Menuju konten utama

Presiden Iran Nilai Perundingan Nuklir dengan AS, Langkah Maju

Sementara itu Menlu Iran, Seyed Abbas Araghchi, menegaskan kalau negaranya tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.

Presiden Iran Nilai Perundingan Nuklir dengan AS, Langkah Maju
Presiden Iran Masoud Pezeshkian berpidato di Majelis Umum PBB ke-79 di markas besar PBB di New York, AS, 24 September 2024. REUTERS/Mike Segar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Minggu (8/2) menggambarkan perundingan nuklir terbaru antara negaranya dan Amerika Serikat (AS) sebagai sebuah "langkah maju".

"Dialog selalu menjadi strategi kami untuk mencapai solusi damai," tulis Pezeshkian di media sosial AS X, Ahad. Dia juga menekankan bahwa pendekatan Iran terhadap masalah nuklir didasarkan pada "hak-hak yang dijamin berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi."

Pezeshkian menambahkan kalau negaranya juga selalu mengedepankan rasa hormat, namun akan bertindak jika dihadapkan pada kekerasan.

"Bangsa Iran selalu membalas rasa hormat dengan rasa hormat, tetapi tidak akan mentolerir bahasa kekerasan," begitu tutup cuitannya.

Dia melontarkan komentar itu untuk merespons perundingan tak langsung antara delegasi Iran dan AS di Muscat, ibu kota Oman, Jumat (6/2).

Pezeshkian menuturkan pembahasan itu digelar sebagai hasil dari upaya tindak lanjut pemerintah-pemerintah "bersahabat" di kawasan Asia Barat.

Sementara itu, berbicara dalam sebuah konferensi nasional di Teheran, ibu kota Iran, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi, yang mengepalai delegasi Iran saat perundingan Jumat tersebut, menyampaikan, "tidak ada pihak yang berhak menentukan apa yang boleh atau tidak boleh kami miliki," tuturnya seperti yang dirangkum Antara.

Araghchi memastikan bahwa Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir, serta secara tegas menolak segala bentuk perundungan.

Araghchi berkata, "Jika mereka berbicara kepada rakyat Iran menggunakan bahasa kekuatan, kami akan meresponsnya dengan bahasa yang sama. Namun, jika mereka berbicara kepada kita menggunakan bahasa penuh hormat, respons untuk mereka akan diberikan dengan bahasa yang sama."

Perundingan pada Jumat itu digelar di tengah meningkatnya ketegangan regional antara Washington dan Teheran, termasuk peningkatan kehadiran militer AS belakangan ini di Timur Tengah dan peningkatan persiapan Iran.

Setelah perundingan berakhir, Araghchi mengatakan, "Secara umum, saya dapat menyatakan bahwa perundingan itu merupakan awal yang baik. Namun, kelanjutan proses tersebut bergantung pada konsultasi kedua pihak di ibu kota masing-masing dan keputusan mereka terkait bagaimana cara melanjutkannya."

Baca juga artikel terkait IRAN-AS

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Alfons Yoshio Hartanto