Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Melesat ke US$107 Imbas Serangan Houthi

Imbas serangan Houthi dan ketegangan di Selat Hormuz, Arab Saudi tutup jalur pipa utama. Pasokan global terancam, harga minyak melonjak.

Harga Minyak Dunia Melesat ke US$107 Imbas Serangan Houthi
Citra satelit memperlihatkan kerusakan pada fasilitas pipa Timur-Barat di wilayah Hejaz, Arab Saudi, pada 11 September 2026. 2026 Foto/Planet Labs PBC/Handout via REUTERS.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia melesat lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (14/9/2026), dipicu oleh eskalasi serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan aksi Iran yang menyerang kapal-kapal di Teluk.

Kondisi ini memperburuk kekhawatiran pasar terhadap pasokan global, terlebih setelah jalur pipa minyak utama Arab Saudi berhenti beroperasi.

Mengacu data perdagangan yang dilansir Reuters, kontrak berjangka Brent naik 2,90 dolar AS atau 2,77 persen menjadi 107,51 dolar As per barel pada pukul 23.13 GMT. Senada, kontrak WTI menguat 2,27 dolar AS atau 2,27 persen ke level 102,32 dolar AS per barel. Pada awal pembukaan pasar, harga sempat melonjak lebih dari 3 persen.

Pemerintah Arab Saudi melalui media resminya pada Minggu merilis rekaman video yang menunjukkan kerusakan sejumlah rumah dan sebuah masjid. Riyadh menyebut kerusakan itu akibat serangan Houthi di Provinsi Jazan, wilayah selatan negara tersebut. Pihak Houthi mengklaim turut menyerang sebuah pangkalan militer Saudi di provinsi tetangga.

Di perairan Selat Hormuz, sebuah kapal dilaporkan terkena proyektil hingga memicu kebakaran dan memaksa seluruh awaknya dievakuasi. Informasi ini disampaikan badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, pada Minggu. Sementara itu, Iran melaporkan satu orang tewas dan empat awak kapal terluka dalam serangan terhadap sebuah kapal komersial Iran di lepas pantainya.

Penutupan Jalur Pipa Arab Saudi Ancam Pasokan Global

Sejak awal pekan, pasar memang sudah memperkirakan kenaikan harga minyak seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko pasokan dari Arab Saudi. Negara eksportir minyak terbesar dunia itu terpaksa menutup jalur pipa Timur-Barat pada Jumat lalu akibat serangan drone yang diluncurkan dari Irak.

Hilangnya operasional pipa tersebut menjadi pukulan tersendiri bagi Arab Saudi. Selama ini, jalur itu menjadi alternatif untuk mengalihkan rute ekspor agar tidak melewati Selat Hormuz. Penutupan ini berpotensi mengancam hingga 4 persen dari total pasokan minyak dunia.

Di sisi lain, milisi Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran dilaporkan telah mencapai Pulau Perim yang strategis pada Jumat. Langkah ini memperkuat upaya mereka mengendalikan Selat Bab el-Mandeb, jalur transit minyak penting yang selama beberapa bulan terakhir mengangkut 4-5 persen pasokan global.

Prediksi Harga dan Penundaan Dialog Damai di Oman

Akibat berbagai gangguan tersebut, harga minyak melonjak 8 persen sepanjang pekan dan menembus level 100 dolar AS untuk pertama kalinya sejak Juli.

"Ke depannya, kecuali pembicaraan pekan ini di Oman menghasilkan sesuatu yang operasional, atau jalur pipa Timur-Barat segera diaktifkan kembali, risikonya adalah minyak mentah terus memperpanjang kenaikannya menuju level tertinggi 119,48 dolar AS pada awal Maret," kata analis pasar IG Tony Sycamore dikutip dari Reuters.

Namun, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi melalui platform X pada Minggu malam mengumumkan bahwa pertemuan yang dijadwalkan Senin di Oman antara negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas Selat Hormuz ditunda.

Perlu diketahui, sejak kesepakatan sementara pada Juni runtuh setelah beberapa minggu, tidak ada perundingan damai yang digelar dalam perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel enam bulan lalu.

Baca juga artikel terkait KONFLIK TIMUR TENGAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah