tirto.id - Harga minyak turun ke level terendah sejak Maret 2026 pada perdagangan Senin (15/6/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang serta membuka kembali arus pelayaran melalui Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent turun sebesar US$3,58 atau 4,10 persen menjadi US$83,75 per barel pada pukul 00.04 waktu setempat. Sedangkan, minyak mentah acuan Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) Amerika melemah US$4,01 atau 4,72 persen ke level US$80,87 per barel.
Sebelumnya, pada perdagangan Jumat (12/6/2026), kedua kontrak minyak acuan tersebut juga telah merosot lebih dari 3 persen.
Sementara itu, menurut Perdana Menteri Pakistan yang selama ini menjadi mediator dalam perundingan kedua negara, AS dan Iran dijadwalkan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada Jumat mendatang.
Menyusul kabar tersebut, Presiden AS Donald Trump pada Minggu (13/6/2026) menyatakan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya bagi kapal-kapal yang melintas. Dia juga mengatakan bahwa blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan segera dicabut.
Sedangkan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa kesepakatan yang lebih luas akan dirundingkan selama masa gencatan senjata selama 60 hari.
Di sisi lain, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa draf kesepakatan tersebut mengatur pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari, dengan mekanisme pelaksanaannya berada di bawah pengaturan Iran.
"Premi risiko geopolitik yang sebelumnya telah mendorong kenaikan harga minyak mentah kini mulai terkikis dengan cukup agresif, seiring para pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan pulihnya kembali arus pasokan minyak global,” kata Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer.
"Dengan mulai muncul prospek pemulihan arus pasokan minyak, para trader bergegas mengurangi premi risiko geopolitik yang selama ini melekat pada harga minyak mentah," imbuhnya.
Selama lebih dari tiga bulan, dunia kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas akibat perang yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan titik sempit (chokepoint) yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global.
Investor kini memantau secara hati-hati kecepatan pemulihan produksi dan ekspor minyak negara-negara Timur Tengah setelah infrastruktur energi di kawasan tersebut terdampak perang. Pelaku pasar juga memperhatikan apakah lalu lintas kapal di kawasan itu akan kembali meningkat.
"Meski berbagai ketidakpastian ini mengindikasikan adanya risiko kenaikan terhadap proyeksi kami bahwa kontrak berjangka Brent akan mencapai US$80 per barel pada akhir tahun, perlu dicatat bahwa arus minyak melalui Selat Hormuz hanya perlu pulih hingga sekitar 60–70 persen dari tingkat sebelum perang untuk mengembalikan pasar minyak ke kondisi kelebihan pasokan seperti yang diperkirakan sebelum konflik terjadi," tulis Vivek Dhar, ahli strategi komoditas di Commonwealth Bank of Australia, dalam sebuah catatan riset.
Sementara itu, negara-negara E4, yang terdiri dari Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, menyatakan pada Minggu bahwa mereka siap mencabut sanksi terhadap Iran sebagai respons atas langkah-langkah yang diambil Teheran terkait program nuklirnya.
"Melihat masih adanya ketidakpastian terkait putaran negosiasi berikutnya dalam 60 hari ke depan, terutama yang menyangkut isu nuklir, sulit membayangkan harga minyak mentah akan turun jauh lebih dalam dari level saat ini dalam waktu dekat," kata analis pasar IG, Tony Sycamore.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





































