ini menjadi fokus utama mereka di tahap awal reformasi.

Ia juga mengaitkan hal ini dengan pandangan pelatih asal Austria, Oliver Glasner, yang menekankan bahwa dalam sepak bola, kebiasaan dan pola perilaku pemain jauh lebih penting dari taktik.

“Glasner pernah berkata, 'The system is not important. Habits are important, the patterns and how you want your players to behave on the pitch. That is much more important,'” ujarnya.

Menurut Aun, jika dikaitkan dengan kondisi sepak bola Indonesia saat ini, masalah utamanya bukan terletak pada kurangnya sumber daya manusia yang kapabel. Justru sebaliknya, Indonesia memiliki banyak individu berkualitas yang mampu merancang dan menjalankan sistem sepak bola secara profesional.

“Pergantian pelatih secara sembarang, naturalisasi yang uncontrolled adalah contoh dari behaviour yang seharusnya gak hadir ketika emang tujuannya peningkatan sepakbola kita,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait SEPAK BOLA atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - News Plus
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Farida Susanty