Menuju konten utama

Jangkar Media Day: Kuatkan Suara Lokal & Lawan Hoaks

Sesi talkshow berlangsung dengan menggarisbawahi perihal cara melawan hoaks di era digital.

Jangkar Media Day: Kuatkan Suara Lokal & Lawan Hoaks
Jangkar Media Day dengan tema "Suara Lokal di Ruang Digital" di Bali pada Kamis (16/04/2026). dok.foto/istimewa

tirto.id - Tirto mengadakan Jangkar Media Day di Kedonganan, Bali, pada Kamis (16/04/2026) dengan mengangkat tema besar “Suara Lokal di Ruang Digital”. Dalam acara yang dihadiri media lokal di Bali tersebut, Tirto menggandeng PLN, Danone Indonesia, TikTok Indonesia, dan Meta.

Acara tersebut dibuka oleh Rachmadin Ismail selaku Pemimpin Redaksi Tirto. Dalam sambutannya, Rachmadin menjelaskan bahwa media lokal lebih menguasai pengetahuan dan informasi dari daerah yang bersangkutan. Oleh sebab itu, kolaborasi dengan media lokal sangat diperlukan.

“Kami berharap output yang keluar dari sini adalah pengetahuan tentang kontennya, community guidelines, dan kebijakan dari masing-masing platform, dan bagaimana cara berinteraksi dengan brand,” kata Rachmadin sewaktu membuka Jangkar Media Day, Kamis (16/04/2026).

Selanjutnya, talkshow berlangsung dengan menghadirkan Head of Communications for Southeast Asia TikTok, Anggini Setiawan-Harvey; perwakilan dari Meta; Content Manager Tirto, Rina Nurjanah; dan Corporate Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin.

Sesi talkshow berlangsung dengan menggarisbawahi perihal cara melawan hoaks di era digital. Dalam sesi tersebut, Rina sebagai perwakilan dari Tirto mengawali pemaparan dengan menjelaskan perbedaan misinformasi dan disinformasi. Misinformasi dilakukan tanpa intensi tertentu, sementara disinformasi (hoaks) memiliki intensi tertentu atau niat jahat.

Rina mengungkapkan hoaks memanfaatkan emosi seseorang. Misalnya, dengan kalimat yang hiperbola atau menggunakan kata-kata persuasif. Untuk memastikan mengenai apakah suatu konten mengandung hoaks atau tidak, perlu diperiksa kredibilitas sumber yang digunakan.

Ada baiknya mengambil jeda untuk menilai apakah suatu konten mengandung hoaks atau tidak.

Ciri lain konten yang mengandung hoaks adalah diunggah di mana-mana dan secara terus-menerus, mengandung pernyataan subjektif, terdapat ujaran kebencian, mengandung klaim yang tidak tepat, serta konten fabrikasi.

“Media sosial menimbulkan echo chamber. Bias identitas juga terkadang terjadi. Terkadang juga pada saat kita enggak yakin, tetapi selama itu bermanfaat untuk kita, maka kita percaya saja. Jadi, kita terpicu untuk memercayai itu selama dianggap bermanfaat,” ujar Rina.

Untuk memeriksa apakah suatu konten mengandung hoaks, diperlukan pemeriksaan ke sumber informasi atau yang mengunggah informasi awal, seperti jurnal atau media. Selain itu, pemeriksaan juga dapat dibantu dengan penggunaan aplikasi daring, misalnya Google Reverse Image atau Google AI.

“Akan muncul sumber yang direkomendasikan. Kita lihat apakah itu sudah pernah dibahas oleh media pemeriksa fakta atau ada foto yang serupa, serta lain sebagainya. Dengan kata kuncinya atau judul, nanti kita masukkan ke dalam Google, nanti kita cek benar terjadi atau tidak,” tuturnya.

Kedua pembicara dari TikTok dan Meta membagikan perspektif mengenai cara kerja di masing-masing platform, serta proses moderasi konten untuk menangkal hoaks dan melindungi pengguna.

Anggini dari TikTok menjelaskan bahwa TikTok merupakan platform distribusi video pendek yang menggunakan discoverability angle dalam aplikasinya. Dengan kata lain, pengguna TikTok datang untuk mencari konten yang sesuai dengan keinginan pengguna itu sendiri. Pengguna juga cenderung mencari konten berdasarkan relevansi dan kedekatannya terlebih dahulu.

Proximity antara teman-teman dengan lokasi kejadian, sesuatu yang teman-teman beritakan informasinya, itu menjadi sangat relevan. Justru biasanya angle-angle yang unik ada di sana,” jelasnya.

Selain itu, Anggini juga mengingatkan pengguna untuk membaca dan mempelajari kembali panduan komunitas (community guidelines). Hal tersebut disebabkan karena panduan komunitas mengatur konten yang boleh dan tidak boleh disiarkan di TikTok. Masing-masing platform memiliki aturannya tersendiri yang tertuang dalam panduan komunitas.

Dalam mengontrol konten yang ditayangkan di platformnya, TikTok menerapkan panduan komunitas dan fitur keamanan dalam aplikasi. Konten tersebut dimoderasi dengan menggunakan teknologi oleh pihak TiKTok, serta disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di daerah masing-masing (localization).

“Panduan komunitas ini bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman. Jadi, biasanya kadang-kadang ada pengaturan yang terbentuk. Panduan tersebut selalu berkembang dan melibatkan pakar-pakar untuk memastikan lokalitasnya,” ungkap Anggini.

Selain itu, dalam memoderasi konten, TikTok melihat setiap detail dari visual, audio, gestur, dan aspek-aspek lainnya dalam video. Keberadaan panduan komunitas dan moderasi konten tersebut dilakukan TikTok untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan keamanan komunitas yang berada di dalam aplikasi tersebut.

Sementara itu, Meta membahas mengenai pedoman komunitas yang mereka miliki. Terdapat beberapa nilai utama yang dijunjung Meta dalam komunitasnya, yakni terdapatnya ruang aman, memastikan perlindungan data pribadi, serta memberikan akses yang sama kepada seluruh penggunanya.

Apabila terdapat akun yang sekiranya menyimpang dari pedoman komunitas, Meta menganjurkan untuk segera melakukan report atau pelaporan. Laporan tersebut akan ditindaklanjuti dan dimoderasi berdasarkan standar kualitas layanan Meta, serta diarahkan kepada reviewer yang ahli berbahasa Indonesia.

Meta juga membahas mengenai konten misinformasi yang melanggar standar komunitas dan berpotensi dihapus. Konten-konten tersebut adalah misinformasi yang memiliki risiko kekerasan atau bahaya fisik; kemungkinan bahaya (harm); misinformasi yang berisiko menghalangi orang untuk berpartisipasi dalam komunitas; serta misinformasi yang berpotensi mengakibatkan penolakan pada vaksin.

Terakhir, Arif dari Danone Indonesia menjelaskan mengenai cara agar media terus eksis di dunia yang kebanjiran informasi (information overflow). Menurutnya, hal yang harus dipastikan adalah keberlangsungan dari usaha tersebut (business sustainability). Apabila sebuah organisasi tidak dapat membiayai diri sendiri, maka tidak akan dapat bertahan.

“Kita tidak lagi hidup di landscape media dalam konteks yang tradisional, tapi kita hidup di ekosistem narasi. Di Indonesia, ekosistem ini sangat dinamis,” jelas Arif.

Arif menyebut apabila narasi dan realitas tidak terkoneksi, yang terjadi adalah kontribusinya yang menurun, disrupsi fakta, dan runtuhnya kepercayaan, terutama ke penyampai informasi itu sendiri. Tidak hanya dengan pernyataan resmi (press release), tetapi dengan mengorkestrasi kepercayaan melalui pakar dan kreator yang terpercaya.

Trust itu dibangun bertahun-tahun, tidak sehari atau dua hari. Setelahnya, kita harus menjaga supaya truth itu tetap terjaga di tengah hiruk-pikuk informasi. Tugas terberat bukan untuk menyebar informasi, tetapi bagian yang memvalidasi dan memisahkan antara voice dan noice,” imbuhnya.

Para peserta dalam Jangkar Media Day tampak antusias dalam mengikuti jalannya talkshow dan aktif bertanya. “Acara hari ini menarik dan perlu sering untuk dilakukan di Bali. Ini bisa menjadi tempat belajar karena pemateri dan narasumber yang ada memberikan materi yang bagus,” ucap Aswira, salah satu peserta Jangkar Media Day.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis