Sejarah Indonesia

Hasil Kebudayaan Pacitan: Sejarah, Ciri-ciri, Contoh, & Persebaran

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 26 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah mencatat, von Koenigswald menemukan hasil peradaban masa praaksara yang kemudian dikenal sebagai Kebudayaan Pacitan.
tirto.id - Sejarah mencatat, seorang peneliti bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald menemukan beberapa hasil peradaban masa praaksara berupa bebatuan atau alat-alat dari batu. Penemuan ini kemudian dikenal sebagai Kebudayaan Pacitan.

Penemuan tersebut terjadi tahun 1935 di Sungai Baksooka, kini termasuk Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Bagi para ilmuwan sejarah, Pacitan dijuluki ibu kota prasejarah dunia. Tidak kurang dari 261 titik situs ditemukan di kawasan ini.

Ciri-ciri Kebudayaan Pacitan yaitu alat-alat batu yang masih kasar dan bentuk sedikit lancip pada ujungnya. Contoh alat Kebudayaan Pacitan yaitu kapak genggam dan kapak perimbas.

Manusia purba pendukung Kebudayaan Pacitan yaitu keturunan jenis Pithecanthropus dan Homo Erectus.

Hasil kebudayaan yang berasal dari peradaban yang sama dengan Kebudayaan Pacitan tersebar di wilayah Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, hingga Timor.


Ciri-ciri & Contoh Hasil Kebudayaan Pacitan

Dikutip dari buku Sejarah Indonesia Kelas X (2014:51), para ahli berpendapat bahwa Kebudayaan Pacitan berasal dari akhir zaman Pleistosen Tengah atau awal permulaan Pleistosen Akhir.

Manusia purba muncul pertama kali pada zaman Paleolitikum atau Zaman Batu Tua yang dimulai sekitar 3,3 juta tahun yang lalu hingga Pleistosen Akhir sekitar 11.650 tahun yang lalu.

Hasil kebudayaan zaman Paleolitikum adalah alat-alat sederhana yang terbuat dari batu yang kasar. Peradaban atau hasil budaya zaman Paleolitikum ini dibagi menjadi dua yaitu Kebudayaan Pacitan dan Kebudayaan Ngandong.


Pacitan merupakan salah satu kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur dan berbatasan dengan Jawa Tengah di sisi baratnya. Diperkirakan, pada zaman purba, aliran Sungai Bengawan Solo bermuara di pantai Pacitan yakni Samudera Hindia.

Di Pacitan, ditemukan alat-alat yang diduga berasal dari zaman Paleolitikum, yakni berupa perkakas yang terbuat dari tulang hewan maupun dari batu seperti kapak genggam (chopper) dan kapak perimbas. Ditemukan juga alat-alat serpih (flake) yang berbentuk kecil.

1. Alat-alat

Ciri-ciri Kebudayaan Pacitan yaitu alat-alat batu yang masih kasar dan bentuk sedikit lancip pada ujungnya. Contoh alat Kebudayaan Pacitan yakni kapak genggam dan kapak perimbas.

Kapak genggam dan perimbas digunakan untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian. Ditemukan juga chopper sebagai alat penetak dan alat-alat serpih.


2. Manusia Purba

Dikutip dari modul Sejarah Indonesia Kelas X oleh Veni Rosfenti (2014:4), hasil penelitian menyatakan bahwa kapak genggam dan chopper digunakan oleh Homo Erectus.

Para ahli berpendapat bahwa jenis Pithecanthropus atau keturunannya adalah pencipta budaya Pacitan. Penelitian ini didukung dengan umur budaya Pacitan yaitu pada zaman awal permulaan Pleistosen Akhir.

3. Nomaden dan Berburu

Pada Kebudayaan Pacitan, pola kehidupan manusia purba masih berburu, mengumpulkan makanan, dan berpindah-pindah tempat tinggal (nomaden).


Persebaran Kebudayaan Pacitan

Punung, kini salah satu kecamatan di Kabupaten Pacitan, merupakan daerah yang banyak ditemukan kapak perimbas. Di sinilah lokasi penemuan penting untuk menguak kehidupan masa praaksara di Jawa atau di Indonesia pada umumnya.

Seorang peneliti bernama Hallam L. Movius menyatakan bahwa temuan di Punung sebagai salah satu corak perkembangan kapak perimbas di Asia Timur.

Kebudayaan yang berasal dari peradaban yang sama dengan Kebudayaan Pacitan banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dikutip dari buku Sejarah Indonesia Kelas X (2014:51), penemuan yang serupa dengan Kebudayaan Pacitan tersebar di Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Bali, hingga kawasan Timor.


Baca juga artikel terkait ZAMAN PRAAKSARA atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight