tirto.id - Sering sakit kepala atau pegal saat hamil? Banyak ibu hamil refleks langsung mengambil ibuprofen karena sudah terbiasa menggunakannya untuk meredakan nyeri sehari-hari. Walau dikenal ampuh atasi rasa sakit, apakah obat dengan kandungan ibuprofen aman untuk ibu hamil?
Selama kehamilan, seorang ibu bisa mengalami berbagai keluhan fisik, mulai dari pegal-pegal, nyeri punggung, hingga sakit kepala. Keluhan ini pun bisa disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kelelahan, pertambahan berat badan, maupun perubahan postur tubuh akibat kehamilan.
Untuk mengatasinya, ibu hamil umumnya dianjurkan untuk banyak beristirahat, bisa juga melakukan pemijatan ringan di area tubuh yang terasa pegal (kecuali area perut). Barulah ketika keluhan terasa sangat mengganggu, obat pereda nyeri bisa dijadikan pilihan.
Namun, ibu hamil tidak boleh sembarangan mengonsumsi obat sehingga pemilihan obatnya pun wajib diperhatikan dengan baik. Bagaimana dengan ibuprofen untuk ibu hamil? Apakah aman bagi kandungan? Mari pelajari lebih jauh tentang ibuprofen dan apakah ada dampak negatifnya pada kehamilan.
Cara Kerja Ibuprofen dalam Meredakan Nyeri

Untuk mengetahui apakah ibuprofen aman untuk ibu hamil, kita perlu mengenal obat pereda nyeri yang satu ini, termasuk bagaimana cara kerjanya dalam menghilangkan rasa sakit.
Ibuprofen merupakan obat golongan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) yang memiliki efek sebagai pereda nyeri, penurun demam, dan anti inflamasi.
Obat ini dapat digunakan untuk membantu meredakan berbagai keluhan nyeri ringan hingga sedang, seperti sakit kepala, nyeri otot, sakit gigi, nyeri punggung, dan nyeri saat menstruasi.
Menurut U.S. Food and Drug Administration (FDA), ibuprofen bekerja dengan menghentikan produksi zat yang menimbulkan rasa sakit. Secara lebih spesifik, zat yang dihambat adalah enzim cyclooxygenase (COX-1 dan COX-2).
Enzim tersebut berperan dalam pembentukan prostaglandin, yaitu senyawa yang terlibat dalam proses peradangan dan dapat membuat saraf lebih sensitif terhadap rasa sakit. Dengan menghambat COX, produksi prostaglandin berkurang sehingga respons nyeri dan peradangan juga dapat ditekan.
Apakah Ibuprofen Aman untuk Ibu Hamil?

Obat dengan kandungan ibuprofen banyak beredar di pasaran dalam berbagai bentuk dan merek, mulai dari bentuk tablet hingga kapsul. Meski ampuh untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri, ibu hamil harus berhati-hati dengan obat yang satu ini.
FDA tidak merekomendasikan penggunaan obat-obatan golongan NSAID, termasuk ibuprofen untuk ibu hamil, terutama jika kehamilannya sudah memasuki minggu ke-20. Alasannya, penggunaan ibuprofen dikhawatirkan bisa menimbulkan beberapa risiko pada janin.
Risiko Cacat Lahir
Hal ini diteliti dalam banyak studi, salah satunya dalam jurnal bertajuk Pregnancy Outcomes and Birth Defects in Offspring Following Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs Exposure During Pregnancy: A Systematic Review and Meta-Analysis oleh Xiaohong Chen dkk.Studi ini dilakukan untuk mengetahui apakah paparan NSAID selama kehamilan berkaitan dengan risiko masalah pada kehamilan dan kelainan bawaan pada bayi. NSAID yang dibahas mencakup berbagai obat, termasuk ibuprofen.
Hasil studi menunjukkan bahwa bayi yang terpapar NSAID pada awal kehamilan memiliki risiko 28% lebih tinggi mengalami kelainan bawaan secara keseluruhan, dan 19% lebih tinggi mengalami kelainan bawaan mayor.
Risiko Lahir Prematur dan Keguguran
Merujuk pada studi Xiaohong Chen dkk., penggunaan NSAID selama kehamilan juga memberikan dampak negatif berupa peningkatan risiko kelahiran prematur.Tak hanya itu, studi yang sama juga menunjukkan tren ke arah peningkatan risiko keguguran pada wanita yang mengonsumsi NSAID selama kehamilan. Namun, secara statistik hubungan tersebut tidak signifikan sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut.
Di sisi lain, keguguran sendiri bisa disebabkan oleh banyak faktor sehingga sulit untuk mengetahui penyebab pasti keguguran, apakah karena obat, kondisi medis yang sedang diobati, atau faktor lainnya.
Namun, demi keamanan dan kehati-hatian, ibu hamil tetap dianjurkan untuk tidak mengonsumsi ibuprofen.

Risiko Gangguan Perkembangan Ovarium Janin Perempuan
Sebuah studi berjudul Ibuprofen is Deleterious for the Development of First Trimester Human Fetal Ovary Ex Vivo dilakukan untuk mengetahui apakah ibuprofen dapat memengaruhi perkembangan ovarium janin perempuan pada trimester pertama.Penelitian ini berfokus pada perubahan jumlah sel, perkembangbiakan sel, kematian sel, serta jumlah sel germinal, yaitu sel yang nantinya berkembang menjadi sel telur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan ibuprofen pada konsentrasi tertentu dapat mengganggu perkembangan jaringan ovarium janin. Peneliti menemukan berkurangnya perkembangbiakan sel, meningkatnya kematian sel, serta penurunan jumlah sel germinal.
Gangguan pada perkembangan ovarium serta penurunan sel germinal pada masa janin berpotensi mengurangi cadangan telur wanita saat ia dewasa. Meski belum bisa dipastikan, hal ini tetap dikhawatirkan menimbulkan gangguan kesuburan pada anak perempuan ketika dewasa.
Risiko Lain pada Janin
Mengutip dari laman National Library of Medicine, penggunaan NSAID seperti ibuprofen pada paruh kedua kehamilan dilaporkan dapat memengaruhi fungsi ginjal janin dan mengurangi jumlah cairan ketuban.Kondisi ini disebut oligohidramnion dan dapat menyebabkan komplikasi, seperti perkembangan paru-paru yang kurang optimal, kekakuan sendi, hingga meningkatkan kemungkinan persalinan lebih awal. Pada kondisi yang lebih berat, kekurangan cairan ketuban bisa menyebabkan kematian janin.
Penggunaan ibuprofen pada kehamilan lanjut juga berisiko menyebabkan penutupan dini ductus arteriosus, yaitu saluran penting dalam sistem peredaran darah janin. Jika saluran ini menutup sebelum waktunya, terjadi tekanan darah tinggi di paru-paru janin (hipertensi pulmonal).
Dengan berbagai risiko di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anggapan ibuprofen aman untuk ibu hamil adalah tidak benar. Sebaliknya, obat yang satu ini sebaiknya dihindari dan tidak diminum sembarangan, kecuali memang direkomendasikan atau diresepkan secara khusus oleh dokter kandungan.
Rekomendasi Obat Pereda Nyeri yang Aman untuk Ibu Hamil

Menurut situs WebMD dan FDA, obat nyeri ibu hamil yang dianggap aman adalah acetaminophen atau yang juga dikenal dengan nama paracetamol. Acetaminophen merupakan obat yang sering digunakan untuk meredakan nyeri sementara dan bisa menurunkan demam.
FDA menjelaskan bahwa obat ini aman dan efektif jika digunakan sesuai petunjuk, tapi pengguna tetap perlu memperhatikan dosisnya karena konsumsi yang berlebihan bisa menyebabkan kerusakan hati yang cukup serius.
Terkait kehamilan, FDA menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat bahwa penggunaan acetaminophen (dengan dosis yang tepat) bisa menyebabkan masalah pada kehamilan, kelahiran, maupun perkembangan atau perilaku anak di kemudian hari.
Meski demikian, ibu hamil tetap dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengonsumsi obat apa pun, termasuk acetaminophen.
Di Indonesia, ada beberapa merek obat acetaminophen atau yang mengandung paracetamol, berikut beberapa di antaranya:
1. Panadol Reguler (Biru)
Panadol kemasan biru merupakan obat berbentul kaplet yang setiap kapletnya mengandung 500 mg paracetamol. Obat ini bisa digunakan untuk meredakan rasa sakit, mulai dari sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot, hingga menurunkan demam akibat flu maupun demam sesudah vaksinasi.Dosis :
- Dewasa dan anak-anak ≥ 12 tahun: 1–2 kaplet, 3–4 kali sehari. Konsumsi obat tidak boleh melebihi 8 kaplet dalam sehari (24 jam).
- Anak-anak 6–11 tahun : ½–1 kaplet, 3–4 kali sehari. Konsumsi obat tidak boleh melebihi 4 kaplet dalam sehari (24 jam).
2. Sanmol (Tablet)
Sanmol juga termasuk obat yang mengandung paracetamol. Setiap tabletnya mengandung 500 mg paracetamol yang dapat digunakan untuk meringankan rasa sakit akibat sakit kepala, sakit gigi, dan dapat menurunkan demam.Dosis:
- Anak 6–12 tahun: ½–1 tablet (3–4x sehari)
- Dewasa: 1 tablet (3–4x sehari)
- Atau sesuai petunjuk dokter (termasuk ibu hamil, konsultasikan dengan dokter terlebih dulu)
3. Biogesic
Biogesic hadir dalam bentuk tablet yang setiap tabletnya mengandung 500 mg paracetamol. Obat ini dapat dikonsumsi untuk menurunkan demam sekaligus meredakan rasa sakit yang muncul akibat sakit kepala maupun sakit gigi.Dosis:
- Dewasa: 1–2 tablet (3–4x sehari)
- Anak 6–12 tahun: ½–1 tablet (3–4x sehari)
- Atau sesuai petunjuk dokter (termasuk ibu hamil, konsultasikan dengan dokter terlebih dulu)
Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































