tirto.id - Jet tempur Israel melancarkan serangan udara dengan membombardir ibu kota Lebanon, Beirut. Serangan ini dilakukan sesaat setelah kelompok bersenjata Hizbullah meluncurkan serangan roket dan pesawat nirawak atau drone ke sebuah pangkalan militer di dekat Haifa, wilayah utara Israel.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, eskalasi kekerasan ini menandai peningkatan ancaman yang kian nyata menuju perang regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di satu sisi, melawan Iran beserta sekutu-sekutunya di sisi lain.
Kelompok bersenjata yang berafiliasi erat dengn Iran, Hizbullah, pada Senin (2/3/2026) dini hari menyatakan bahwa gempuran mereka merupakan bentuk pembalasan langsung atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan bahwa serangan roket tersebut dilakukan "untuk membela Lebanon dan rakyatnya" dan "sebagai respons atas agresi Israel yang berulang".
"Kepemimpinan perlawanan selalu menegaskan bahwa kelanjutan agresi Israel dan pembunuhan para pemimpin, pemuda, dan rakyat kami memberi kami hak untuk membela diri dan merespons pada waktu dan tempat yang tepat," ungkap kelompok Hizbullah dalam pernyataannya.
Mereka menambahkan bahwa musuh mereka tidak dapat melanjutkan agresi yang telah berlangsung selama 15 bulan tersebut tanpa peringatan balasan untuk menghentikan agresi dan ditarik mundur dari wilayah Lebanon yang didudukinya.
Merespons rentetan roket tersebut, militer Israel membalas dengan cepat melalui serangan udara di wilayah selatan Beirut.
Melansir Al Jazeera, Israel menargetkan para anggota senior Hizbullah di wilayah Beirut serta seorang tokoh kunci di Lebanon selatan.
Imbasnya, Israel mengeluarkan perintah evakuasi darurat bagi penduduk lebih dari 50 desa di Lebanon selatan dan Lembah Bekaa, termasuk kota Bint Jbeil, dan mendesak warga untuk menjauh setidaknya 1 kilometer dari bangunan-bangunan yang ada. Pihak militer Israel secara tegas mengutuk keterlibatan kelompok tersebut.
"Kami akan bertindak terhadap keputusan Hizbullah untuk bergabung dalam kampanye ini, dan tidak akan membiarkan organisasi tersebut menimbulkan ancaman bagi Israel dan membahayakan penduduk wilayah utara," tegas perwakilan militer Israel.
Militer Israel juga menuding bahwa organisasi teror Hizbullah sedang menghancurkan negara Lebanon. Mereka menegaskan bahwa pihak yang bertanggung jawab atas eskalasi ini akan menghadapi balasan yang lebih kuat.
Di sisi lain, manuver bersenjata Hizbullah ini justru memicu kecaman keras dari dalam negeri Lebanon.
"Tindakan yang tidak bertanggung jawab dan mencurigakan yang membahayakan keamanan dan keselamatan Lebanon serta memberikan alasan bagi Israel untuk melanjutkan agresinya," tegas Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, dikutip dari Al Jazeera, Senin
(2/3/2026).
"Kami tidak akan membiarkan negara ini terseret ke dalam petualangan baru, dan kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menangkap para pelaku dan melindungi rakyat Lebanon," kecam Nawaf Salam melalui platform media sosial X.
Sikap tersebut sejalan dengan pernyataan Presiden Lebanon, Joseph Aoun, usai memimpin pertemuan darurat Dewan Pertahanan Tinggi pada hari Minggu (1/3/2026).
Aoun menekankan bahwa keputusan perang dan damai semata-mata berada di tangan negara Lebanon. Eskalasi terbaru ini berisiko memperdalam krisis panjang di Lebanon yang telah bertahun- tahun didera masalah ekonomi dan politik.
Saat ini, Lebanon sejatinya masih berupaya memulihkan diri pasca-perang satu tahun antara Hizbullah dan Israel yang disepakati berakhir dengan gencatan senjata pada November 2024.
Meskipun demikian, Israel dilaporkan terus melanggar gencatan senjata tersebut dengan melakukan rentetan serangan lintas batas hampir setiap hari.
===============
Hanang Septioyudho berkontribusi terhadap penulisan artikel ini.
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id































