Pencemaran Udara di Jakarta

Mengkaji Dampak Polusi Udara bagi Kesehatan Mental Anak & Remaja

Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id - 21 Agu 2023 09:03 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Polusi udara tidak hanya berpotensi menyerang pernapasan, tapi juga bisa mengganggu mental anak.
tirto.id - Adilla Wibawanto, cucu Ketua DPRD DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi menderita infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat terpapar polusi udara. Anak yang masih duduk di kelas 1 SD itu harus dilarikan ke rumah sakit (RS) pada Selasa (15/8/2023) imbas sakit yang dialaminya itu.

“Saya punya cucu juga kena, jam 19.00 WIB malam, semalam masuk ke RS Bintaro gara-gara persoalan debu ini. Asap debu ini,” ucap Prasetyo kepada wartawan di Gedung DPRD DKI Jakarta, Rabu (16/8/2023).

Politikus PDI Perjuangan itu pun membagikan momennya menengok sang cucu yang terbaring di ranjang rumah sakit. Sang cucu terlihat tengah merebahkan tubuhnya dengan pakaian berwarna hijau dan dibaluti selimut.

Tangan kanannya terlihat tengah dipasang infus. Sementara tangan kirinya memegang gawai. Matanya melihat ke arah gawai seperti tengah menonton.

Pengaruhi Mental Anak

Polusi udara tidak hanya berpotensi menyerang pernapasan, tapi juga bisa mengganggu mental anak, demikian keterangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Polutan tersebut awalnya masuk dan merusak pada sistem respiratori (sistem pernapasan) sebagai gerbangnya.

Kemudian polutan tersebut masuk ke dalam tubuh mereka, sehingga dampaknya tidak hanya di sistem pernapasan, juga secara masalah gangguan kesehatan secara umum di semua sistem organ.

Termasuk pada sistem saraf pusat, di mana otak mereka masih bertumbuh dan berkembang. Fungsi saraf mereka terganggu oleh polutan.

“Kognitifnya terganggu, mental dan kelakuannya juga bisa terganggu. Kalau pada anak-anak kemudian bisa menyebabkan gangguan mental dan tingkah laku, gangguan kecerdasan. Anak-anaknya tentu IQ nya menjadi lebih rendah dari seharusnya dia punya potensi,” kata Darmawan Budi Setyanto, Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirasi IDAI kepada reporter Tirto, Jumat (18/8/2023).



Kualitas udara Jakarta tidak sehat
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena polusi udara di Jakarta, Selasa (6/6/2023). ANTARA FOTO/Fauzan/aww.


Polusi udara berdampak terhadap mental anak-anak dan remaja memang telah diteliti. Hal ini berdasarkan tinjauan bukti yang diterbitkan dalam British Journal of Psychiatry pada Rabu (5/7/2023).

Dipimpin oleh Profesor Kamaldeep Bhui di Departemen Psikiatri Universitas Oxford, para peneliti dalam program BioAirNet menganalisis studi-studi yang mengamati efek polusi udara dalam dan luar ruangan sepanjang perjalanan hidup, mulai dari kehamilan dan kelahiran sampai remaja dan dewasa.

Ditemukan bukti bahwa paparan polusi udara dapat menyebabkan depresi, kecemasan, psikosis, dan bahkan gangguan neurokognitif (Kondisi yang sering menyebabkan gangguan fungsi mental), seperti demensia (pikun).

Ada juga indikasi bahwa anak-anak dan remaja mungkin terpapar polusi udara pada tahap kritis dalam perkembangan mental mereka, membuat mereka berisiko terkena dampak paling parah dan masalah kesehatan mental yang signifikan di masa depan.

Faktor risiko tambahan termasuk perumahan yang buruk, kepadatan penduduk, kemiskinan, kurangnya ruang hijau serta kerentanan sosial dan psikologis individu, seperti kurangnya akses ke dukungan, penjaga atau ruang aman.

“Tinjauan kami menunjukkan bahwa ada bukti hubungan antara kualitas udara yang buruk dan kesehatan mental yang buruk, serta hubungan dengan gangguan mental tertentu," kata Bhui dalam jurnal tersebut.

Ia menjelaskan, secara khusus, partikel udara yang mencemari, termasuk bioaerosol, telah terlibat.

“Materi partikulat merupakan bagian dari serangkaian faktor risiko lingkungan yang kompleks termasuk geografi, kekurangan, biologi, dan kerentanan individu,” kata dia.



Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra mengatakan, anak-anak memang memiliki kondisi yang rentan terpapar penyakit akibat polusi udara. Baik kesehatan fisik maupun mental.

Ia mengatakan, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI, pada Januari hingga Juni 2023, terdapat 638.291 kasus ISPA. Rinciannya, Januari 102.609 kasus; Februari 104.638 kasus; Maret 119.734 kasus; April 109.705 kasus; Mei 99.130 kasus; dan Juni 102.475 kasus.

“Jadi anak enggak kuat merespons kondisi cuaca dan iklim seperti orang dewasa. Saat sakit karena polusi udara, psikisnya terganggu. Dia punya keterbatasan dan ini butuh bantuan kita untuk memastikan peroleh hak udara yang sehat dan tumbuh kembang anak,” kata Jasra kepada Tirto.

Ketika mental anak terganggu karena terpapar polusi udara dengan tingkat yang cukup tinggi, maka biasanya mereka akan mudah marah, melakukan kekerasan, dan ini puncaknya anak mengalami gangguan psikis.

“Perubahan itu jangka panjang akan terlihat," tuturnya.

Terkait kondisi tersebut, kata Jasra, KPAI meminta kepada pemerintah agar memberikan akses kesehatan kepada anak yang terpapar polutan dan segera menangani kualitas udara yang buruk.

Kemudian meminta kepada pihak sekolah agar mengimbau kepada para siswa supaya mereka menggunakan masker ke sekolah. Saat proses belajar mengajar, ajak anak agar berdialog supaya mereka bisa terbuka sehingga bisa menangani permasalahan mental mereka akibat polusi udara.

“Biarkan mereka menceritakan kondisi mereka. Itu bisa menangani permasalahan mental. Pendapatan anak-anak kita, partisipasi bisa didengar dan dilaksanakan," ujarnya.

Jasra juga mengusulkan supaya anak-anak bisa bersekolah dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau hybrid sampai dinyatakan udara sehat sesuai standar yang ditentukan.

“Selanjutnya butuh dukungan keluarga, orang tua yang rawat dan bisa jelaskan kondisi kesehatan mereka,” kata Jasra.

Pj Gubernur DKI Jakarta siapkan strategi atasi polusi udara
Pemandangan gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, Rabu (14/6/2023). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/tom.

Kemenkes Sebut Belum Ada Laporan Kasus Permasalahan Mental

Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Siti Nadia Tarmizi mengaku, belum ada laporan kasus permasalahan mental terhadap anak dan remaja akibat polusi udara yang belakangan menjadi sorotan.

Ia menjelaskan, dari studi di Rumah Sakit Persahabatan, polusi udara berpengaruh terhadap meningkatnya penyakit ISPA, kekambuhan penyakit asma, munculnya pnemonia, PPOK, TBC dan kanker paru.

“Menangani polusi udara tidak bisa hanya [Kementerian] Kesehatan karena kesehatan, itu di hilirnya. Jadi memang harus dimulai di hulu dan ini peranan berbagai pihak-pihak terkait,” kata Nadia kepada Tirto, Jumat (18/8/2023).

Ia mengatakan, Kemenkes telah membentuk komite respirologi dan dampak polusi udara bagi kesehatan. Kelompok tersebut diketui oleh Direktur RS Persahabatan, Prof Agus Susanto Sp P.

“Tiga rencana strategis yaitu upaya deteksi, penurunan resiko kesehatan, dan adaptasi terhadap polusi udara,” kata dia.


Baca juga artikel terkait POLUSI UDARA atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz

DarkLight