tirto.id - Umat Islam di seluruh Indonesia telah menjalani puasa Ramadan hingga hari ke-17 pada tanggal 17 Ramadan 1440H atau Rabu, 22 Mei 2019.
Ketika bulan puasa tiba, salah satu momen yang istimewa adalah datangnya azan maghrib sebagai tanda usainya menahan lapar, haus, dan hal-hal yang membatalkan puasa selama sehari penuh.
Masyarakat di Kab. Subang Jawa Barat dapat menunggu waktu buka puasa dengan ngabuburit, di beberapa tempat, di antaranya adalah Alun-alun Subang, pelataran depan gedung Wisma Karya. Selain itu di daerah ini juga terkenal dengan makanan dan minuman khas yang dapat digunakan sebagai menu buka puasa. Beberapa makanan khas Kab. Subang antara lain: Oncom Dawuan, Kerupuk Miskin Purwadadi, Nanas Simadu, Olahan Nanas, Gepuk, Ubi Cilembu, Nasi Liwet, Keripik Pisang, Tutut Sodong.
Untuk menunaikan ibadah sholat atau pun tarawaih, pada umumnya warga Kab. Subang melakukan ibadah ini di Masjid Al-MUSABAQOH yang dikategorikan sebagai masjid Masjid Agung. Alamat Masjid Al-MUSABAQOH ada di Jl. Eyang Wangsa Goparana No.7.
Selain Masjid Al-MUSABAQOH, terdapat beberapa masjid lain yang dapat digunakan oleh umat Islam di Kab. Subang untuk menunaikan ibadah salat, salah satunya adalah Masjid NURUL HUDA. Masjid Besar. Alamat Masjid NURUL HUDA adalah di Kp.Cisalak Desa Cisalak.
Tidak hanya itu, salat tarawih yang pada bulan Ramadan hukumnya adalah sunah muakkad ini juga dapat dilakukan di Masjid DARURRAHMAN. Masjid ini berada di KP SAKURIP RT 007/003 DESA TANJUNG.
Tirto.id juga menyediakan jadwal imsakiyah yang meliputi imsak, subuh, zuhur, asar, berbuka, maghrib, dan isya di Kab. Subang seperti di bawah ini.
Selain jadwal sholat, perlu diketahui bahwa sholat tarawih penting bagi umat muslim. Menurut kitab Durratun Nasihin keutamaan sholat tarawih di bulan Ramadhan seperti diriwayatkan Ali bin Abi Thalib ra. Bahwasannya Rasulullah SAW pernah ditanya seseorang mengenai fadhilah (keutamaan) sholat tarawih di bulan Ramadhan, maka beliau berkata “(fadhilah tarawih) di malam Ramadan ke-17 adalah diberikan kepadanya pahala Nabi-Nabi..
Tausiah Harian
Secara umum hampir tak ada perbedaan antara salat tarawih dan salat sunah lainnya. Perbedaan paling mencolok adalah tarawih harus dilakukan setelah salat isya dan pada bulan Ramadan. Tarawih dianjurkan dilaksanakan secara berjamaah. Tapi bagi mereka yang uzur bisa melakukannya secara sendirian (munfarid).
Tak ada berbedaan soal rukun-rukun antara salat tarawih, witir, dan fardu. Keharusan membaca surat-surat tertentu setelah al-Fatihah pun tidak ada.
Orang yang salat tarawih atau witir dipersilakan memilih surat dan ayat mana saja, meski tentu saja surat atau ayat yang panjang lebih diutamakan. Sebagian ulama juga merekomendasikan surat-surat tertentu untuk dibaca.
Di Indonesia, yang khas dijumpai pada malam Ramadan adalah doa yang dipanjatkan selepas tarawih. Doa tersebut dikenal dengan nama “doa kamilin”. Kata “kâmilîn” berarti orang-orang yang sempurna. Nama ini diambil dari redaksi pertama doa tersebut yang memohon kesempurnaan iman kepada Allah. Doa ini dipraktikkan para ulama di mana-mana melalui rantai ijazah (sanad amalan) yang jelas.
Penulis: Abdul Nashir Fattah
Sumber: NU Online http://www.nu.or.id/post/read/38921/sejarah-hukum-dan-praktik-tarawih
Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
Masuk tirto.id




























