tirto.id - Di ruang periksa Klinik Harapan Sehat, Kecamatan Cilaku, Cianjur, Jawa Barat, seorang pasien lanjut usia baru saja selesai diperiksa. Alih-alih merogoh dompet, ia meletakkan dua ekor ayam kampung dan sekarung kecil beras di meja resepsionis.
Petugas menerimanya tanpa banyak tanya, mencatatnya sebentar, lalu mempersilakan pasien itu pulang membawa obat.
Bagi Yusuf Nugraha, pendiri sekaligus dokter di klinik tersebut, pemandangan semacam ini bukan kejadian langka. Sejak 2008, ia menerapkan sistem yang disebutnya "Ijab Kabul Biaya Berobat", pasien yang terhimpit ekonomi dibebaskan membayar sesuai kemampuan mereka, termasuk dengan cara barter hasil panen, hasil ternak, makanan, hingga botol plastik bekas.
Yusuf bercerita, gagasan ini tidak lahir dari ruang seminar atau meja rapat, melainkan dari pengalaman masa kecilnya sendiri. Ia mengaku pernah berada di posisi takut sakit dan enggan berobat karena keterbatasan biaya orang tuanya.
Ketika kemudian menjadi dokter dan terjun langsung ke lapangan, ia melihat kondisi yang tak jauh berbeda pada masyarakat di sekitarnya. Banyak warga yang belum memiliki BPJS Kesehatan, sehingga mereka rentan bila jatuh sakit karena harus menanggung biaya besar sendiri.
"Saya berharap dengan konsep ijab kabul biaya berobat sesuai kemampuan, pasien dapat terbantu meringankan bebannya, sekaligus membantu pemerintah," ujar Yusuf kepada Tirto dalam wawancara melalui WhatsApp, Kamis (11/9/2026).
Istilah "ijab kabul" sengaja ia pinjam dari dunia akad transaksi. Baginya, setiap proses jual-beli semestinya melalui proses yang terang benderang dan jelas antara dua pihak.
Di kliniknya, prosesnya diterjemahkan sesederhana mungkin, pihak klinik menyampaikan tagihan yang sebenarnya, lalu pasien diberi kesempatan untuk menyampaikan kemampuannya. Dari situ, disepakati pembayaran yang tidak memberatkan, entah berupa uang seikhlasnya, makanan, hasil bumi, hewan ternak, atau bahkan cukup dengan doa baik.
"Ijab kabul bisa dilakukan di bagian pendaftaran atau di ruang dokter, saat pasien menyampaikan kemampuannya," kata Yusuf.

Ayam, Sayur dan Doa sebagai Alat Bayar
Selama hampir dua dekade praktik, Yusuf sudah menerima aneka rupa barang sebagai ganti biaya berobat. Mulai dari ayam, bebek, sayur-mayur, buah, beras, gula, hingga masakan rumahan yang dibawakan langsung oleh pasiennya.
Bagi Yusuf, bentuk-bentuk barter itu bukan beban, melainkan wujud keikhlasan pasien yang menurutnya sama berharganya dengan rezeki dalam bentuk lain.
"Alhamdulillah, bagi saya itu adalah bentuk keikhlasan pasien dan rezeki yang tak ternilai," ucapnya.
Sistem ini bisa terus berjalan karena ditopang mekanisme subsidi silang. Pembayaran dari pasien yang mampu disalurkan kembali untuk menutup biaya pasien yang tidak mampu. Skema itulah yang menurut Yusuf membuat kliniknya tetap bertahan menopang operasional, termasuk biaya obat dan alat medis, selama 18 tahun terakhir.
Tak ada batasan jenis penyakit atau wilayah asal pasien yang boleh memakai skema ijab kabul ini. Selama tenaga dan fasilitas klinik mampu menangani, Yusuf mengaku akan tetap melayani, baik untuk rawat inap, pemeriksaan laboratorium, maupun tindakan medis lain.
"Tidak ada batasan penyakit dan wilayah. Selama kami mampu menangani, insyaallah akan kami tangani," tegasnya.
Menjawab Kerentanan Akses Berobat Warga
Praktik yang dijalankan Yusuf berlangsung di tengah bolong-bolongnya jaring pengaman kesehatan nasional. Data BPJS Kesehatan pada 2026 mencatat jumlah peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mencapai sekitar 285 juta jiwa. Namun dari jumlah itu, sekitar 54 juta jiwa di antaranya tercatat belum memperoleh cakupan perlindungan aktif.
Artinya, puluhan juta warga masih berada di posisi rentan seperti yang pernah dirasakan Yusuf semasa kecil, was-was menghadapi sakit karena tak punya jaminan untuk membiayainya. Bagi warga tanpa BPJS aktif dan berpenghasilan pas-pasan, biaya berobat mandiri kerap menjadi pengeluaran yang sulit dijangkau, apalagi bila harus menjalani rawat inap atau tindakan medis lanjutan.
Di titik itulah skema semacam ijab kabul biaya berobat mengisi celah yang belum terjangkau negara maupun industri asuransi kesehatan formal.
Kini, upaya Yusuf tak lagi berhenti di satu tempat. Klinik Harapan Sehat telah membuka cabang baru di kawasan Sukaluyu, Ciranjang, Cianjur. Ia berharap jumlah cabang bisa terus bertambah ke depannya, sekaligus mengajak lebih banyak tenaga medis lain untuk menjalankan praktik serupa.
"Kesehatan adalah hal fundamental sehingga harus kita perjuangkan bersama. Tidak boleh ada pasien sakit yang tidak ditangani karena kendala biaya. Kita perlu berkolaborasi, bahu-membahu menciptakan layanan kesehatan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa kecuali," pungkas Yusuf.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Fahreza Rizky
Masuk tirto.id































