Menuju konten utama

Indonesia Dorong ASEAN Jadi Pusat Produksi Kendaraan Listrik

Selain kendaraan listrik perlu upaya sertifikasi gedung yang mengimplementasikan hemat energi untuk mendukung netralitas karbon.

Indonesia Dorong ASEAN Jadi Pusat Produksi Kendaraan Listrik
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengikuti rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (5/6/2023). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nym.

tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menekankan pentingnya kawasan ASEAN menjadi pusat industri yang memproduksi kendaraan listrik global. Hal itu diharapkan untuk mendukung pencapaian netralitas karbon pada 2050-2060.

"Kita harus bekerja keras untuk mendorong industri kendaraan listrik dan membuat ASEAN menjadi pusat produksi global," katanya dikutip dariAntara, Senin (21/8/2023).

Dia merinci menurut Badan Energi Internasional (IEA) permintaan energi di ASEAN diperkirakan tumbuh tiga persen pada 2030, yang tiga perempat dari permintaan itu, menggunakan bahan bakar fosil.Akibatnya, seperti yang disebutkan dalamoutlookIEA edisi kelima, emisi karbon di ASEAN diperkirakan tumbuh hingga 35 persen dari 2020.

Sebab itu, Arifin mengingatkan pada KTT ASEAN Ke-42 Tahun 2023 di Labuan Bajo, NTT, negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah menyepakati kendaraan listrik menjadi upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan dekarbonisasi di sektor transportasi darat. Dia menuturkan, teknologi menjadi kunci penting dalam transisi energi guna mencapai netralitas karbon.

"Kita harus memperkuat kemitraan untuk meningkatkan variasi yang besar dari teknologi, membuka akses terhadap teknologi dan yang terpenting menciptakan akses yang sama untuk menjangkau teknologi dan pembiayaannya," ajak Arifin kepada para delegasi.

Lebih lanjut, dia menambahkan untuk mendukung netralitas karbon, selain kendaraan listrik perlu upaya lain sertifikasi gedung yang mengimplementasikan upaya ramah lingkungan dan hemat energi. Kemudian, efisiensi energi di sektor industri melalui elektronifikasi misalnya industri baja hingga semen.

Selain itu, menggunakan bahan bakar ramah lingkungan BBM nabati, gas, dan hidrogen untuk kendaraan berat seperti bus dan truk.

Lalu, dia memaparkan capaian Indonesia pada 2022 yakni sektor energi mampu menurunkan emisi gas rumah kaca mencapai 91,5 juta ton setara CO2 atau melampaui target mencapai 91 juta ton setara CO2.

Sedangkan, efisiensi energi berkontribusi sebesar 22 persen atau sama dengan 20,5 juta ton setara CO2.

Pada 2023, Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca mencapai 116 juta ton setara CO2 dan pada 2024 mencapai 142 juta setara CO2.

Baca juga artikel terkait KEBIJAKAN KENDARAAN LISTRIK

tirto.id - Bisnis
Sumber: Antara
Editor: Intan Umbari Prihatin