tirto.id - PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) berencana mempercepat pelepasan aset properti noninti untuk memperkuat struktur keuangan dan mendukung kinerja operasional di tahun depan.
Presiden Direktur HERO, Hadrianus Wahyu Trikusumo mengungkapkan masih ada delapan lokasi aset tanah dan bangunan eks operasional yang akan dijual di 2026.
Ia menjelaskan, aset properti yang dimaksud adalah bekas operasional jaringan Giant Hypermarket atau Giant Supermarket Express yang kini menganggur.
"Karena itu kosong, tidak ada yang nyewa juga, jadi daripada ada maintenance cost yang cukup besar, akhirnya kita coba untuk ketemu dengan beberapa buyer dan kita jual kalau memang cocok," ujar Hadrianus dalam Public Expose di Tangerang, Selasa (9/12/2025).
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari strategi sebelumnya, setelah perseroan menyelesaikan penjualan dua aset properti pada 2025 lalu yang berkontribusi pada laba bersih perseroan.
“Ke depannya ada beberapa lagi memang yang masih belum ada transaksi, masih kita cari pembelinya. Jadi kalau ditanya jumlahnya ada delapan lagi. Delapan lokasi lagi yang on sale. Kita rencanakan secepatnya. Karena ini sudah Desember, mungkin tahun depan," jelasnya.
Meski tidak memperinci nilai total kedelapan aset tersebut, Hadrianus mengungkapkan prinsip penjualan mengikuti harga pasar. "Yang jelas kita selalu jual on market price," tegasnya.
Ia menambahkan, untuk kondisi ekonomi saat ini tak mudah menjual aset dengan nilai yang besar. Pembeli biasanya berada pada segmentasi yang sama.
“Kebanyakan yang membeli dari kita langsung dioperasikan untuk bisnisnya mereka juga. Seperti bisnis properti dan retail juga,” ucapnya.
Adapun, langkah divestasi aset ini sebelumnya telah memberikan kontribusi signifikan pada laba bersih perseroan. Tercatat pada kuartal III-2024 laba bersih mencapai Rp184 miliar.
Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laba bersih kuartal III-2025 yang sebesar Rp70 miliar atau turun 62 persen. Hal ini lantaran di 2025 tidak ada keuntungan sekali waktu atau one-off dari penjualan aset.
Namun, kinerja operasional inti justru menunjukkan perbaikan. Laba dari operasi yang berkelanjutan melonjak 46 persen menjadi Rp35 miliar, didorong perbaikan profitabilitas di bisnis Guardian dan IKEA. Pendapatan bersih juga tumbuh 4 persen menjadi Rp3,5 triliun.
"Untuk one-off itu memang tadi terkait dengan properti. Kalau kita melihat dari yang operasional, labanya itu Rp35 miliar. Dan kalau dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, perbaikannya 46 persen lebih baik di tahun ini. Jadi itu pencapaian di luar one-off-nya," jelas Direktur Keuangan HERO, Paulus Raharja.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































