Menuju konten utama

Indonesia Belum Jadi Pemain Utama Industri Halal Dunia

Industri halal Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara penduduk minoritas muslim.

Indonesia Belum Jadi Pemain Utama Industri Halal Dunia
Pengunjung menyantap makanan di zona kuliner halal, aman, dan sehat (KHAS) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (28/12/2023). ANTARA FOTO/Muhammad Ramdan/wpa/rwa.

tirto.id - Ekonom Indef, Hakam Naja, mengatakan industri halal Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara penduduk minoritas muslim.

Dari 10 negara eksportir produk halal pada 2023, Indonesia berada di urutan Sembilan. Sementara posisi di atas ditempati oleh Cina, India, Brasil, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).

“Ini kan ironis. Jadi top eksportir ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) itu adalah negara-negara yang muslimnya minoritas,” katanya dalam webinar Ekonomi Syariah dan APBN 2026, Senin (25/8/2025).

Hakam mengungkapkan, ekspor produk halal Cina mencapai 32,51 miliar dolar AS, India 28,88 miliar dolar AS, Brasil 26,93 miliar dolar AS, Rusia 20,61 miliar AS, dan AS sebesar 20,06 miliar dolar AS. Sedangkan Indonesia ekspornya hanya 12,33 miliar.

Pada 2023, perdagangan produk halal Indonesia pun mencatatkan defisit sebesar 17,31 miliar dolar AS, imbas dari nilai impor yang mencapai 29,64 miliar dolar AS.

Padahal, jika dilihat dari populasi, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan perkiraan 244 juta jiwa.

Hanya saja, menurut Naja, pertumbuhan industri halal nasional belum cukup mampu membawa Indonesia menjadi pemimpin dalam industri halal dunia.

“Saya mengharapkan dan mendorong agar pemerintah Pak Prabowo mencanangkan Indonesia sebagai pusat halal dunia yang akan dicapai 2029 pas nanti angka 8 persen, karena industri halal ini akan saling support,” ucapnya.

Menurut Hakam, master plan pembangunan ekonomi syariah harus dibuat untuk dapat meningkatkan skala industri ekonomi syariah nasional, seperti apa yang dilakukan oleh Malaysia, Turki, dan Arab Saudi.

Dia menjelaskan, Malaysia sudah menyiapkan rancang-bangun ekonomi syariah sejak beberapa dekade lalu, dan hasilnya terlihat dari ranking State of The Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 yang menempatkan Malaysia di puncak tangga ekonomi syariah dunia.

“Ini adalah gambaran 15 negara dengan ranking tertinggi. Malaysia, selama 11 tahun terus-menerus menjadi juara, ranking satu, kita naik pelan-pelan, dua tahun terakhir kita di posisi tiga,” ucapnya.

Dengan memiliki arah ekonomi syariah yang jelas, sambungnya, Indonesia berpeluang mengantongi pundi-pundi yang lebih banyak dari besarnya potensi ekonomi syariah global.

Pasalnya, berdasarkan laporan SGIE potensi ekonomi Islam global di 2024/2025 mencapai Rp118.486 triliun dan ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan populasi muslim di dunia

Pada 2023 jumlah populasi muslim dunia sebesar 2 miliar orang atau 25 persen dari total penduduk dunia, namun pada 2030 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 2,2 miliar orang atau 26,4 persen dan meningkat menjadi 2,8 miliar orang di 2050 atau 29,7 persen dari total penduduk dunia.

“Artinya memang ini luar biasa potensi yang besar, dan kita adalah negara yang terbesar (populasi), jadi kita yang seharusnya paling depan,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI HALAL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra