Menuju konten utama

Imajik Company Maksimalkan Peran AI dalam Ekosistem Kreatif

Dukungan terhadap ekosistem Imajik juga datang dari BytePlus, salah satu platform digital yang mendorong akses teknologi AI ke masyarakat

Imajik Company Maksimalkan Peran AI dalam Ekosistem Kreatif
Diskusi Komunitas Imajik. Foto/ Imajik

tirto.id - Komunitas Imajik menggelar diskusi publik yang menghadirkan konten kreator, influencer, sutradara film, serta jajaran founder Imajik Company sebagai narasumber. Dan dihadiri peserta dari berbagai latar belakang kreatif yang ingin memahami perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) di Indonesia. Acara ini berlangsung di Habitat Park, SCBD Jakarta, pada Jumat (5/12/2025).

Imajik sendiri merupakan komunitas yang bergerak dalam penguatan ekosistem kreatif berbasis teknologi, khususnya dengan memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam proses digitalisasi. Mengusung tema “The Unlimited Possibilities”, diskusi ini menyoroti luasnya peluang AI dalam mempermudah pekerjaan kreatif, membuka sumber pendapatan baru, hingga memberikan efisiensi dalam proses produksi konten.

Tema ini sekaligus menjadi ruang bagi para peserta untuk memahami bahwa pemanfaatan AI tidak hanya sebatas menjadi tren, tetapi juga menciptakan peluang yang dapat dimaksimalkan oleh para digital worker saat ini.

Selain menjelaskan manfaat AI bagi dunia kreatif, Komunitas Imajik juga memperkenalkan Pygmi AI, sebuah alat yang dikembangkan untuk membantu kebutuhan pengguna dalam membuat visual, konten, hingga ide-ide kreatif berbasis teknologi generatif.

Brilian Fairiandi, selaku Chief Executive Officer Imajik Company, menegaskan bahwa perkembangan AI di Indonesia telah memasuki fase yang lebih serius. Menurutnya, kerja sama antara komunitas, industri, dan pemerintah dapat mempercepat pemanfaatan teknologi ini secara luas dan berdampak positif bagi masyarakat.

“Baru ada di Indonesia. Ini menjelaskan bahwa pergerakan AI di Indonesia tahun depan baik dari pemerintah maupun institusi sangat mungkin terjadi. Terutama dari teman-teman di ranah visual, ini menjadi peluang bagus untuk kita bangun dalam 2 sampai 5 tahun ke depan. Banyak jobdesk baru yang mungkin muncul, yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan,” ujar Brilian Fairiandi, menjelaskan potensi besar AI dalam membuka lapangan kerja baru sekaligus memperluas ruang eksplorasi para kreator.

Dukungan terhadap ekosistem Imajik juga datang dari BytePlus, salah satu platform digital yang mendorong akses teknologi AI ke masyarakat. Arthur Renaldy, Digital Business Manager BytePlus, menyampaikan komitmennya untuk memperkuat kelompok Imajik melalui penyediaan platform yang dapat menjadi wadah penggunaan Pygmi AI. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan komunitas sekaligus memberi akses teknologi yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat umum.

Diskusi semakin menarik dengan hadirnya para narasumber lintas bidang, antara lain Hasna Hamidah (konten kreator edukasi), M Reza Erfit (influencer), Braveri Cleveraynand (sutradara animasi film), serta Ciwankcryil (konten kreator berbasis teknologi). Mereka membahas keunggulan AI, peluangnya bagi dunia kreatif, hingga cara memanfaatkan teknologi tersebut sesuai kapasitas dan kebutuhan masing-masing kreator. Para narasumber juga menekankan pentingnya memahami batas antara penggunaan AI sebagai alat bantu dengan proses kreatif manual yang tetap menjadi identitas seorang kreator.

Braveri, dalam pemaparannya, menjelaskan bahwa setiap negara memiliki regulasi tersendiri terkait Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan paten, khususnya untuk karakter yang dihasilkan melalui teknologi AI. Ia mendorong kreator untuk tetap berupaya membuat karakter dan ilustrasi secara mandiri, kemudian menggunakan AI hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti kreativitas utama.

“Regulasinya tiap negara berbeda soal hak cipta dan paten. Contohnya, kalau teman-teman dengar beberapa kasus, itu banyak terkait penggunaan yang tidak sesuai. Seluruh karakter yang saya tampilkan tadi murni hasil manusia, tidak ada generative sama sekali. Yang generative hanya background untuk memperkuat suasana. Karakter sepenuhnya dari kita,” jelas Braveri, menegaskan bahwa AI sebaiknya dimanfaatkan sebagai pendukung, bukan sebagai pusat produksi.

Sementara itu, Ciwankcryil menyoroti pentingnya penguasaan fundamental bagi para kreator, terutama bagi filmmaker atau individual creator dengan anggaran terbatas. Menurutnya, pemahaman dasar seperti cara membuat iklan, membangun alur visual, atau menyusun konsep film sangat menentukan kemampuan seseorang dalam memanfaatkan AI secara efektif.

“Yang perlu dipelajari dari awal itu fundamentalnya. Belajar dan menghasilkan output pakai AI sebenarnya sangat cepat kalau kita ngerti dasarnya cara bikin iklan, bikin film. Ketika formatnya berubah dan ada alat bantu seperti AI, kita bisa nyelesainnya dengan mudah. Tinggal pelajari cara menghasilkan visual pakai AI,” ujar Ciwankcryil, yang menekankan bahwa fondasi kreativitas tetap menjadi kunci dalam menghadapi kemajuan teknologi.

Secara keseluruhan, diskusi publik Komunitas Imajik ini tidak hanya memberikan wawasan tentang perkembangan AI, tetapi juga membuka ruang dialog antara praktisi kreatif, komunitas, serta penyedia teknologi. Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan memperluas kemungkinan dan mempercepat proses kreatif menuju masa depan industri digital yang lebih inovatif.

Baca juga artikel terkait ARTIFICIAL INTELLIGENCE atau tulisan lainnya dari Siaran Pers

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Siaran Pers
Editor: Siaran Pers