Seri Masjid Nusantara

Sejarah Masjid Agung Demak: Pendiri, Ciri Arsitektur, & Keunikan

Oleh: Syamsul Dwi Maarif - 23 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah Masjid Agung Demak didirikan pada akhir abad ke-15 Masehi, pendirinya adalah Raden Patah.
tirto.id - Sejarah Masjid Agung Demak didirikan pada akhir abad ke-15 Masehi. Pendirinya adalah Raden Patah yang merupakan pangeran Majapahit sekaligus pemimpin pertama Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa.

Terkait tahun pendirian Masjid Agung Demak terdapat banyak versi. Raden Patah mendirikan salah satu masjid tertua di Jawa Tengah ini dengan bantuan Walisongo yang kala itu tengah menyebarkan dakwah Islam.

Masjid Agung Demak berdiri ketika Islam mulai berkembang di Jawa seiring keruntuhan Majapahit yang pernah menjadi kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Jawa, bahkan di Nusantara.

Maka tidak mengherankan jika arsitektur Masjid Agung Demak mengandung unsur akulturasi budaya lokal Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam dari Arab.

Sejarah & Pendiri Masjid Agung Demak

Dikutip dari laman Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Masjid Agung Demak dibangun oleh Raden Patah bersama Walisongo pada abad ke-15 Masehi. Letaknya di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Muhammad Zaki dalam risetnya bertajuk "Kearifan Lokal Jawa pada Wujud Bentuk dan Ruang Arsitektur Tradisional Jawa" (2017) menyebutkan, pendirian Masjid Agung Demak terbagi dalam tiga tahap pembangunan.

Tahap pertama adalah tahun 1466 M. Kala itu masjid masih berupa bangunan Pondok Glagah Wangi asuhan Sunan Ampel dan Raden Patah.

Tahap kedua, tahun 1477 M, masjid dibangun kembali menjadi Masjid Kadipaten Glagah Wangi Demak. Tahap ketiga dilakukan pada 1478 M, bertepatan dengan diangkatnya Raden Patah menjadi sultan sehingga masjid direnovasi.


Ada beberapa beberapa versi tahun pembangunan Masjid Agung Demak, yakni sebagai berikut:

1. Menurut Babad Tanah Jawi

Dikutip dari Babad Tanah Jawi suntingan W.L. Olthof (2017), Masjid Agung Demak didirikan pada akhir adab ke-15 M. Sunan Ampel membimbing daerah sekitar Demak menjadi pusat pengajaran agama Islam.

Pada dekade 1470-an Masehi, Raden Patah menemui Sunan Ampel. Versi babad menyebutkan, Raden Patah adalah putra Brawijaya V (1478-1498), Raja Majapahit terakhir, dari istri seorang perempuan asal Cina bernama Siu Ban Ci.

Raden Patah kemudian masuk Islam, menetap, dan membantu Sunan Ampel menyebarkan Islam.

2. Babad Demak

Menurut Babad Demak, Masjid Demak didirikan pada tahun 1399 Saka (1477 M) ditandai dengan Candrasengkala “Lawang Trus Gunaning Janma”.


3. Candrasengkala

Agus Maryanto dan Zaimul Azzah dalam Masjid Agung Demak (2012) menelisik sejarah berdirinya Masjid Agung Demak dari candrasengkala.

Candrasengka adalah susunan kata atau lukisan (sengkalan) yang menunjukkan angka tahun atau kronogram

Berdasarkan candrasengkala yang terdapat pada mihrab (tempat imam sholat) bergambar kura-kura, terdapat lambang tahun 1401 Saka (1479 M) yang diperkirakan sebagai tahun pembangunan Masjid Agung Demak.

4. Lawang Bledek

Lawang Bledek adalah pintu utama Masjid Agung Demak. Di hiasan pintu ini terdapat candrasengkala berbunyi “haga mulat salira wani”.

Dari sini kemudian ditarik kesimpulan bahwa peletakan batu pertama oleh Raden Patah dilakukan pada 1477 M. Tahun 1479 M, Masjid Agung Demak beralih dari masjid kademangan menjadi masjid kesultanan dan baru diresmikan pada 1506 M.



Ciri Arsitektur dan Keunikan

Dikutip dari buku Sejarah 2 Kelas XI oleh Sardiman (2008), Masjid Agung Demak didirikan ketika Islam mulai berkembang di Jawa.

Maka, Masjid Agung Demak membawa akulturasi budaya lokal Jawa, Hindu-Budha, dan Islam yang menjiad ciri khas sekaligus keunikan arsitektur bangunannya, di antaranya adalah:

  • Atap tumpang mirip punden berundak, menunjukkan hasil budaya lokal prasejarah di Indonesia.
  • Atap tumpang ganjil, sama dengan tingkat bangunan pura Hindu berjumlah 3-11 tingkat. Selain itu, bentuk meru segitiga sebagai lambang persemayaman dewa dalam kepercayaan Hindu.
  • Budaya Islam dilihat dari fungsinya sebagai tempat ibadah umat Islam dan beberapa ornamen yang disematkan.

Dikutip dari buku Masjid Agung Demak oleh Agus Maryanto dan Zaimul Azzah (2012), masjid-masjid kuno seperti Masjid Agung Demak memiliki ciri-ciri bangunan sebagai berikut:

  • Memiliki Pagar keliling
  • Ruang utama berdiri pada fondasi berdenah bujur sangkar
  • Memiliki serambi dan kolam depan atau kanan-kiri.
  • Mempunyai mihrab atau tempat berdirinya imam sholat.
  • Mempunyai pawestren atau tempat Jemaah wanita
  • Beratap tumpang dengan puncak mustaka.


Artikel dalam laman Dinas Pariwisata Kabupaten Demak menyebutkan, atap Masjid Agung Demak berbentuk limas bersusun tiga yang mengambarkan akidah Islam yaitu, Iman, Islam, dan Ihsan.

Tiang utama masjid atau saka guru dibuat Walisongo. Sebelah barat laut oleh Sunan Bonang, barat daya oleh Sunan Gunungjati, tenggara oleh Sunan Ampel dan timur laut oleh Sunan Kalijaga.

Pintu masjid berjumlah lima berarti Rukun Islam. Jendela berjumlah enam buah bermakna Rukun Iman.

Serambi Masjid Demak berukuran 30x17 meter, berupa ruang terbuka dengan atap berbentuk limas. Serambi berfungsi sebagai tempat sholat, pertemuan, musyawarah atau acara keagamaan.

Tiang serambi memiliki 8 tiang utama berpenampang bujur sangkar terbuat dari kayu jati berukir dan 24 buah pilar berpenampang lintang bujur sangkar terbuat dari bata berspasi. Dua pertiga Saka dipenuhi ukuran motif daun sulur dan motif tumpal.


Baca juga artikel terkait MASJID AGUNG DEMAK atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight