tirto.id - Kabar Iran terkini makin memanas. Di tengah potensi perang Iran vs Amerika Serikat (AS) yang masih memanas, Presiden AS Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan pengerahan kapal induk lain di kawasan Teluk. Saat ini baru kapal induk USS Abraham Lincoln telah disiagakan di Teluk.
Laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan pengerahan kapal induk lain di Teluk itu dikabarkan oleh media Israel, Channel 12 dan Axios. Seturut Al Jazeera, media ini merilisnya pada Selasa (10/2/2026).
Potensi peningkatan kekuatan militer AS di Teluk itu dilaporkan setelah pada Senin (9/2/2026), AS merilis pedoman kepada kapal komersial berbendera AS untuk tetap berada "sejauh mungkin" dari wilayah perairan Iran.
Hal tersebut memicu kekhawatiran bahwa serangan AS ke Iran akan terjadi. Para kritikus khawatir stabilitas kawasan itu akan goncang jika hal tersebut terjadi.
Trump Meminta Iran Turuti Semua Permintaan
Potensi pengerahan lebih banyak armada perang AS ke Iran mungkin terjadi meskipun kedua negara tengah dalam proses negosiasi. Pada Jumat (6/2) pekan lalu, perwakilan kedua negara telah bertemu secara tak langsung di Oman.
Perundingan dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan kedua belah pihak. Namun, hal itu dianggap sebagai sinyal positif dalam upaya diplomasi penyelesaian polemik antara Iran dan AS.
Akan tetapi, hasil perundingan pada Jumat agaknya tak sejalan dengan harapan Trump. Pada Selasa, Trump memberikan komentar pada Channel 12 bahwa AS akan melakukan tindakan agresif jika tidak ada kesepakatan dengan Iran.
"[Ini akan berakhir] antara kita mencapai kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras," kata Trump.
Pada hari yang sama, Trump juga berkomentar serupa dalam pernyataannya untuk Fox Business. Ia bersikeras agar Iran mematuhi tuntutannya dan berkata bahwa Teheran "bodoh" jika tidak melakukannya.
Pemerintahan Trump kini memiliki tiga tuntutan utama kepada Iran. Ketiga tuntutan itu termasuk penghentian pengayaan uranium, pemutusan hubungan dengan proksi regional, dan pembatasan persediaan rudal Iran berjenis balistik.
Ketiga tuntutan ini sebenarnya sejak lama dicanangkan oleh Israel. Namun, Teheran bersikeras bahwa program nuklir yang mereka bangun hanya untuk keperluan pemenuhan energi sipil.
Meskipun Trump terus bersikap keras terhadap Iran, namun pemerintahannya kini juga menghadapi penolakan domestik terhadap risiko perang melawan Negeri Para Mullah tersebut.
Salah satu penolakan terjadi pada Selasa, ketika 25 kelompok advokasi menyerukan Kongres AS untuk membatasi wewenang Trump atas militer. Koalisi masyarakat sipil AS itu menyebut langkah Trump terkait Iran sebagai sembrono dan tidak sah.
“Sebagai koalisi kelompok yang prihatin dengan eskalasi militer yang sembrono, kami mendesak Kongres untuk mewakili konstituennya, menegaskan peran konstitusionalnya, dan menolak perang yang tidak sah dengan Iran,” tulis pernyataan mereka.
Sebelumnya, Senator Tim Kaine dan Rand Paul juga merilis resolusi wewenang perang baru pada 29 Januari. Resolusi berisi penguatan hukum bagi Kongres agar perang hanya dapat diputuskan pemerintah atas seizin Kongres.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































