tirto.id - Iran dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah sepakati kesepahaman mengenai "prinsip-prinsip panduan" dalam upaya penyelesaian perselisihan terkait program nuklir. Meski begitu, risiko serangan AS disebut masih berlaku.
Kesepahaman Iran dan AS itu disebut telah tercapai dalam perundingan di Kedutaan Besar Oman di Jenewa pada Selasa (17/2/2026). Menukil TRT World, perundingan tak langsung ini berjalan sekitar empat jam.
Usai kesepakatan awal tercapai, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengabarkan hasilnya di stasiun TV lokal Iran. Ia menyebutnya sebagai "seperangkat prinsip panduan" yang akan dilakukan dalam perundingan ke depan.
“Pada akhirnya, kami dapat mencapai kesepakatan luas mengenai serangkaian prinsip panduan, yang menjadi dasar bagi kami untuk bergerak maju dan mulai mengerjakan teks perjanjian potensial,” kata Araghchi.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei, potensi keringanan sanksi terhadap Iran disebut jadi salah satu pembahasan yang muncul dalam perundingan pada Selasa. Namun, sejumlah laporan menyebut AS menolak proposal itu.
Di sisi lain, meski perundingan Iran dan AS tampaknya mengalami kemajuan, risiko pecahnya konflik bersenjata antara kedua negara masih mungkin terjadi.
Armada Perang AS Meningkat di Perairan Timur Tengah
Dinukil dari BBC, pernyataan keras antar pemimpin eksekutif AS dan Iran di tengah proses negosiasi masih terus berlangsung. Pengerahan armada perang AS ke Iran juga tetap dilakukan.
Pada Selasa, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa perundingan dengan Iran berjalan relatif baik. Namun, ia menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump "telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan dijalani oleh Iran".
Sementara itu, Trump hingga kini masih mengungkit tentang "konsekuensi jika tidak membuat kesepakatan". Ancaman ini diutarakan Trump kepada Teheran.
"Kita bisa saja mencapai kesepakatan daripada mengirim [pesawat pembom] B-2 untuk melumpuhkan potensi nuklirnya," kata Trump.
Pernyataan itu disampaikan Trump di tengah pengerahan kekuatan tempur AS di kawasan Teluk. Armada perang yang dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di dekat Iran.
Kapal induk lainnya, USS Gerald R Ford, juga diperkirakan akan tiba di dekat Iran dalam tiga minggu ke depan. USS Gerald R Ford merupakan kapal perang terbesar di dunia.
Di tengah meningkatnya jumlah armada perang AS di Teluk, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menekankan bahwa pihaknya tak gentar.
“Kami terus-menerus mendengar bahwa mereka mengirim kapal perang ke Iran. Kapal perang tentu merupakan senjata yang berbahaya, tapi yang lebih berbahaya adalah senjata yang mampu menenggelamkannya,” ujarnya.
Khamenei juga menuduh AS berusaha menentukan hasil perundingan dengan tekanan-tekanan di luar meja perundingan. Oleh Khamenei, hal itu disebut sebagai "hal yang salah dan bodoh untuk dilakukan".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id





























