25 Juli 1947

Hasyim Asy'ari: Mahaguru Pemahat Kemerdekaan Indonesia

Oleh: Fariz Alniezar - 25 Juli 2018
Dibaca Normal 4 menit
Hati nan jernih.
Mencintai negara
tiada pamrih.
tirto.id - Matahari mulai merangkak ketika dua orang sepuh terlibat dalam sebuah percakapan serius. Keduanya sesekali saling bertukar anggukan, mengiyakan satu sama lain. Mereka beradu pandang, membicarakan topik menarik sekaligus merencanakan sesuatu: berangkat ke Jombang. Keduanya akan bertemu dengan beberapa sosok yang memiliki rencana serupa: ngaji påsånan di bekas murid mereka yang kini mengasuh pesantren di Tebuireng, sebuah daerah di selatan kota Jombang.

Berita kemonceran dan kealiman sang murid menyebar secara gèthuk tinular dan menjadi perbincangan di mana-mana, termasuk sampai juga ke telinga para kiai sepuh yang dulu pernah mengajar sang murid.

Sang Murid mula-mula menolak permintaan mereka. Rasa sungkan dan tawaduk yang tinggi menjadi alasan mengapa ia tidak mau melakukan hal yang dianggapnya tidak wajar itu. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya para kiai tersebut diterima untuk ngaji påsånan di Pesantren Tebuireng dengan dua syarat: tidak boleh memanggil tuan rumah dengan kiai dan tidak boleh bersusah payah untuk memasak juga mencuci pakaian. Tuan rumah menyiapkan santri senior untuk melayani kiai-kiai sepuh itu.

Sekali malam, di tengah temaram cahaya, salah satu kiai sepuh terbangun ketika mendapati ada seorang lelaki yang menyelinap masuk kamar-kamar dan mengumpulkan baju kotor. Dengan memanggul rasa penasaran, kiai sepuh mengikuti lelaki itu.

Kiai sepuh membuntuti, setapak demi setapak, dengan sangat hati-hati. Lelaki misterius itu, di tengah dinginnya malam, menuju tempat pencucian baju. Lelaki itu mencuci baju yang ia kumpulkan. Sang kiai sepuh mendekati dan ia merasa lebih jelas mengenal sosok tersebut. Lelaki itu mirip dengan tuan rumah.

Dengan sikap penuh kehati-hatian, sang kiai memberanikan diri untuk lebih mendekat. Ketika kehadirannya dirasakan lelaki itu, sang kiai sepuh terkesiap. Lelaki itu membalikkan badan, mata mereka saling beradu pandang. Air mata menetes di antara keduanya. Mereka berpelukan. Sosok lelaki pencuci baju itu adalah K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, sang tuan rumah.

Hasyim Asy’ari mencuci sendiri baju-baju kotor milik gurunya. Rasa tawaduk yang demikian besar telah menggerakkan hatinya.


Semukabalah dengan kisah di atas, bertahun-tahun sebelumnya, sekali tempo K.H. Kholil Bangkalan dirundung kegusaran. Kiai Hasyim, yang kala itu masih nyantri di pesantren Syaikhona Kholil, mengetahuinya. Dengan penuh kehati-hatian, Kiai Hasyim menanyakan apa gerangan penyebab kegusaran hati sang guru. Syaikhona Kholil bercerita bahwa cincin istrinya nyemplung di kakus.

Mendengar itu, secepat kilat Kiai Hasyim bersijingkat masuk ke dalam kakus (septic tank) untuk mencari cincin istri Syaikhona Kholil. Upayanya berhasil. Cincin tersebut bisa ditemukan kembali. Rasa takzim berbalur ketulusan hati menjadi landasan kuat tindakan nekat itu.


Dua cerita di atas merupakan mata air keteladanan yang secara turun temurun diceritakan di kalangan santri. Keteladanan barangkali adalah kosa kata kunci yang menjadi peninggalan Kiai Hasyim.

Muhammad Hasyim Asy'ari dilahirkan di Jombang pada 14 Februari 1871. Ia merupakan putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya, Kiai Asy’ari, adalah seorang ulama asal Demak. Sementara ibunya, Nyai Halimah, merupakan putri dari Kiai Usman pemilik pesantren Gedang, Jombang. Sebagai santri dengan reputasi keilmuan yang moncer, Kiai Asy’ari diambil menantu oleh Kiai Usman.


Santri Pelancong

Sebagaimana tradisi orang-orang pesantren, Kiai Hasyim merupakan pengelana ilmu yang tekun. Ia bukan hanya singgah dari satu pesantren ke pesantren lain; lebih dari itu, ia bergumul dan berdialog secara intens dengan masyarakat di setiap tempat yang disinggahinya. Dalam tradisi santri, laku demikian akan membawa ilmu yang didapatnya mendarah daging.

Tercatat setelah digembleng pendidikan agama oleh ayahnya, Kiai Hasyim muda bergegas memulai petualangan keilmuannya ke Pesantren Wonorejo, Jombang. Kemudian lanjut ke Pesantren Wonokoyo, Probolinggo.

Dari Probolinggo, Kiai Hasyim muda beranjak ke Pesantren Langitan, Widang, Tuban, lalu hijrah ke Pesantren Kademangan di Bangkalan yang diasuh ulama karismatik Syaikhona Kholil. Kiai Hasyim muda menghabiskan waktu tiga tahun di Bangkalan sebelum akhirnya bergegas ke Pesantren Siwalan Panji asuhan Kiai Ya’qub.

Setelah lama berkelana dan melancong dari satu pesantren ke pesantren yang lain di Jawa dan Madura, Kiai Hasyim meneruskan pengembaraannya ke Mekkah. Ulama-ulama beken seperti Syekh Mahfud Termas, Syekh Syuaib bin Abdurrahman, Syekh Khatib Minangkabau, Syekh Said Al-Yamani, Syekh Bafadhal, Syekh Rahmatullah, dan Syekh Abu Bakar Syattå Dimayathi penganggit kitab Iānatut thālibin menjadi guru Kiai Hasyim di Tanah Suci.

Bahkan, karena kapasitas keilmuannya, Kiai Hasyim ditunjuk sebagai salah satu pengajar di Masjidil Haram. Sejumlah ulama kenamaan dari pelbagai penjuru dunia pernah nyantri kepada Kiai Hasyim, antara lain: Syekh Umar Hamdan (Mekkah), Syekh Sihab Ahmad bin Abdullah (Suriah), Syekh Sa’dullah Maimani (India), K.H.R. Asnawi (Kudus), K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri (Jombang).



Kiai yang Nasionalis

Greg Fealy dalam Ulama and Politics In Indonesia: a History of Nahdlatul Ulama 1952-1967 (2003: 34-35) mengatakan, sosok Kiai Hasyim bersama Kiai Wahab Hasbullah merupakan kunci utama pendirian Nahdlatul Ulama. Keduanya memiliki peran yang sama-sama tidak bisa dinegasikan dalam sejarah pendirian ormas terbesar di Indonesia tersebut. Jika Kiai Wahab memasok seperangkat konsep dan keterampilan organisasi, maka Kiai Hasyim bertugas memberikan stempel basah, justifikasi, dan legitimasi teologis.


Abdul Aziz Masyhuri dalam Al-Maghfurlah KH. M. Bisri Syansuri: Cita-cita dan Pengabdiannya (1983: 131-132) mencatat bahwa Kiai Hasyim pada mulanya enggan menghadiri pertemuan para ulama pada 31 Januari 1926 di kediaman Kiai Wahab di Kertopaten, Surabaya. Kiai Hasyim bersedia setelah Kiai Wahab memerintahkan Kiai Bisri Syansuri untuk mengawalnya ke Surabaya.

Sementara menurut Muhammad Sulton Fatoni dalam Buku Pintar Islam Nusantara (2017), para kiai meminta Kiai Hasyim memimpin langsung pertemuan yang setidaknya menghasilkan tiga keputusan penting.

Pertama, membentuk organisasi Nahdlatul Ulama. Kedua, menunjuk K.H.R. Asnawi untuk berangkat ke Hijaz dan menyampaikan pandangan para kiai yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama. Ketiga, menyampaikan gagasan dan pandangan Nahdlatul Ulama terkait isu kebebasan bermazhab (hlm. 57).



Infografik Mozaik Muhammad Hasyim Asyari


Melalui Nahdlatul Ulama, selain memiliki agenda penting untuk merespon gerakan wahabisme dan puritanisasi yang semakin merebak, Kiai Hasyim juga memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Dengan landasan kecintaan terhadap tanah air, Kiai Hasyim menolak segala bentuk penjajahan meski dengan strategi yang, menurut Greg Fealy, terkesan akomodatif dan kompromistis terhadap penjajah.

Dari tangan dingin Kiai Hasyim pula, lahir fatwa jihad pada 11 September 1945 yang menyatakan:
  1. Hoekoemnya memerangi orang kafir jang merintangi kepada kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardoe ain bagi tiap orang Islam jang moengkin meskipun orang fakir.
  2. Hoekoemnya orang jang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta komplot nja adalah sjahid.
  3. Hoekoemnya orang jang memetjahkan persatoean kita sekarang ini wadjib diboenoeh dalam peperangan melawan NICA serta komplot nja adalah sjahid.
Fatwa tersebut kemudian langsung ditindaklanjuti oleh Nahdlatul Ulama dengan mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad di Surabaya pada 22 Oktober 1945. Pada Muktamar ke-16 NU di Purwokerto 29 Maret 1946, fatwa tersebut diperkuat lewat keputusan muktamar dan NU menyerukan berjihad melawan penjajah dengan semangat perang rakyat semesta.


Atas pelbagai fakta itu, Muhammad Asad Syahab menulis opus bertajuk Allāmah Muhammad Hasyim Asy’ari wādhiu Libnati Istiqlāli Indonesia (1971). Dalam buku tersebut diterangkan betapa peran Kiai Hasyim demikian besar dalam memperjuangkan kemerdekaan sehingga ia layak diberi gelar sebagai peletak dasar kemerdekaan Indonesia.

Selain gigih berjuang, Kiai Hasyim juga cerkas dalam menulis. Sejumlah kitab anggitannya antara lain Adābul Alim wal Mutaalim, Risālah Ahlussunnah wal jamāah, At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqātha’atil Arham Wal Aqārib Wal Ikhwan, An-Nūrul Mubīn Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, Ziyādatut Ta'liqot, At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna' Al-Maulid Bil Munkarāt, dan Dhou'ul Misbah Fi Bayāni Ahkamin Nikah.

Kiai Hasyim aktif pula menuangkan gagasannya di pelbagai media massa seperti majalah Soeara Moeslimin Indonesia (Masyumi), Berita NO, Soeloeh NO, dan Swara NO.


Kiai Hasyim meninggal dunia pada 25 Juli 1947, tepat hari ini 71 tahun lalu, di usia 76. Karena kealiman dan penguasaan yang mendalam atas kitab-kitab babon hadis Kutubus Sittah, ia diberi gelar "hadratussyaikh" (mahaguru) sejak dari Mekkah. Satunya perkataan dengan perbuatan adalah warisan utama Kiai Hasyim bagi kita semua hari ini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Fariz Alniezar
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fariz Alniezar
Editor: Ivan Aulia Ahsan
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live